UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mandiri dengan Credit Union

September 15, 2010

Mandiri dengan Credit Union

Ans Gregory da Iry, pelopor Credit Union Melati

Pada bulan April 1990, kami sekelompok kecil  warga di  Perumnas Depok I, Bogor membentuk sebuah koperasi simpan pinjam yang kami namakan Credit Union Melati.

Kami sengaja menggunakan nama Credit Union, bukan koperasi, karena pada masa itu, koperasi cenderung memberi kesan negatif. Masyarakat tidak percaya dengan koperasi dengan alasan mismanajemen, korupsi dan alat politik pemerintah, dan bukan upaya yang tulus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Waktu itu, koperasi tidak mandiri dan hanya menunggu bantuan dana pemerintah, yang kemudian disalahgunakan oleh pengurus, dan tidak mendatangkan manfaat bagi anggota.

Lalu mengapa Credit Union? Karena Credit Union (CU) yang dijalankan di negara-negara Barat seperti Eropa, Amerika, Kanada dan Australia ternyata telah berhasil menjadi salah satu sokoh guru ekonomi masyarakat yang kokoh, bahkan lebih kokoh daripada industri perbankan.

Dengan prinsip keanggotaan yang bebas dan terbuka bagi semua orang, CU beroperasi dengan prinsip kemandirian seraya menjalankan program-program pendidikan yang terencana dan  berkesinambungan serta wajib diikuti anggota. Dengan demikian CU dapat memiliki pengurus dan anggota-anggota yang baik, yang mengerti benar akan hak dan kewajibannya, dan bertanggungjawab untuk ikut menumbuhkembangkannya.

CU Melati khususnya dan CU pada umumnya hanya mau menerima uang  simpanan dari anggota, dan tidak pernah menerima bantuan atau hibah dalam bentuk uang dari pihak manapun juga.

Inilah sifat kemandirian yang membuat CU bebas dari pengaruh siapapun atau  institusi manapun. Yang berkuasa di CU adalah rapat anggota karena merekalah yang punya CU. Setiap anggota mempunyai hak satu suara tanpa membedakan besarnya nilai uang simpanannya di dalam CU.

Ini merupakan  ciri-ciri pokok CU yang ditaati dan dijalankan dengan serius oleh pengurus dan anggota serta menjadi kekuatan CU yang tidak dimiliki koperasi lain.

Hari jadi CU Melati

Nama Melati sebenarnya diambil dari nama Jl. Melati di kota Depok Lama di mana terletak Gereja Paroki Santo Paulus.

Penggagas dan penggerak  CU Melati sebenarnya adalah Bpk RAY Soesilo, yang  waktu itu bekerja pada sebuah perusahaan swasta nasional yang besar di Jakarta.

CU Melati saat ini

Dalam kedudukan profesionalnya tersebut Pak Soesilo sebenarnya hidup berkecukupan secara finansial, tapi tidak demikian dengan warga  di lingkungan kami, yang sebagian besar dari golongan masyarakat ekonomi menengah bawah seperti PNS, guru, karyawan perusahaan swasta, tukang batu, sopir, maupun janda dan duda yang tidak punya penghasilan tetap.

Rapat pembentukan CU Melati berlangsung pada hari Minggu, 29 April 1990 siang di aula Gereja Santo Herculanus Depok Jaya, dan dihadiri 37 anggota yang semuanya berasal dari Wilayah St. Alfonsus, dimana saya  menjadi ketua wilayah tersebut.

Mereka memilih saya sebagai ketua, dengan alasan saya pernah mengikuti  Pendidikan Dasar Credit Union di Ende, Flores. Meskipun itu terjadi sekitar 18 tahun sebelumnya, dan saya juga sudah lupa akan banyak hal mengenai CU, mereka percaya bahwa dengan memilih saya,  kami bisa bekerja sama membangun CU Melati.

Saya mengikuti Pendidikan Dasar Credit Union yang diberikan oleh dua orang tokoh CU di Indonesia, yaitu Drs. Roby Tulus dan A.G. Lunandi pada tahun 1972.

Setelah itu, kami membentuk Credit Union pertama di Flores, yaitu “CU Jayakarta”, karena para penggeraknya adalah guru-guru SMA Suryadikara yang tinggal di asrama guru “Jayakarta”. Saya  mendapat tugas sebagai ketua Seksi Pendidikan.

Dipandang sebelah mata

Pada mulanya kehadiran CU Melati ditanggapi sinis dan tak acuh oleh banyak umat paroki, bahkan oleh pimpinan Gereja.  Tetapi pengurus dan anggota CU Melati tidak peduli. Kami jalan terus.

Untuk mempromosikan CU, kami menumpang di emperan gereja pada waktu misa hari Minggu pagi. Pak Soesilo, Pak Dalimin, Kasino dengan tekun “membuka warung”  untuk memperkenalkan CU kepada umat. Kadang-kadang kami minta izin kepada  Pastor Paroki dan ketua-ketua wilayah tertentu yang kira-kira bersimpati agar kami boleh memperkenalkan CU kepada umat mereka dalam kesempatan Doa Rosario atau pertemuan lainnya.

Dalam pertemuan-pertemuan itulah kami sering berdiskusi dan bila perlu berdebat dengan orang-orang yang pandai dan kritis tetapi pesimis tentang CU. Untuk menarik minat peserta, kami tidak hanya berbicara mengenai topik CU, tetapi juga hal-hal lain seperti  ekonomi keluarga, hidup hemat, pendidikan anak-anak, masalah kesehatan, dsb.

Sesekali kami mengangkat topik-topik mengenai ekonomi dan politik yang aktual agar orang-orang bisa tertarik untuk mendengarkan, dan kesempatan itulah kami memasukkan pesan-pesan tentang CU.

Saya bahkan pernah menegur keras seorang pemuda dari wilayah kami yang menolak membahas tentang CU sebelum berdoa Rosario. Padahal waktu luang hingga jadwal doa Rosario masih cukup lama.

Kami tidak menyerah pada  tantangan dan kesulitan yang kami hadapi, atau menoleh ke belakang untuk menyesali langkah awal yang telah  kami ambil.

Rumah keluarga kami di Jl. Komodo Raya Depok  Jaya  (kini Jl. Arif Rahman Hakim)  menjadi  “kantor sementara” CU Melati, tetapi  pertemuan-pertemuan anggota, bahkan Rapat Anggota Tahunan (RAT) selama 3 tahun masa kepemimpinan saya, selalu diadakan di rumah Pak Soesilo.

Setelah tiga tahun mengurus CU Melati, saya mengundurkan diri karena kesibukan kerja dan karena pindah rumah ke Bogor.

Tetapi dalam kurun waktu  tiga tahun itu, CU Melati telah melakukan beberapa hal mendasar seperti tertib administrasi, akte notaris, dan penyelenggaraan Pendidikan Dasar Koperasi yang wajib diikuti semua anggota.

Meskipun saya menetap di Papua selama sebelas tahun, kontak saya dengan CU Melati tetap berjalan. Tahun 2000, saya ditelepon oleh Pak Susilo,  Manager CU Melati. Dia memberitahukan bahwa anggota sudah sekitar 100 orang, dan aset sudah hampir mencapai Rp 200-an juta.

Anggota 3000 orang

Pada akhir 2006 sekembali dari Papua dan menetap lagi di Bogor, saya menghubungi pengurus dan manajemen CU Melati untuk dapat mempertimbangkan kemungkinan ekspansi ke Bogor.

Saat ini perkembangan CU Melati di kawasan Semplak khususnya dan Bogor umumnya cukup menggembirakan, karena sudah ada 400-an anggota.

Dewan Pengurus CU Melati saat ini dipimpin oleh Chris Srie Harinto, sedangkan manajemennya dipimpin oleh R. J. Soesilo sebagai manajer.

Anggotanya mencapai kurang-lebih 3000 orang dengan aset mencapai Rp 16 milyar. Saat ini CU Melati sedang membangun gedung perkantoran dan  pusat pelatihan/pendidikan serta pelayanan anggota dua lantai, dengan biaya Rp 1,2 milyar.

Keanggotaan CU Melati tersebar di kota madya Depok, Bogor, Banten, bahkan sampai Gunung Kidul di DIY dan Boyolali, Jawa Tengah.  Anggotanya mulai dari pedagang sayur keliling, tukang becak, penjual rokok, guru, pegawai negeri sipil, anggota TNI dan Polri, mahasiswa dan pelajar, karyawan dan staf perusahaan-perusahaan swasta hingga kepada pimpinan bank BUMN serta pengusaha. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan keadaan 19 tahun lampau ketika  27 warga di Depok Baru, memulai langkah pertama membentuk CU Melati.

Dalam tiga tahun terakhir ini, saya kembali menjadi anggota biasa CU Melati Depok, dan setiap awal tahun saya  mengikuti Rapat Anggota Tahunan. Saya selalu merasa bangga dan terharu melihat bahwa CU Melati telah berkembang menjadi cukup besar dilihat dari jumlah anggota dan assetnya.

Dan yang lebih membanggakan adalah bahwa anggota CU Melati berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Dari 3,000 anggota, yang beragama Katolik justru tidak lebih dari 10% (?).

Tiga tahun lalu, ketika saya mengikuti RAT, dua orang ibu berjilbab mengulurkan tangan kepada saya untuk bersalaman sambil berkata, “Ohhh, Bapak yang dirikan CU ini. Terima kasih lho Pak. Kami sangat terbantu oleh CU Melati.”

Seorang pengusaha rumah makan padang juga memegang erat tangan saya dan berkata, “Terima kasih pak. Apa yang bapak-bapak rintis dulu, sekarang sudah begini besar. Lihat, anggotanya bukan orang gereja saja, malah orang gereja jadi minioritas di CU Melati”.

Dengan tertawa, saya menanggapi “Terima kasih, kalau CU Melati bisa menolong masyarakat kita.”

**Terima kasih kepada Bapak Ans Gregory da Iry yang telah mengirim tulisan ini untuk pembaca Cathnewsindonesia. Beliau adalah salah seorang pelopor Credit Union Melati yang berkantor pusat di Depok, Jawa Barat.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi