UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Meski Pernah Disandera, Pastor Soganub Upayakan Perdamaian di Mindanao  

September 24, 2018

Meski Pernah Disandera, Pastor Soganub Upayakan Perdamaian di Mindanao  

Pastor Teresito Soganub berjanji untuk melanjutkan karya damai di Filipina bagian selatan saat ia merayakan tahun pertama setelah terbebas dari para teroris bersenjata. (Foto: Angie de Silva)

Tepat tengah malam pada 17 September lalu, Pastor Teresito Soganub bangun dari tidur untuk berdoa dan mengucap syukur kepada Allah karena telah diberi kesempatan untuk kembali menjalani hidup.

Ia ingat apa yang terjadi terhadap dirinya setahun lalu ketika ia menyelamatkan diri dari kejaran para pemberontak yang terinspirasi oleh ISIS di Kota Marawi pada hari itu sekitar pukul 12:15 dini hari.

Orang-orang bersenjata menahannya selama 117 hari bersama dengan sejumlah sandera lainnya ketika terjadi pengepungan di kota itu selama lima bulan.

Pastor Soganub masih ingat malam itu ketika ia berhasil melarikan diri bersama dengan Lordvin Ocopio, seorang dosen di sebuah kolese, dari sebuah masjid dan berhasil menjauh dari orang-orang yang ingin menangkapnya.

Ia ingat bagaimana mereka berdua berjalan sejauh dua kilometer untuk keluar dari kota itu dengan melewati jalanan yang penuh dengan mayat.

“Itulah rasa takut terbesar yang pernah saya rasakan selama ini,” katanya kepada ucanews.com.

“Saya takut para teroris melihat kami dan menembak kami. Saya juga takut (pasukan pemerintah) mengira kami adalah musuh mereka,” lanjutnya.

Namun imam yang pernah menjabat sebagai Vikjen Prelatur Marawi sebelum terjadi serangan teroris ke kota itu mengatakan apa yang terjadi terhadap dirinya adalah resiko yang harus dihadapinya.

 

Merayakan Kesempatan Kedua

 

Sebelum beranjak tidur pada 16 September lalu, Pastor Soganub mengirim pesan kepada Ocopio untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya atas kesempatan kedua dalam hidup.

“Selamat, kita sudah menapaki tahun pertama dalam kehidupan kedua kita,” demikian pesan yang ditulis imam itu.

Namun ia tidak mendapat balasan. “Saya bisa mengerti karena ia juga butuh waktu dan ruang,” katanya.

Sejak mereka berdua melarikan diri bersama tahun lalu, mereka pernah bertemu hanya satu kali ketika Pastor Soganub pergi ke kampung halaman Ocopio untuk menghadiri sebuah perayaan syukur.

“Kami bicara soal kematian yang hampir merenggut nyawa kami, soal kematian psikis,” kata imam itu.

“Ini membantu kami melupakan trauma. Saya senang karena saya bersama seorang penyintas yang adalah teman saya,” lanjutnya.

Untuk merayakan tahun pertama “kehidupan kedua,” Pastor Soganub merayakan Misa dan mengadakan makan malam bersama teman, kerabat dan tetangganya di kampung halamannya di Cotabato Selatan, sekitar 260 kilometer dari Kota Marawi.

Menurutnya, menemui keluarganya bisa membantu mengatasi trauma.

“Sulit,” katanya, “karena saya punya luka mendalam.”

“Kami menghadapi kematian beberapa kali selama 117 hari,” katanya. “Saya mohon kepada Tuhan agar mendampingi saya dan memberkati saya dalam proses penyembuhan ini.”

 

Misi Berlanjut

 

Pastor Soganub tetap percaya bahwa apa yang terjadi terhadap dirinya itu terjadi karena sebuah alasan.

“Saya akan mengatasi situasi ini. Saya akan melewati apa yang telah terjadi terhadap diri saya,” katanya, seraya berjanji untuk melanjutkan upaya damai di Mindanao.

“Saya akan melanjutkan karya damai. Ini yang ingin saya lakukan sejak saya masih muda,” katanya. “Hidup itu singkat, dan kita harus memanfaatkannya dengan baik.”

Pastor Soganub telah berkarya di Kota Marawi selama 23 tahun. Baru-baru ini ia sangat aktif dalam mengkampanyekan perdamaian di wilayah konflik di Mindanao.

“Saya percaya orang menganut suatu agama adalah karena ingin menciptakan perdamaian tanpa memandang agama yang dianutnya,” katanya.

Kesalahpamahan bisa diatasi jika manusia menggunakan hati mereka. “Setiap orang punya hati. Jika kita bisa bicara dari hati ke hati meskipun agama kita berbeda, kita akan saling memahami satu sama lain,” lanjutnya.

Meskipun sesuatu telah terjadi terhadap dirinya, tanggapan imam itu selalu perdamaian dan cinta kasih “karena jalan Yesus adalah jalan damai.”

Ketika “tahun baru” baginya mulai, ia akan terus mendoakan para sandera yang tidak selamat khususnya dua putra altar – John Wilbert Aninon Pasiorco dan Sam Magumpit.

“Saya akan berdoa bagi kalian,” katanya. “Bagi mereka yang selamat seperti saya, Tuhan memberkati kalian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi