UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat ​​Katolik Vietnam Menjaga Iman di Tengah Perubahan 

September 17, 2018

Umat ​​Katolik Vietnam Menjaga Iman di Tengah Perubahan 

Warga Vietnam mengadakan makan malam di sebuah rumah makan yang di tembok atas diletakan salib, patung Maria dan Yesus di Kota Ho Chi Minh. (Foto: Mary Nguyen/ucanews.com)

Seorang umat Katolik, Peter Bui, memulai hari kerjanya dengan berdoa agar dagangannya laku dan menyalakan lampu altar di tokonya di Kota Ho Chi Minh yang ramai di Vietnam.

Bui menjual  pintu, cat, kunci, peralatan dan aksesoris rumah selama 20 tahun. Pada hari Minggu dia menutup tokonya untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya dan menghadiri Misa.

Dia menjual barang-barang asli di Pasar Tan Binh yang ramai di kota selatan dengan harga yang tepat. “Kami memberikan saran dan membantu pelanggan dengan berbagai pilihan agar membeli barang yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata pedagang berusia 57 tahun itu.

Pedagang dari tempat lain hanya tinggal sementara di daerah tersebut dan tidak memiliki ikatan lingkungan yang sama. Ketika seorang wanita miskin di dekatnya membutuhkan kunci, Bui mengunjungi rumahnya untuk memastikan dia mendapatkan tipe yang tepat.

Dia mencoba untuk menetapkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam hubungan dengan tetangganya, banyak di antaranya adalah pekerja seks, gangster dan penjudi.

“Kami tidak memberikan uang kepada gangster yang meminta jasa keamanan, tetapi kami memberikan uang kepada keluarga mereka ketika mereka mengalami kecelakaan atau sakit,” katanya.

Dia tidak takut menagih pelanggannya meskipun beberapa kerabatnya terlalu takut untuk melakukannya.

Bui, yang memiliki suara keras dan jelas, mengatakan dia mencoba untuk menangani konflik dengan cara yang jujur ​​dan persaudaraan. Salah satu pelanggan mencoba mengembalikan sekeranjang cat tetapi Bui menolak menukarnya karena catnya tidak lagi laku.

Ketika pelanggan berteriak padanya dan mengancam akan melempar cat ke wajahnya, pelanggan lain melindunginya. Namun, pelanggan yang marah kembali membeli barang dari tokonya sebulan kemudian.

“Banyak pelanggan secara bertahap menghormati dan mengakui ketulusan kami, keadilan, kesetaraan, amal dan persaudaraan,” kata Bui.

Ayah tiga anak itu mengatakan bahwa tujuannya adalah membangun jembatan dengan orang lain dan membawa Kabar Baik Kekristenan kepada mereka.

Dia mengizinkan seorang wanita menjual makanan di luar tokonya. Wanita itu, yang menceraikan suaminya dan tinggal bersama pacarnya, dengan kejam memukuli putrinya yang berusia 5 tahun di depan putri Bui. “Saya memintanya untuk tidak memukul putrinya, yang tidak bersalah, dan saya membiarkan putri saya bermain dengan putrinya,” katanya.

Bui, yang mengajar kelas katekese, mengatakan ia menghayati nilai-nilai kekudusan Katolik dan menghadiri kursus akhir pekan tentang ajaran-ajaran sosial Gereja yang diberikan oleh para imam setempat. Dia mengatakan ajaran-ajaran ini adalah harta kebijaksanaan tentang membangun masyarakat yang adil di tengah tantangan modernitas.

Pastor Joseph Le Quang Uy CSsR yang telah membentuk perkumpulan keluarga Katolik dan kelompok pemuda, mengatakan orang awam membutuhkan imam untuk membantu mereka mempraktekkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pastor Uy mengatakan dia mengajar orang awam untuk tidak menipu atau menyuap orang lain, menikmati alkohol atau membuang sampah. Dia juga mendesak umat Katolik untuk mematuhi peraturan lalu lintas dan mengurangi pencemaran lingkungan dengan mematikan sepeda motor mereka di lampu merah dan mengumpulkan sampah dari tempat umum.

Imam itu mengadakan retret dan doa rutin serta memimpin umat beriman untuk membantu orang miskin, sakit dan korban bencana alam.

Dia mengatakan anggota keluarga dan kelompok pemuda menjalani kehidupan yang baik, bekerja keras dan memperlakukan orang dengan cinta dan keadilan.

Kepala sekolah di fasilitas penitipan anak memperlakukan guru lain sebagai kerabatnya dan memungkinkan ibu tunggal untuk menggunakan tempatnya di malam hari untuk tempat berkumpul dan berdoa. Seorang perawat berusia 20 tahun menghabiskan waktu setelah bekerja untuk menghibur pasien rumah sakit.

Pastor Uy mengatakan 40 pasangan, yang merupakan anggota kelompoknya, memiliki pernikahan yang bahagia.

“Menjadi seorang Katolik dalam masyarakat di mana moralitas menurun, dan materialisme berlaku, berarti berbicara menentang ketidakadilan dan melakukan perbuatan baik untuk mengurangi hal-hal buruk,” kata Pastor Uy.

Imam itu menekankan bahwa penting bagi umat Katolik untuk menetapkan teladan cemerlang bagi orang lain, termasuk komunis.

Pastor Uy membaptiskan Hai, seorang komposer terkenal dan mantan anggota Partai Komunis,  tahun 2014 ketika dia berusia 87 tahun. Hai pindah ke agama Katolik setelah ia menghadiri Misa pemakaman yang dilakukan oleh seorang imam Redemptoris untuk tahanan nurani yang telah dibabtis menjadi katolik.

Bahagia adalah menjalani kehidupan yang baik dalam segala situasi, walau tidak memiliki uang dan kenyamanan, kata Pastor Uy.

Vietnam memiliki tujuh juta umat Katolik di antara total populasi 94 juta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi