UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawati Banglades Dalam Misi Penyembuhan Jiwa

September 18, 2018

Biarawati Banglades Dalam Misi Penyembuhan Jiwa

Suster Lipy Gloria Rozario OLS bersama team-teman konselor di Dhaka, Banglades, tahun ini. (Foto: Healing Heart Counseling Center)

Lipy Gloria Rozario lahir dari keluarga pengungsi Katolik pada 31 November 1971, hanya beberapa minggu sebelum Banglades memperoleh kemerdekaannya dari Pakistan pada 16 Desember.

Setelah  47 tahun berlalu dengan cepat dan Gloria, anak keenam dari sembilan bersaudara, telah mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan menyembuhkan hati orang-orang yang menderita berbagai bentuk tekanan psikologis di negara Asia Selatan yang berpenduduk mayoritas Muslim ini.

Sejak 2010, Suster Gloria melayani sebagai direktur Unit Konseling pemulihan jiwa di Dhaka, yang didanai oleh Kongregasi Suster-suster Bunda Maria  berduka-cita (OLS).

Dia adalah salah satu dari sejumlah biarawati Katolik termasuk Suster  Zita Rema SDB yang memberikan bantuan spiritual dan layanan lainnya kepada orang miskin di Banglades.

Biarawati lain di negara itu membantu pasien yang terkena kusta, tuberkulosis, dan stigma sosial, atau fokus membantu anak-anak yang lahir dengan disabilitas dengan membangun kembali kehidupan mereka.

Selain menawarkan layanan konseling kepada individu, pasangan, dan keluarga, Suster Gloria mengasah keterampilan para siswa, akademisi, dan profesional dengan mengadakan seminar dan lokakarya baik di dalam maupun di luar pusat pelayanan.

Ketika dia tidak di pusat layanan, atau mengajar di universitas lokal, biarawati itu meluangkan waktu  mengunjungi pengungsi Rohingya dari Myanmar di Baza’s Cox, Banglades timur, di mana dia menawarkan layanan konseling melalui BRAC, salah satu organisasi pembangunan terkemuka di negara itu.

“Kami adalah badan amal, jadi kebanyakan orang datang kepada kami melalui mulut ke mulut karena kami tidak diizinkan beriklan. Kadang-kadang orang mengira kami sebagai organisasi pencari laba karena kami memiliki banyak orang asing di staf yang menjadi sukarelawan,” tambahnya.

“Banyak orang berjuang  memahami bagaimana sebuah badan amal dapat menawarkan layanan profesional tanpa menghasilkan uang. Misi kami adalah membuktikan bahwa mereka salah.”

Pusat pemulihan jiwa sekarang memiliki dua konselor purna waktu dan empat konselor paruh waktu yang merawat sekitar 30 orang seminggu rata-rata, kebanyakan Muslim.

Pusat ini membebankan 1.200-2.500 taka Banglades (US$ 14-30) per sesi tetapi orang yang miskin hanya perlu membayar biaya tanda terima US$ 2,40.

Ini mencakup gaji staf, biaya pemeliharaan dan sumbangan untuk amal yang dijalankan oleh ordo religius.

Pusat layanan ini memiliki satu sekolah dan pusat penitipan anak untuk 40 anak kumuh. Pusat ini juga mendanai dua pusat penitipan anak lagi di Dhaka yang melayani 62 anak dari keluarga yang sangat miskin.

“Kami tidak pernah punya uang tersisa pada setiap akhir bulan,” kata biarawati itu.


Awal yang sederhana

Tahun 1971, Pius Rozario dan istrinya Magdalena menyaksikan kelahiran anak keenam mereka, Gloria, di ruang kelas yang digunakan sebagai tempat penampungan bagi pengungsi selama perang kemerdekaan Banglades dengan Pakistan.

Pasangan itu telah meninggalkan rumah mereka di desa Rangamatia di Banglades tengah untuk melarikan diri dari pertempuran dan pertumpahan darah dengan pindah ke desa Moani yang jauh.

Selama sembilan bulan yang menyedihkan, mereka berbagi tempat dengan ratusan pengungsi perang termasuk Muslim, Hindu dan Kristen.

Setelah perang berakhir, pasangan itu kembali ke rumah  melanjutkan kehidupan yang lebih normal, dengan Pius bekerja sebagai guru sekolah dan Magdalena seorang ibu rumah tangga.

“Secara finansial, kami bukan orang melarat karena kami semua bisa bersekolah walau ayah saya tidak dibayar dengan sangat baik,” katanya. “Tapi meskipun demikian kami memiliki masa kecil yang sangat menyenangkan meskipun kami tumbuh di rumah tangga yang sangat disiplin di mana hidup dibagi menjadi waktu doa, waktu belajar dan waktu bermain.”

Dia pindah ke sekolah Santa Maria di Paroki Santo Yohanes Pembabtis pada usia dini dan menyelesaikan sekolah menengah dengan Suster-suster SMRA. Semua gurunya dan beberapa sepupunya adalah biarawati.

“Sejak usia dini, hidup mereka menjadi inspirasi bagi saya, jadi saya bermimpi satu hari nanti saya akan menjadi seorang biarawati,” katanya. “Aku tidak menyukai anak laki-laki pada usia itu, jadi aku hanya ingin menjalani kehidupan yang sederhana.”

Dia bergabung dengan Kongregasi Suster-suster Bunda Maria Berduka Cita (OLS) pada 31 Desember 1990, setelah menyelesaikan gelar sarjananya. Ia menghabiskan dua tahun di Italia untuk menjalani masa novisiatnya.

Ketika kembali ke Banglades tahun 1995, ia menghabiskan satu tahun di sebuah biara di ibukota yang dikelola oleh OLS, setelah itu ia mendapatkan peran sebagai sekretaris  di kedutaan Vatikan di ibukota itu, sebuah peran yang ia emban selama lima tahun.

“Awalnya saya merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang membuat saya tetap di dalam ruangan sepanjang hari,” kenangnya. “Jadi tahun pertama itu tidak terlalu menyenangkan. Tapi aku terjebak dengan itu karena aku telah mengikrarkan kaul.”

Selama berada di kedutaan Vatikan, Suster Gloria mulai mengunjungi daerah kumuh dan keluarga Kristen di dekatnya, yang perlahan-lahan berbagi masalah mereka dengannya.

“Kisah-kisah mereka melekat dalam pikiran saya. Saya mulai berpikir bahwa, karena orang-orang begitu ingin berbagi banyak pengalaman pribadi dengan saya, mungkin saya harus belajar psikologi untuk menawarkan mereka layanan yang lebih baik,” katanya.

Suster Gloria mengatakan bahwa dia menemukan panggilan sejatinya setelah mempelajari psikologi konseling di Italia dan AS.

Atasannya mengabulkan permintaannya untuk belajar psikologi dan ia pergi ke Roma, di mana ia juga mempelajari spiritualitas. Ini diikuti dengan pindah ke California untuk mendapatkan gelar master di Universitas Santa Clara.

Tahun 2014, ia menetapkan tonggak baru dengan menjadi orang pertama di Banglades yang memperoleh gelar PhD dalam psikologi pendidikan-konseling.

 

Bunda Maria Berduka Cita

Maria Elisabetta Renzi, seorang biarawati Katolik yang bercita-cita tinggi, ia mendirikan Ordo OLS di Italia  tahun 1839. Dia dibeatifikasi 150 tahun kemudian  tahun 1989.

Kongregasi itu tiba di Banglades tahun 1988 dan misi pertamanya adalah melayani kedutaan Vatikan di Dhaka.

Sekarang ordo tersebut memiliki 16 suster Banglades termasuk seorang yang melayani sebagai misionaris di luar negeri.

Kongregasi memprioritaskan pelayanan kepada orang miskin dan yang membutuhkan dengan mengelola sekolah dan pusat penitipan anak untuk anak-anak yang kurang mampu dan menawari mereka beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mereka. Dua misi utamanya adalah katekese dan pendidikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi