UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Presiden Jokowi: Setiap hari 50 orang mati karena Narkoba

Pebruari 5, 2015

Presiden Jokowi: Setiap hari 50 orang mati karena Narkoba

 

Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia saat ini tengah berada dalam situasi darurat narkoba. Menurut dia, hampir 50 orang mati setiap hari karena narkoba.

“Bayangkan, setiap hari ada 50 generasi bangsa meninggal karena narkoba. Dalam setahun sekitar 18 ribu orang meninggal,” ujarnya dalam sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Gerakan Nasional Penanganan Ancaman Narkoba dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Februari 2015.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, jumlah tersebut belum termasuk pengguna narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi. “Pengguna yang sedang menjalani rehabilitasi mencapai 4,2-4,5 juta, dan itu bukan angka yang kecil,” tuturnya.

Menurut Presdien Jokowi, Badan Narkotika Nasional (BNN) hanya mampu merehabilitasi 18 ribu pecandu narkotik per tahun. Sedangkan jumlah pecandu yang harus direhabilitasi 4,5 juta. Artinya, Jokowi melanjutkan, BNN memerlukan 200 tahun untuk merehabilitasi seluruh pecandu.

Presiden Jokowi menjelaskan, bila pemerintah tak segera bersikap tegas dalam menangani peredaran narkoba, jumlah orang muda yang terjerat narkoba akan meningkat. “Kalau kami tak punya keberanian bersikap, masalah narkoba tak akan rampung,” ujarnya.

Angka korban Narkotika, BNN bohong besar

Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang tergabung dalam Human Rights Working Group (HRWG) menilai pernyataan BNN perihal angka korban meninggal setiap hari akibat narkotika adalah kebohongan besar.

Sebelumnya, BNN menyampaikan jumlah pengguna narkoba di Indonesia kini mencapai 4,2 juta orang, sedangkan korban tewas setiap harinya mencapai jumlah 40 – 50 orang .

“Angka BNN itu bohong besar. BNN terlalu berlebihan,” ujar Muhammad Choirul Anam, anggota HRWG, kepada satuharapan.com pada Selasa (3/2) di Cikini, Jakarta.

HRWG mempertanyakan acuan data yang digunakan oleh BNN. Menurut mereka, dalam waktu dekat gabungan peneliti akan mengkritik angka 40-50 orang meninggal setiap hari karena narkotika hasil pemaparan BNN ini.

“Itu dipertanyakan metodologinya dari mana angka 40-50 orang itu. Apakah pecandu narkotika yang over dosis juga dihitung, apakah pecandu nakotika yang baru pertama kali pun juga dihitung. Apakah pecandu yang meninggal di rumah sakit juga dihitung,” ujar Ricky Gunawan, pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Menurutnya, angka yang muncul itu harus benar-benar dikaji.

Sementara itu terkait hukuman mati bagi terpidana kasus narkotika, HRWG meminta seluruh proses harus dievaluasi.

“Tidak layak seorang pun dihukum mati. Tidak ada alasan apa pun Jokowi untuk tidak memberikan grasi kepada terpidana mati,” ujar Anam.

Prinsip hukum, kata HRWG, bersifat individualisasi sehingga setiap kasus harus diperlakukan berbeda dan diperlakukan secara individual.

“Ini kuasa yang luar biasa ketika Presiden menentukan hidup dan mati seseorang, sayangnya digunakan secara tidak hati-hati oleh Presiden,” Ricky menambahkan. (tempo.co/satuharapan.com)

 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi