UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ketika Seni Membuat Patung Pianggap Perbuatan Dosa

September 14, 2018

Ketika Seni Membuat Patung Pianggap Perbuatan Dosa

Yaqoob Masih menyimpan patung-patung lamanya di dapur rumahnya di Warispura, Faisalabad, pada 3 September. (Foto: Kamran Chaudhry)

Seorang awam  Katolik Yaqoob Masih merupakan tokoh kontroversial dan penentang di antara banyak tokoh  Kristen di provinsi Punjab karena patung-patung yang dibuatnya.

Bersama keluarganya, pria berusia 53 tahun ini telah membuat aneka patung religi selama empat dekade terakhir ini di Warispura, pinggiran kota Kristen –  Faisalabad, Punjab.

Karya-karyanya laku terjual seperti kacang goreng di empat toko buku yang dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Putri-Putri St. Paulus. Karya-karyanya dapat dilihat di paroki-paroki pedesaan. Namun, bagi banyak orang, ia dianggap sebagai orang berdosa.

“Sayangnya, sebagian besar kritik berasal dari komunitas kami sendiri,” kata Masih kepada ucanews.com.

Banyak imam menasihatinya untuk bertobat dan dibaptis kembali. “Mereka mengatakan saya melakukan penyembahan berhala,” kata Masih, seraya menambahkan iman tidak begitu rapuh sehingga perlu dilindungi dari ancaman.

Muslim konservatif di Pakistan juga melihat patung-patung sebagai serangan budaya dan anti-agama.

Setelah kemerdekaan dari India dan mendirikan negara Pakistan tahun 1947, ibukota Punjab, Lahore, menjadi pusat budaya nasional dan mewarisi banyak monumen bersejarah dan patung-patung kebangsaan Inggris dan India. Namun, hampir semuanya menghilang.

Tantangan

Selama periode Islamisasi penguasa militer Zia-ul-Haq, patung besar Ratu Victoria tahun 1974 dikeluarkan dari pekarangan Majelis Punjab dan diganti Alquran dari  kayu7.

Tahun 1950, patung perunggu Mahatma Gandhi, bapak bangsa India, diturunkan dan dihancurkan  selama kerusuhan di Karachi, ibukota provinsi Sindh.

Demikian juga, Taliban Pakistan melarang perwakilan artistik makhluk hidup atas nama fundamentalisme Islam.

Tahun 2007, kelompok garis keras itu mementaskan gambar Buddha yang diukir pada abad ketujuh di tebing di Lembah Swat,  provinsi Khyber Pakhtunkhwa bagian utara.

Pemerintah awal tahun ini mengembalikan ukiran tersebut, salah satu yang terbesar di Asia Selatan, dengan bantuan para arkeolog Italia.

Tahun lalu, tiga patung Buddha berusia 1.500 tahun ditemukan di tempat  sampah di Museum Nasional di Karachi.

Untungnya, Masih belum menghadapi pertentangan dari Muslim setempat. Ayah dua anak itu telah memesan sebuah kios di luar Gua Maria Nasional di desa Mariamabad, provinsi Punjab yang akan menjadi tempat ziarah Katolik tahunan dari 7-9 September.

Dia berharap untuk mendapatkan keuntungan baik dengan menjual rosario, miniatur gua Maria, salib dan plakat yang ditulis dengan ayat-ayat Alkitab serta patung-patung dari berbagai orang kudus.

Pada musim Natal, palungan bayi dijual dengan harga berkisar hingga lebih dari US $ 240, Masih menjual dengan hanya sekitar setengah harga yang dikenakan oleh toko-toko yang dikelola Gereja.

Membuang patung yang rusak atau hancur menimbulkan tantangan bagi Masih dan yang lainnya. Pakistan memiliki undang-undang penodaan agama yang ketat yang meliputi “kemarahan perasaan keagamman” yang berlaku untuk semua agama dan didenda atau dihukum hingga 10 tahun penjara. Masih harus membuang patung-patung yang tidak diinginkan dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya sisa-sisa yang diinjak-injak, sesuatu yang akan menyebabkan pelanggaran.

Pematung sampai saat ini belum dapat membangun outlet penjualan mandiri sendiri yang permanen. “Saya bergantung pada suster-suster Putri St Paulus untuk menjual patung-patung itu,” katanya.

Gereja-gereja Protestan tidak akan menangani penjualan patung-patung ini, dengan banyak Protestan menuduh Gereja Katolik menyembah berhala, tambahnya.

Tanggapan Gereja

Untuk melawan kritik semacam itu, Komisi Kateketik Konferensi Waligereja India  menggunakan halaman Facebook-nya untuk menciptakan kesadaran dan pemahaman yang lebih besar. “Banyak pastor tidak tahu perbedaan antara patung dan berhala,” salah satu komentar netizen.

Pusat Pendidikan Jeremiah, sebuah asosiasi Katolik yang berpusat di Lahore, mendukung para seniman termasuk melalui pendidikan non-formal untuk anak-anak dari keluarga miskin di daerah kumuh.

Lima orangtua, termasuk janda, sekarang dilatih untuk menghasilkan patung-patung Kristen, keterampilan yang akan membantu mendukung mereka dan tanggungan mereka.

Pusat itu percaya bahwa dengan menciptakan karya-karya rohani  adalah seni  yang perlu dilestarikan untuk generasi mendatang.

 

One response to “Ketika Seni Membuat Patung Pianggap Perbuatan Dosa”

  1. Terima kasih atas infonya sangat bermanfaat, ditunggu info bermanfaat selanjutnya. Jangan lupa kunjungi website kami juga ya di http://himagallery.com/
    semoga sukses selalu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi