UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kisah mantan teroris yang kini menjadi penabur damai

September 29, 2016

Kisah mantan teroris yang kini menjadi penabur damai

Ustad Khairul Gazali yang dahulu dikenal sebagai mentor jihadis, kini mendirikan pesantren dengan misi utama deradikalisasi (ucanews.com/Ryan Dagur)

Perubahan drastis terjadi pada Khairul Ghazali, 51, seorang ustad yang sempat dipenjara karena menjadi mentor para jihadis.

Dulu, ia mencecoki para pengikutnya dengan paham radikal, namun, sekarang ia mendirikan sebuah pesantren dengan misi khusus deradikalisasi.

Darusy Syifa’ nama pesantren itu, berlokasi di Desa Sei Mencirem, Kabupaten Deli Serdang, sekitar 35 km dari Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara dan mulai beroperasi pada Juni lalu.

“Muridnya dikhususkan bagi anak-anak para teroris,” kata Ghazali kepada ucanews.com dalam wawancara baru-baru ini di Sei Mencirem. “Sebagian lagi dari keluarga miskin,” tambahnya.

Tak banyak bangunan yang ada di lokasi itu. Hanya ada sebuah mushola kecil dan rumah yang dijadikan asrama, sementara sebuah masjid yang lebih besar, kini sedang dibangun dengan donasi dari pemerintah.

“Saat ini, 20 anak yang sudah sekolah di sini, di mana 12 anak dari narapidana terorisme,” katanya.

Era gelap

Ide mendirikan pesantren itu di atas lahan seluas 31 hektar berangkat dari pengalaman pribadi Ghazali terlibat dalam gerakan terorisme.

Ia merupakan mantan anggota Jemaah Islamiyah, organisasi militan di Asia Tenggara yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam.

JI – yang anggotanya mendalangi berbagai aksi teror di Indonesia – disebut-sebut didanai kelompok Al Qaedah di Afganistan dan kelompok militan Abu Syayaf di Filipina Selatan.

Pada 1984-1988, Ghazali sempat menetap di Malaysia, di mana ia bertemu dengan sejumlah teroris, termasuk Hambali, mantan pemimpin JI dan diduga kuat terlibat dalam bom Bali pada 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga negara Australia.

Ia juga bertemu dengan Abdullah bin Ahmad Sungkar, salah satu pendiri JI, yang sudah meninggal pada 1999.

“Kami biasa ngobrol dan sholat bersama,” kenang Ghazali.

Selama di Malaysia pula, di mana ia bekerja sebagai jurnalis, ia hampir saja berangkat untuk mengikuti pelatihan di Afganistan, tapi batal karena ketidaklengkapan surat-surat.

Di, JI, kata dia, tugasnya adalah mengindokrinasi anggota dengan pemahaman-pemahaman radikal. “Saya mencuci otak mereka dengan ideologi-ideologi jihad,” katanya.

“Pokoknya, kami memusuhi agama lain. Sesama Muslim juga yang tidak satu jaringan dengan kami pun, kami anggap darahnya halal.”

Ketika kembali ke Indonesia pada 1998 saat Soeharto jatuh dari kekuasaan, ia aktif mendampingi kelompok yang bergerak di daerah Sumatera, di mana kemudian anggotanya terlibat dalam sejumlah serangan di Medan dan sejumlah kota lain di Indonesia.

Perjalanan Gazali sebagai teroris, ia sebut mencapai titik puncak sekaligus titik balik ketika pada Agustus 2010 dirinya ditangkap setelah anak buahnya melakukan serangan terhadap Bank CIMB Niaga di Medan dan merampok uang senilai 400 juta, di mana mereka membunuh seorang brimob. Aksi itu diikuti dengan penyerangan sebuah kemudian terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang yang menewaskan 3 polisi.

Rumahnya kala itu di Tanjungbalai, Sumatera Utara yang menjadi lokasi berkumpulnya anak buahnya,  menjadi sasaran pengepungan polisi, di mana waktu itu tiga pelaku bersembunyi di rumahnya.

Dalam upaya penggerebekan itu, dua orang ditembak mati, sementara ia dan satu pelaku lain, Jumirin ditangkap. “Di rumah ditemukan senjata dan ratusan amunisi.”

Ia pun diproses hukum dan dijebloskan ke jeruji besi pada Agustus 2011, dengan hukuman 6 tahun.

darusysyifa-2

Para santri sedang mengikuti pendidikan di Pesantren Darusy Syifa’ yang didirikan oleh Ustad Khairul Ghazali (Ryan Dagur)

 

Berbalik

Berada di penjara,  dengan waktu menyendiri yang lebih banyak, membuat dirinya mengevaluasi tindakannya.

Dan, ia mengaku, dari hasil permenungannya itu, kemudian sadar bahwa jalan yang ia pilih salah.

“Saya sadari hal itu ketika isteri saya menyampaikan kabar bahwa anak-anak kami tidak sekolah,” katanya. “Mereka diolok-olok di sekolah oleh teman-temannya, bahwa mereka anak dari teroris.”

Pengalaman itu membuat ia berpikir bahwa ada yang salah dengan tindakannya.

“Kalau tindakan kami benar, mengapa anak-anak dan isteri kemudian sengsara. Ini menyalahi kodrat, karena suami harusnya memberi nafkah untuk keluarga, ” katanya.

Ia pun memutuskan membolak-balik Al Quran dan membaca pesan-pesan Nabi Muhammad.

“Saya lalu menemukan bahwa Islam pada dasarnya mengajarkan jalan yang menyelamatkan, bukan membunuh,” katanya. “Selama di penjara itulah, saya mengalami pembalikan cara berpikir. Saya merasa telah menyelewengkan ajaran Islam yang sesungguhnya.”

Dengan ditemani Alquran, kertas serta bulpen yang diminta dari sipir penjara, ia mulai menulis buah pikiran dan refleksinya.

“Perlahan-lahan tulisan saya makin banyak. Saya lalu menyerahkan itu ke isteri yang kemudian mengetiknya menjadi sebuah buku.”

Hasilnya, sebelum ia divonis pada Agustus 2011, bukunya terbit dua bulan sebelumnya, pada bulan Juni

“Dan, menariknya, Badan Nasional PenanggulanganTerorisme (BNPT) yang kemudian mensponsori penerbitannya,” katanya.

Buku dengan judul “Aksi Perampokan Bukah Fa’i” itu, kata dia, merupakan hasil refleksinya yang meluruskan konsep bahwa perampokan tidak bisa disamakan dengan fa’i.

Fa’i merupakan sebuah istilah dalam Islam yang berarti merampok kelompok kafir sebagai bentuk penggalangan dana untuk jihad.

“Fa’i hanya boleh dilakukan di medan perang, bukan seperti yang dilakukan oleh anak buah saya kala itu di Bank CIMB Niaga,” kata Ghazali.

Selanjutnya, ia menulis buku lain, “Mereka Bukan Thogut,” yang mengoreksi pandangan bahwa orang-orang non-Muslim adalah kafir dan pemerintah serta aparat seperti polisi layak dimusuhi.

“Mulai buku kedua itu saya diberi fasilitas laptop oleh Densus 88, tidak lagi memakai tulisan tangan,” ungkapnya.

“Mungkin saya adalah narapidana pertama yang diberikan fasilitas laptop oleh orang-orang yang sebelumnya menangkap saya”, katanya sambil tertawa.

Tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan sebuah novel “Kabut Jihad.”  Novel itu, kata dia, berdasarkan kisah nyata tentang peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga dan penyerangan Polsek Hamparan Perak.

Usai dibebaskan pada 2015, setelah mendapat remisi, ia kembali menerbitkan dua buku lain, berjudul “Aksi Teror Bukan Jihad” dan “Tazkirah Untuk Pengantin Jihad.”

“Naskah dua buku itu juga saya tulis saat masih di dalam penjara,” katanya.

Deradikaliasi

Ketika sudah lepas dari penjara, Gazali memikirkan apa yang bisa ia lakukan agar bisa mencegah banyak orang terlibat dalam aksi terorisme.

“Saya sudah menulis buku, namun, saya rasa itu tidak cukup. Saya meyakini bahwa cara terbaik adalah lewat pendidikan,” katanya.

Ia mengatakan, ia banyak mendengar banyak anak pelaku tindak pidana teroris yang putus sekolah.

“Ini berbahaya, ada pembiaran. Sama saja dengan pelestarian tindakan terorisme di waktu yang akan datang.”

Karena, kata dia, di dalam doktrin jihadis ada prinsip bahwa semua akan harus berbakti, berbuat baik kepada orang tua, termasuk membalas dendam terhadap pelaku yang membunuh orangtua.

“Jika anaknya menolak, maka akan dicap sebagai anak yang berdosa, Jadi, anak-anak berpeluang untuk menjadi pelaku berikutnya,” katanya.

Dan, katanya, sudah ada bukti soal ini. Ia menyebut anak Imam Samudra, pelaku bom Bali yakni Umar Jundulhaq,19, yang mengikuti jejak ayahnya menjadi teroris dan tewas dalam pertempuran di Suriah pada Oktober 2015.

Contoh lain, kata dia, adalah anak dari Abu Jibril yang terlibat bom di Hotel JW Mariot dan Hotel Ritz Carlton, Jakarta pada 2009.

“Dua anaknya terlibat aksi terorisme, yakni Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan yang terlibat bom di JW Marriot dan Ridwan Abdul Hayyie meninggal di Suriah pada 2015 karena bergabung dengan Al Qaedah,” katanya.

“Jadi orangtua mewarisi semangat jihadis kepada anak-anaknya,” katanya.

Dalam catatan Ghazali, sudah ada sekitar 1.000 ikhwan yang dipenjara karena terlibat kasus terorisme.  “Jika setiap orang yang dipenjara memiliki tiga orang anak, maka ada sebanyak 3.000 anak yang berpotensi menjadi teroris.”

darusysyifa-3

Pesantren Darusy Syifa’ yang terletak belasan kilometer dari kota Medan, Sumatera Utara, didirikan oleh Ustad Khairul Ghazali untuk tujuan mengubah pandangan radikal terutama dari anak-anak mantan maupun terpidana terorisme (Ryan Dagur)

 

Harapan

Karena itulah, Gazali meyakni, pesantren Darusy Syifa’ adalah solusi.

Haris Iskandar, direktur pesantren itu mengatakan, selain mengajar pelajaran sesuai kurikulum untuk anak SMP, mereka memberi pelajaran khusus tentang deradikalisasi.

“Dalam pelajaran deradikalisasi, kami mengajarkan bagaimana menjadi pemaaf, Islam yang menyelamatkan, cinta damai dan jangan membenci,” katanya.

Dengan dana sendiri saat ini dari Ustad Gazhali, mereka menghabiskan 10-12 juta per bulan untuk biaya bulanan 20 santri.

Pemerintah, kata Iskandar, baru akan mulai membantu  operasional tahun depan.

AZ, salah satu santri, yang ayahnya Jumrin terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga dan sudah bebas Agustus lalu mengatakan, ia menemukan kenyamana  di pesantren tersebut.

“Ayah sudah bilang, saya harus jadi orang baik,” kata AZ.

Ayahnya, jelas dia, kini sebagai nelayan dan bekerja sebagai anak buah kapal di Tanjungbalai.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius yang mengunjungi Pesantren Darusy Syif’a pada awal September mengapresiasi kehadiran pesantren itu.

“Anak-anak mantan teroris memang  harus dirangkul dan diberikan pemahaman tentang bahaya radikalisasi,” kata Alius.

“Masyarakat tidak bisa mengucilkan mereka, tetapi harus merangkul dan memberi pemahaman tentang bahaya radikalisme,” katanya.

Tantangan Masih Serius

Meski berharap banyak dan mengimpikan agar santri-santri akan menjadi pelopor perdamaian, namun, kata Gazali, bahaya terorisme masihlah besar.

“Tidak semua narapida terorisme juga setuju dengan apa yang saya lakukan,” katanya. “Masih ada yang menyebut kami ini boneka pemerintah, meski jumlahnya boleh saya bilang 5 persen,” katanya.

Ia juga menyebut, ISIS menjadi bahaya besar saat ini, karena masih terus mengundang simpati dari kalangan anak muda.

Ghazali menyebut bagaiman Ivan Hasugian Armadi, pelaku bom bunuh diri di  Gereja Katolik St Yosef Medan, Agustus lalu, berbaiat kepada kelompok itu.

“Saya menonton video bagaimana ia berkomunikasi dengan orang dari ISIS,” katanya.

Pada 15 September lalu, Suhardi Alius dari BNPT mengatakan, dari 500 orang warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS, 69 sudah meninggal dan sebagian sudah kembali.

Ghazali mengatakan, “situasi ini sangat mengkuatirkan.”

“Karena itu, tidak ada cara lain. Selain melawan kelompok radikal, ypaya deradikalsiasi harus menyasar mereka yang paling rentan, yakni orang-orang dekat di sekitar para teroris itu.”

Ryan Dagur, Medan

One response to “Kisah mantan teroris yang kini menjadi penabur damai”

  1. john Lobo says:

    jalan pertobatan memang berliku e

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi