UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

INDONESIA – Gereja Dorong Wanita Hamil di Luar Nikah untuk Memilih Pro-life

September 17, 2009

JAKARTA (UCAN) — Ketika larangan aborsi semakin longgar di Indonesia, para pekerja Gereja terus menerus memberikan berbagai solusi yang pro-life terhadap masalah kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), seperti yang telah mereka lakukan selama beberapa dekade ini.

Salah satu solusi itu adalah pelayanan khusus dari Suster-Suster Gembala Baik (RGS), yang memiliki shelter “Villa Shalom” yang telah beroperasi sejak tahun 1948 untuk membantu orang awam Katolik dan bertujuan untuk melakukan perubahan .

Sebelum masa tugas anggota legislatif berakhir pada 1 Oktober, DPR RI telah mengesahkan undang-undang (UU) kesehatan yang telah menjadi perdebatan selama sembilan tahun, demikian menurut “The Jakarta Post.”

Salah satu butir dari undang-undang itu memperbolehkan tindakan aborsi dalam kasus perkosaan atau jika kehamilan membahayakan jiwa sang ibu. Untuk kasus pemerkosaan, tindakan aborsi harus mendapat ijin oleh badan resmi.

Sementara itu, beberapa kelompok yang memperjuangkan hak perempuan telah berkampanye selama beberapa dekade untuk merevisi UU itu. Kelompok-kelompok Katolik juga selalu mendorong para wanita muda yang hamil di luar nikah untuk menerima dan merawat bayi mereka, dan juga memberikan dukungan kepada mereka dan keluarganya.

Berbagai tantangan dan penghargaan terhadap pendekatan ini dibahas dalam lokakarya baru-baru ini di Bintaro. Sekitar 70 peserta dari 12 keuskupan di Indonesia menghadiri acara yang berlangsung pada 28-30 Agustus. Forum Komunikasi Penyayang Kehidupan (FKPK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia mengadakan acara itu.

Salah satu pembicara, Uskup Bogor Mgr Michael Angkur OFM, ketua Komisi Kerasulan Keluarga KWI, menceritakan tentang idealisme seorang wanita dalam membantu wanita-wanita yang hamil di luar nikah.

“Tahun 1994, seorang wanita muda datang kepada saya dan meminta memulai sebuah karya kemanusiaan untuk mendampingi ibu-ibu hamil di luar nikah, menerima anak-anak yang lahir ditinggalkan keluarganya, dan anak titipan dari keluarga tidak mampu,” katanya.

Uskup itu mengakui bahwa saat itu ia merasa pesimis dengan karya kemanusiaan itu. Namun, akhirnya ia memberikan izin untuk menjalankan karya itu.

Wanita itu mendirikan sebuah yayasan, Awam Bina Amal Sejati. Kini yayasan itu memiliki 35 anak didik dan juga menerima dan merawat orang-orang jompo.

“Inilah contoh kegiatan pro-life yang bertumbuh,” kata Uskup Angkur. Ia menambahkan bahwa ia “menghargai dan mendukung semua kelompok atau yayasan” yang mempromosikan gerakan itu.

Para peserta dalam lokakarya itu merekomendasikan bahwa pendidikan seks perlu diajarkan di sekolah-sekolah dan dalam keluarga-keluarga. Mereka sepakat meningkatkan pembinaan iman bagi anak dan remaja, dan memberikan konseling pro-life bagi remaja dan keluarga.

Namun, bantuan konkret seperti yang dilakukan oleh yayasan awam dan Suster-Suster Gembala Baik sangat penting.

Dua Villa Shalom suster itu, satu di Jatinegara, Jakarta, dan satu lainnya di Yogyakarta, menyediakan rumah, dukungan dan konseling, baik spiritual maupun psikologi bagi wanita yang hamil di luar nikah.

Suster Katarina Sri Pamulatsih RGS mengatakan kepada UCA News setelah lokakarya itu bahwa shelter di Jakarta, yang ia pimpin, menampung 15 wanita hamil berusia 16-30 tahun yang berlatar belakang agama Buddha, Katolik, Hindu, Islam dan Protestan. Beberapa dari mereka adalah korban pemerkosaan.

Menurut catatan buku induk, shelter itu telah menampung  915 wanita KTD sejak shelter itu dibuka 61 tahun lalu. Shelter ketiga akan didirikan di Batam, Propinsi Kepulauan Riau.

“Misi kami adalah rekonsiliasi,” kata suster itu, seraya menjelaskan bahwa para wanita itu perlu berekonsiliasi dengan Tuhan dan diri sendiri, serta keluarga mereka juga.

“Kami ingin membantu keluarga sehingga mereka  tidak menganggap kehamilan itu sebagai suatu yang aib,” kata Suster Pamulatsih.

Para wanita miskin bisa ditampung di shelter itu tanpa biaya, sementara yang lain membayar 750.000 rupiah, untuk biaya selama tinggal di tempat itu sampai setelah bayi mereka lahir.

Para suster dan staf rumah sakit Katolik memberikan konseling, dan para pastor memimpin Misa, melayani pengakuan dosa dan memberikan pelayanan pastoral lain. Sementara itu, para wanita itu mengikuti kegiatan olah raga, memasak, mencuci, dan tugas-tugas lainnya.

“Setelah meninggalkan Villa Shalom mereka berkerja menjadi guru, babysitter, pembantu rumah tangga, pegawai, dan melanjutkan sekolah atau kuliah lagi bagi siswi SMA dan SMP, serta mahasiswi,” kata Suster Pamulatsih.

Ia menceritakan tentang seorang siswi berusia 16 tahun yang hamil di luar nikah. Siswi itu dibawa ke Villa Shalom oleh orangtuanya yang stres. Namun, ia menolak menikah dengan pacarnya dan ia juga ingin melakukan aborsi.

Setelah melahirkan, ia diterima kembali di tengah keluarga bersama bayinya dan melanjutkan kembali sekolahnya,. Ia kembali dan berterima kasih kepada para suster itu karena telah menyelamatkan dirinya dan bayinya.

Kisah-kisah seperti itu mendorong para suster dalam misi mereka, kata Suster Pamulatsih. ”Saya berharap lebih banyak orang akan menghormati kehidupan.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi