UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengadilan Pakistan Perintahkan Penangkapan Terhadap Wartawan Katolik

September 26, 2018

Pengadilan Pakistan Perintahkan Penangkapan Terhadap Wartawan Katolik

Jurnalis memprotes di luar kantor Dawn di Karachi pada 11 Juli karena larangan mendadak pada beredarnya surat kabar di beberapa bagian Pakistan. (ucanews.com)

Pengadilan Pakistan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap jurnalis Katolik, Cyril Almeida, atas tuduhan berkhianat saat mewawancarai perdana menteri Nawaz Sharif yang sudah diturunkan dari jabatannya.

Almeida, yang bekerja untuk surat kabar berbahasa Inggris harian Dawn, mewawancarai Sharif pada 12 Mei ketika mantan perdana menteri menyesali lambannya persidangan kasus serangan teror Mumbai.

“Organisasi militan masih aktif. Sebut mereka aktor non-negara. Haruskah kita membiarkan mereka menyeberangi perbatasan dan membunuh 150 orang di Mumbai? Jelaskan kepada saya. Mengapa kita tidak bisa menyelesaikan persidangan?” kata Sharif kepada Almeida setelah melakukan protes di Multan, menyusul pemecatannya dalam kasus Panama Papers.

Wawancara itu memicu kemarahan Pemerintah Pakistan di tengah seruan kelompok-kelompok oposisi untuk mengadili Sharif karena berkhianat.

Kasus itu kemudian didaftarkan oleh seorang warga negara, Amina Malik, yang menuduh Sharif “memfitnah penegakan  keamanan.”

Kasus ini bermula pada 24 September, ketika Pengadilan Tinggi Lahore memerintahkan mantan perdana menteri dan Almeida untuk muncul pada sidang berikutnya sambil mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi mereka.

Pengadilan juga memerintahkan agar Almeida dilarang bepergian ke  luar negeri dengan menempatkan namanya di daftar cekal keluar.

Almeida menulis di Twitter kemarin untuk mengkonfirmasi perintah pengadilan. “Sudah berbicara dengan pengacara, ada surat perintah, saya kembali dicekal dan harus muncul menghadiri sidang di hadapan pengadilan pada 8 Oktober … bagaimana hari Senin Anda?” katanya di Twitter.

Sementara itu, kelompok hak asasi independen Pakistan mengeluarkan pernyataan yang menyesalkan perintah pengadilan tersebut.

Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) mengatakan Almeida, seorang jurnalis yang banyak dibaca dan sangat dihormati, sedang diburu tidak lain karena melakukan pekerjaannya saat  berbicara dengan tema  “catatan untuk seorang tokoh politik”  dan melaporkan fakta-fakta.

Sebagai warga negara yang taat hukum, Almeida tidak memiliki alasan untuk tidak tampil di hadapan pengadilan seperti yang diperintahkan. Menempatkan dia di daftar cekal dan mengeluarkan surat perintah penangkapan  adalah tindakan yang berlebihan, katanya.

“Kemudahan yang didapat saat mewawancarai Mr Almeida dengan mantan perdana menteri dianggap sebagai upaya untuk mencemarkan nama baik lembaga-lembaga negara, dan langkah di mana ini terus  bergulir menjadi tuduhan pengkhianatan, hanya berfungsi untuk lebih menekan kebebasan pers di Pakistan. Jurnalisme  yang masuk akal, rasional, independen – bukan kejahatan. Itu pasti bukan pengkhianatan, “kata HRCP.

Komisi mendesak pengadilan untuk memberi Almeida kesempatan untuk melakukan pembelaan di sidang yang dijadwalkan atas kemauannya sendiri dan agar namanya dihapus dari ECL segera.

Kolumnis Dawn itu juga sebelumnya menjadi perbicangan hangat setelah mengungkapkan bagaimana mantan menteri utama Punjab, Shehbaz Sharif, adik Nawaz Sharif, menuduh militer Pakistan beroperasi untuk membebaskan militan Kashmir di bawah tahanan oleh pihak berwenang.

Sementara itu, pesan dukungan untuk jurnalis tersebut di Twitter dengan tagar  #IStandWithCyril menjadi tren teratas di Pakistan.

“Sungguh lucu … seorang jurnalis sedang diadili dengan alasan pengkhianatan karena melaporkan dan mewawancarai seorang pemimpin politik, ini adalah ejekan terhadap hukum dan konstitusi itu sendiri,” twit Asma Shirazi, seorang jurnalis dan penyiar televisi serta pemenang penghargaan.

“Serius ? Saya bahkan tidak bisa membentuk kalimat yang koheren untuk menggambarkan absurditas tentang kasus ini. Mari kita setidaknya berpura-pura menjadi negara yang normal – bahkan jika hanya di permukaan – ini luar biasa,” tulis Sana Bucha, jurnalis TV lain, di akun Twitter-nya.

Dalam laporannya pada 12 September, Komite Perlindungan Jurnalis, kelompok pemantauan media global, mengatakan iklim kebebasan pers di Pakistan memburuk. Ia menuduh militer yang kuat di negara itu diam-diam tetapi secara efektif mendorong self-censorship.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi