UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kilas balik kunjungan Yohanes Paulus II di Indonesia

April 28, 2011

Kilas balik kunjungan Yohanes Paulus II di Indonesia

Penulis dengan piring keramik Yohanes Paulus II

Sekilas Memori tentang Beato Yohanes Paulus II, Dari Stadion Utama Senayan ke Unika Atma Jaya Jakarta

“SAYA BANGGA AKAN KAMU…..”

Pada hari Minggu, 1 Mei 2011 Bapa Suci Paus Benediktus XVI secara resmi akan memberikan gelar Beato, yang berbahagia, kepada mendiang Bapa Suci  Paus Yohanes Paulus II.

Bagi umat Katolik sedunia, ini merupakan peristiwa iman, dan kita boleh bangga dan berdoa memohon kepada Beato Johanes Paulus II untuk selalu mendoakan dan melindungi kita.

Pada tanggal 2 April 2005, Sri Paus Yohanes Paulus II wafat dalam usia 85 tahun. Sebagai Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, beliau sering melakukan perjalanan ziarah kegembalaan kepada umatnya di berbagai negara.

Dalam masa kepausannya selama 26 tahun lebih, pemimpin dari 1,1 milyar umat Katolik itu telah mengunjungi 129 negara, termasuk Indonesia.

Sri Paus Johanes Paulus II mengunjungi Indonesia selama lima hari, dari tanggal 8-12 Oktober 1989, dengan menyinggahi Jakarta, Jogjakarta, Maumere (Flores), Dili (Timor Timur – waktu itu masih provinsi ke 27) dan juga Medan.

Dalam kunjungan itu Sri Paus memimpin Misa Agung dan berdialog langsung dengan lebih dari satu juta orang.

Misa Agung pertama berlangsung di Stadion Utama Senayan, kini Gelora Bung Karno, Jakarta, dihadiri lebih-kurang 120 ribu umat Katolik dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Bandung dan Purwokerto. Di Jogjakarta, Misa Agung dihadiri 250 ribu umat dari Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya, dan Keuskupan Malang. Kemudian Misa Agung di Maumere dihadiri sekitar 300 ribu umat Katolik dari Flores; di Dili dihadiri 400 ribu umat dan di Medan lebih dari 100 ribu umat.

Selain itu, Sri Paus juga mengadakan pertemuan khusus dengan kaum awam dan cendekiawan Katolik Indonesia di kampus Atma Jaya,  Jakarta. Di sini beliau bertatap muka dan memberikan pesan-pesan kegembalaan kepada kaum awam dan cendekiawan Katolik Indonesia, dan meresmikan gedung baru “Karol Wojtyla”.

Saya mendapat kesempatan mengikuti acara dengan Sri Paus, yaitu Misa Agung di Senayan dan pertemuan di Atma Jaya. Di Stadion Utama Senayan, saya hadir sebagai wakil umat Katolik Gereja Paroki Santo Paulus Depok, Bogor, sedangkan di Atma Jaya, hadir sebagai alumni universitas tersebut.

Dalam dua kesempatan itulah saya dapat berada berdekatan secara fisik dengan Sri Paus. Dan ini rasanya tentu saja berbeda dengan saat menonton kegiatan Sri Paus di televisi.

Piring keramik Yohanes Paulus II

Menjelang kunjungan Sri Paus ke Indonesia, berbagai persiapan dilakukan oleh panitia dari Pemerintah Indonesia maupun Gereja Katolik Indonesia melalui Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), kini Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dengan Keuskupan Agung Jakarta sebagai pelaksana utama.

Suatu panitia nasional dibentuk untuk mempersiapkan kunjungan tersebut, sedangkan di paroki-paroki di semua keuskupan diadakan doa-doa khusus termasuk novena agar kunjungan Sri Paus dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Setiap paroki di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor mendapat jatah untuk mengirimkan sejumlah wakil-wakil umat menghadiri Misa Agung yang dipimpin Sri Paus di Stadion Utama Senayan. Paroki St. Paulus Depok , Keuskupan Bogor, mendapat jatah mengirim 50 umat.

Waktu itu penulis bekerja sebagai manager Corporate Communications, sebuah konglomerasi nasional, di Jakarta dengan puluhan anak perusahaan, termasuk perusahaan produsen barang-barang  keramik.

Pada suatu hari di pertengahan Agustus 1989, saat berada di kantor di Chase Plaza lantai 22,  saya mendapat tamu dua orang ibu dari pengurus Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Mereka menawarkan kepada perusahaan  partisipasi berupa sponsorship.

Tentu saja saya senang dan ingin  sekali berpartisipasi, apalagi ini juga kesempatan untuk sekaligus mempromosikan produk perusahaan. Tercapailah kesepakatan bahwa perusahaan akan menyumbang sejumlah piring keramik dengan foto Sri Paus Yohanes Paulus II.

Ketika penulis melaporkan hal ini kepada direktur,  beliau menyambutnya dengan antusias. Kata sang direktur, yang bukan seorang Katolik, “Johanes Paulus itu orang besar, mau berkunjung ke Indonesia, berarti perhatian beliau kepada orang Katolik dan kepada negeri kita sangat besar”.  Dan direktur memutuskan untuk menyumbang 4000 piring keramik kualitas terbaik kepada panitia.

Dalam waktu tiga minggu, pabrik keramik di Tangerang berhasil menyelesaikan 4000 piring tersebut dengan foto Sri Paus Yohanes Paulus II, dan diserahkan kepada panitia. Sebagai tanda penghargaan, panitia juga memberikan  sertifikat ucapan terima kasih kepada perusahaan.

Sampai saat ini saya masih menyimpan sebuah piring keramik dengan wajah Yohanes Paulus II sebagai kenang-kenangan akan kunjungan beliau di Indonesia. Piring tersebut disimpan di lemari pajangan di ruang keluarga.

Dengan adanya beatifikasi yang berarti pengakuan Gereja bahwa Yohanes Paulus menjadi seorang Beato, piring keramik ini akan jadi focus ketika kami akan berdoa kepada Beato Yohanes Paulus II.

Misa dalam Bahasa Indonesia

Kembali ke misa agung di Stadion Utama Senayan Jakarta. Sejak pagi hari penulis dan rombongan berangkat dari Depok ke Senayan untuk mengikuti misa agung bersama Sri Paus. Jalan-jalan di sekitar Stadion Utama Senayan macet, karena banyaknya bis dan mobil yang menuju ke stadion.

Polisi dan tentara sibuk mengatur lalulintas dan memberi jalan kepada kendaraan yang akan masuk Senayan. Ketika rombongan penulis tiba, lapangan parkir timur Senayan yang luas itu sudah mulai dipadati kendaraan.

Rombongan umat dari Keuskupan Bogor mendapat jalan masuk Stadion Utama melalui Pintu IX. Ketika sampai di dalam, nampak ribuan orang sudah memadati stadion. Secara berkelompok mereka sedang berdoa rosario  dan bernyanyi sehingga suasana stadion siang itu terasa seperti di suatu tempat ziarah.

Letak tempat duduk rombongan dari Depok kira-kira 30 meter di sebelah kiri altar di mana Sri Paus, para Uskup dan Imam-imam akan menyelenggarakan misa agung.

Stadion Utama yang biasanya gaduh dan riuh apabila ada pertandingan sepakbola atau pertunjukan lainnya, terasa lengang walaupun sudah dipadati kurang-lebih 100 ribu orang.

Siang itu stadion tersebut terasa seolah-olah berubah menjadi sebuah gereja raksasa yang menampung demikian banyak umat. Tampak spanduk-spanduk berwarna putih dengan tulisan nama-nama kelompok umat yang hadir. Ribuan bendera Merah-Putih berukuran kecil bersama bendera Kuning Vatican tampak dipasang berdampingan  di seluruh stadion.

Doa dan nyanyian dari berbagai kelompok umat terus terdengar. Tidak terasa waktu sudah satu jam berlalu sejak kami memasuki stadion. Lalu terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa misa agung akan segera dimulai.

Paduan suara yang berada di sebelah kanan altar mulai memperdengarkan lagu pembukaan  “Ecce, Sacerdos Magnus – Lihatlah Imam Agung datang”. Dan pada saat itu juga masuklah rombongan misdinar, imam-imam, uskup-uskup, kardinal dan Sri Paus dalam pakaian kebesaran ibadah menuju ke altar.

Ketika Sri Paus tiba di altar, suasana sangat hening. Lalu terdengarlah suara Sri Paus yang lantang dan berwibawa, mengucapkan doa Tanda Salib: “Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” dalam bahasa Indonesia yang lancar, yang dijawab umat “Amin”.

Upacara Misa Agung itu seluruhnya berlangsung dalam Bahasa Indonesia, dan Sri Paus dapat melafalkan doa dan nyanyian dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan lancar, nyaris tanpa salah, termasuk ketika menyanyikan Prefasi yang panjang.

Umat mengikuti ibadah itu dengan penuh perhatian dari detik ke detik. Tidak terdengar suara atau bunyi yang mengganggu selama dua setengah jam ibadah misa berlangsung. Paduan suara yang menggemakan lagu-lagu pujian dan doa-doa yang dilantangkan Sri Paus terasa menyentuh dan mendalam bahkan menggidik sehingga bulu kuduk berdiri.

Karena begitu intens mengikuti ibadah siang itu, rasanya  penulis kehabisan kata-kata untuk melukiskan suasana itu dalam catatan singkat ini. Tetapi seorang wartawan surat kabar Suara Pembaruan (dia bukan Katolik) yang hadir dan meliput misa agung itu menulis dalam laporannya dengan sangat tepat dan menarik. Ia menulis bahwa baru pertama kali ia menghadiri ibadah misa orang Katolik, dan itu berlangsung di stadion olahraga, bukan di gereja, tetapi suasananya begitu khusus dan khidmat.

Lebih dari 100 ribu jemaat duduk, berdiri, berdoa dan bernyanyi serempak dalam suasana yang sangat khidmat. Tidak ada suara lain yang terdengar selain doa dan nyanyian. Dan semua mata hanya tertuju ke altar tempat Sri Paus mempersembahkan Misa Agung.

Sang wartawan menutup laporannya sebagai berikut: “ Saya bukan Katolik tetapi saya juga terhanyut dalam suasana ibadah yang sangat khidmat itu. Saya merasa Tuhan sungguh hadir di stadion saat itu”.

Setelah berkat penutup misa, Sri Paus turun ke lapangan  menemui dan memberkati orang-orang sakit yang duduk di kursi roda atau di pembaringan masing-masing. Tepuk tangan terdengar meriah tanpa suara teriakan, saat Sri Paus naik mobil terbuka berkeliling stadion sambil memberikan berkatnya kepada umat yang hadir.

Sore itu, seusai misa agung, rombongan pulang ke tempat masing-masing. Sepanjang perjalanan dengan bis ke Depok, hampir setiap orang berbicara tentang kesan dan kenangannya akan misa agung tersebut.

Masing-masing tentu merasa mendapatkan sesuatu yang istimewa dalam pengalaman hari itu, khususnya pengalaman iman yang akan memperkuat kehidupan spiritualnya, karena mendapat kesempatan mengikuti Misa Agung yang dipersembahkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II.

Gedung Karol Wojtyla di Kampus Atma Jaya

Keesokan harinya saya dan isteri bersama ratusan alumni dan mahasiswa Atma Jaya serta kaum awam dan cendekiawan Katolik datang ke kampus tercinta di Semanggi, Jakarta. Para alumni diundang untuk hadir dan beramahtamah dengan Sri Paus.

Seperti biasa untuk tamu Negara, kedatangan Sri Paus ini juga mendapat pengamanan yang ketat dari aparat keamanan. Tetapi tamu undangan dapat masuk ke dalam kampus dank e tempat upacara. Karena banyaknya orang yang hadir, sebagian hanya bisa berdiri berdesak-desakan di koridor masuk ke aula upacara. Tetapi Sri Paus justru masuk melalui koridor ini maka kami yang berdiri di situ dapat melihat pemimpin Gereja Katolik Sedunia yang sangat terkenal itu dari jarak yang sangat dekat ketika beliau lewat sambil memberikan berkatnya, yang disambut dengan tepuk tangan.

Dua orang tokoh Katolik yang memberikan pidato sambutan saat itu yakni  Bapak Jacob Utomo dari Kompas Gramedia dan Bapak Frans Seda. Sedangkan acara puncaknya adalah pidato dan pesan-pesan Sri Paus kepada para cendekiawan Katolik Indonesia.

Kata Sri Paus, beliau sangat menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh Gereja dan Umat Katolik Indonesia dalam perjalanan bangsa dan negara Republik Indonesia. Gereja dan Umat Katolik telah dan akan terus ikut serta berperan aktif dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

Di bidang pendidikan Sri Paus menyatakan kebanggaannya akan kontribusi Umat Katolik dalam pendidikan tinggi.

Berpidato dalam bahasa Inggris yang lancar dan lantang, beliau berkata, “Therefore I’m proud that you, Catholics who are only a small minority, are making a significant contribution toward higher education in Indonesia”. –“Karena itu saya bangga akan Anda, orang Katolik yang hanya merupakan minoritas kecil, membuat kontribusi yang signifikan terhadap pendidikan tinggi di Indonesia”.

Sebelum meninggalkan kampus Atma Jaya kembali ke penginapan di Istana Negara, Sri Paus yang asal Polandia itu menandatangani prasasti untuk memberi nama “ Karol Woityla”, nama asli beliau sendiri, kepada sebuah gedung baru di kampus tersebut sebagai kenang-kenangan akan lawatan beliau hari itu.

Itulah sekilas memori tentang almarhum Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II. Doakan kami ya Beato Yohanes Paulus II. Amin!

(Ans Gregory da Iry, wartawan,  praktisi public relation, dosen  dan penulis buku, tinggal di Bogor).

9 responses to “Kilas balik kunjungan Yohanes Paulus II di Indonesia”

  1. Ansdairy says:

    Redaksi yth.,
    Terima kasih telah memuat tulisan ini untuk sharing dengan pembaca. Semoga bermanfaat.

    Salam, Ans

  2. cathnewsindonesia says:

    Terima kasih juga Pak Ans, sudah berbagi cerita dengan pembaca Cathnews. Salam. editor

  3. Irwan Marly says:

    It's remind me the spectacular and holy moment fulfiled with pilgrimage aura when the charismatic Pope John Paul II passing by in front of the audience .What an unforgettable moment in our life.

  4. Jonathan says:

    Saya juga ikut waktu itu menyaksikan di jakarta. luar biasa. waktu itu saya masih kuliah. Puji Tuhan beliau sudah dinayatakan menjadi orang kudus.

    terims pak sudah berbagi cerita. pax christi

  5. Ansdairy says:

    Terima kasih Bung Jonathan sudah membaca dan memberi komentar. Saya mempunyai suatu intensi pribadi yang saya mohonkan kepada Tuhan melalui Beato Johanes Paulus II. Saya berkomitmen untuk memberi kesaksikan tentang kekudusan JP II kepada pembaca. Mohon Anda dan pembaca lain ikut mendukung saya dengan doa. Beato Johanes Paulus II, doakan kami. Amin!

  6. Lsteeman says:

    Saya juga hadir dalam misa agung. Saya bersyukur, bahwa saya sempat menjabat tangan kiri Bapa Suci karena sat itu sangat berdesak-desakan mau menjabat tangan beliau. Petugas keamanan mendorong-dorong kami tetapi saya sempat mendapat jabat tangan kiri Bapa Suci.Sekarang setelah beliau di beato, saya merasa special bahwa pernah memegang tangan kiri orang kudus dan mmulai memajang foto beliau dan saya berdoa mohon perantaraannya setiap hari setelah berdoa rosario.

  7. Vincent says:

    Sebagai seorang rakyat Indonesia saya sangat bangga,
    Sebagai seorang Katolik Indonesia saya sangat bahagia…

  8. Jhon Kleor says:

    Terima kasih atas kisahnya, waktu itu Saya masih kelas 2 SD, menangis meraung raung untuk ikut misa dgn Bapakku di Gelora Samador yg dipimpin Bapa Suci, tapi tak dibawa sma Bapaku. Saat membaca kisah ini Saya sgt sedih dan mencucurkn air mata. Doakan kami Bapa Suci.

  9. Emanuel says:

    Trimakasih om telah berbagi cerita.. Wkt itu sy masih berumur 9 thn dan berada di kmpng halaman sy di NTT (kefamenanu) seingat sy kedatangan paus kt saat itu menjadi buah bibir dikota kelahiran sy.dng keterbatasan informasi tanpa listrik dirumah ortu sy, apalagi Televisi,radio maupun surat kabar,sy hanya bisa menunggu cerita cerita tentang kedatangan beliau tersebut. Namun setelah membaca tulisan ini akhirnya sy dpt merasakan dan membayangkan suasana wkt itu.. GBU Om…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi