UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup tanggapi polemik kehadiran mereka dalam Misa pernikahan di Jakarta

Pebruari 9, 2016

Uskup tanggapi polemik kehadiran mereka dalam Misa pernikahan di Jakarta

Para uskup foto bersama dengan keluarga pengantin di katedral usai Misa.

 

Kehadiran 12 uskup dalam Misa pernikahan dari keluarga pengusaha di Jakarta pada Sabtu akhir pekan lalu menuai polemik, sejak ramai diberitakan media pada Senin kemarin.

Misa pernikahan yang berlangsung di Katedral Jakarta itu adalah antara pasangan, Nararya Ciputra, cucu dari pengusaha properti Ciputra, dengan  Melisa Kristi Kristianto, anak dari pengurus Yayasan John Paul II, Lucy Liando.

Salah seorang uskup yang menghadiri pernikahan pasangan tersebut mengatakan kepada ucanews.com, sejumlah komentar pedas terkait kehadiran mereka adalah hal yang wajar.

“Memang wajar kalau ada suara sumbang, berhubung peristiwa itu tidak lazim,” kata Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF, salah satu yang hadir.

Ia menjelaskan, kehadiran mereka bukan karena yang didatangi itu orang kaya.

“Tetapi, keluarga itu memperhatikan keuskupan luar Jawa yang nota bene miskin,” katanya.

Ia menjelaskan, kalau diperhatikan, uskup yang datang adalah semua dari luar Jawa. “Mungkin ada beberapa uskup yang memiliki kedekatan karena seasal dengan keluarga Ibu Liando,” katanya.

Mantan Uskup Tanjung Selor ini mengatakan, dirinya mengenal Ibu Liando karena merupakan salah satu donatur Keuskupan Tanjung Selor.

“Tentu karena beberapa kali datang ke sana, jadi ada relasi juga. Dengan keluarga Ciputra saya tidak kenal,” katanya.

Sebelumnya, sebagaimana dilansir Floresa.co, kritikan pedas disampaikan oleh Hermawi Taslim, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI).

Ia menyebut, kehadiran para uskup itu “berlebihan dan terkesan menghilangkan sikap kritis Gereja Katolik yang terkenal dengan semboyan option for the poor atau berpihak pada orang miskin.”

Hermawi mengatakan, sesuai ketentuan hukum kanonik, keabsahan dan kesakralan perkawinan dalam tata cara Katolik memang harus dilakukan oleh pejabat Gereja, dalam hal ini uskup atau pastor.

“Tapi masih menurut hukum kanonik, pejabat Gereja tersebut cukup satu, tidak perlu berbondong-bondong hingga belasan, sehingga terkesan diistimewakan,” ungkapnya dalam pernyataan tertulis, Senin (8/2/2016).

Sementara itu, Benny Sabdo, penulis buku “Kiprah Tokoh Katolik Indonesia” menyebut, peristiwa ini tergolong langka.

“Apakah mungkin terjadi fenomena seperti ini pada pengantin yang miskin. Padahal, Paus Fransiskus mendedikasikan Gereja bagi kaum miskin,” gugatnya.

Ia menandaskan, memboyong 12 uskup dengan biaya yang mahal ke Jakarta memberikan signal yang keliru kepada umat Katolik dan masyarakat Indonesia.

“Bukan karena keluarga mempelai tidak boleh kita beri simpati. Barangkali keluarga mempelai banyak berbuat baik dan pantas diakui tapi hal yang sama tidak terjadi pada umat biasa. Padahal, kita jangan memberikan perlakuan khusus kepada mereka yang diberkati karena kekayaan,” paparnya.

Menurut Benny, kritik ini harus dimaknai dalam perspektif yang positif.

Reporter UCAN, Jakarta

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi