UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pulang dari Baltik Paus Bahas Pelecehan Seksual, Kesepakatan Cina

September 27, 2018

Pulang dari Baltik Paus Bahas Pelecehan Seksual, Kesepakatan Cina

Paus Fransiskus berbicara kepada media selama penerbangan kembali dari Tallinn, bagian terakhir dari kunjungannya ke negara Baltik, Estonia, pada 25 Sept. (Foto: Max Rossi/AFP)

Pemahaman Gereja Katolik telah berkembang dalam pemahamannya tentang masalah pelecehan seksual yang dilakukan klerus dan masalah serius yang ditimbulkan karena menutupinya, kata Paus Fransiskus.

Kembali ke Roma dari perjalanan 22-25 September ke negara-negara Baltik, Paus Fransiskus  ditanya tentang ceramahnya kepada kaum muda di Tallinn, Estonia, ketika dia mengatakan orang-orang muda tidak puas ketika mereka melihat gereja gagal mengatasi pelecehan dengan jelas.

“Kaum muda kecewa dengan kemunafikan orang dewasa, kecewa oleh perang, oleh kurangnya koordinasi, oleh korupsi, dan korupsi itu adalah yang digarisbawahi – pelecehan seksual – datang,” kata paus .

Menurut paus, apa pun statistik yang dikatakan tentang tingkat perlakuan kejam klerus, “meski hanya satu pelecehan dari  seorang imam terhadap seorang anak laki-laki atau perempuan, itu mengerikan, karena dia dipilih oleh Allah untuk membimbing anak itu ke surga.”

Fakta bahwa pelecehan anak terjadi di banyak lingkungan tidak mengurangi skandal, katanya.

Namun tidak benar bahwa gereja tidak melakukan apa-apa “untuk membersihkannya,” kata Paus Fransiskus kepada wartawan.

Jika seseorang melihat laporan pengadilan Pennsylvania yang dirilis pada bulan Agustus atau penelitian tentang penyimpangan  serupa lainnya, lanjut Paus, jelas bahwa sebagian besar kasus terjadi beberapa dekade yang lalu “karena gereja menyadari bahwa harus melawannya dengan cara yang berbeda.”

“Pada zaman dahulu hal-hal ini ditutup-tutupi – tetapi mereka ditutupi juga dalam keluarga, ketika seorang paman melecehkan keponakannya, atau seorang ayah memperkosa anaknya, itu ditutupi karena itu sangat memalukan,” kata Paus Fransiskus. “Begitulah cara orang berpikir pada abad terakhir.”

Untuk memahami apa yang terjadi di masa lalu, kata paus, seseorang harus ingat bagaimana pelecehan  ditangani.

“Masa lalu harus ditafsirkan menggunakan penafsiran sesuai zaman,” kata Paus Fransiskus. “Kesadaran moral” manusia berkembang seiring waktu, katanya, menunjuk pada hukuman mati sebagai contoh.

Tapi, katanya, “lihatlah contoh Pennsylvania. Lihatlah proporsi dan Anda akan melihat bahwa ketika gereja mulai memahami, itu semua bisa dilakukan.”

Bahkan, kata paus, dia telah mendorong para uskup untuk melaporkan kasus-kasus kepada Kongregasi untuk Ajaran Iman, dan dia “tidak pernah,” memberikan amnesti kepada seorang imam yang dinyatakan bersalah melakukan pelecehan.

Paus Fransiskus tidak menyinggung nama Uskup Agung Carlo Maria Vigano, mantan duta besar untuk Amerika Serikat, yang mengklaim bahwa Paus Fransiskus mengetahui dan mengabaikan pelanggaran seksual mantan Kardinal Theodore E. McCarrick. Dan wartawan tidak menanyakan tentang Uskup Agung Vigano karena paus bersikeras bahwa sebagian besar pertanyaan terkait langsung dengan perjalanannya ke Lithuania, Latvia dan Estonia.

Tetapi paus memang mengatakan bahwa “ketika ada pernyataan yang terkenal dari mantan nuntius, uskup dari seluruh dunia menulis pesan untuk memberitahu saya bahwa mereka dekat dengan saya dan berdoa untuk saya.”

Salah satu suratnya, katanya, berasal dari China dan ditandatangani bersama oleh seorang uskup dari Asosiasi Patriotik Katolik Cina yang dikendalikan pemerintah dan seorang uskup dari “gereja misionaris, Gereja Katolik tradisional.”

Wartawan juga menanyakan kepada paus tentang perjanjian Vatikan-Cina untuk pencalonan para uskup, yang diumumkan 22 September sementara paus berada di Lithuania, dan tentang penderitaan umat Katolik Cina yang telah mempertaruhkan hidup mereka untuk tetap setia kepada paus dan tidak menerima kendali pemerintah komunis atas gereja.

Beberapa umat Katolik di China “masih terus menderita” dan merasa dikhianati, katanya, “tetapi mereka memiliki iman yang besar” dan pada akhirnya akan mempercayai paus.

Paus Fransiskus memuji tim perunding Vatikan yang bekerja “dua langkah maju, satu langkah mundur” selama 10 tahun, tetapi ia bersikeras bahwa ia menanggung semua tanggung jawab untuk perjanjian itu dan, terutama, untuk mengatur keberadaan dari tujuh uskup yang telah ditahbiskan tanpa persetujuan  Vatikan

Dengan setiap “perjanjian damai” dan setiap negosiasi, katanya, “kedua belah pihak kehilangan sesuatu” dan bagi Vatikan yang memegang kendali penuh atas pencalonan para uskup.

Namun, katanya, orang harus ingat bahwa selama berabad-abad raja-raja Spanyol dan Portugal menominasikan para uskup Amerika Latin, dan kaisar Austro-Hungaria melakukan hal yang sama di wilayah mereka.

Perjanjian Vatikan-Sino yang baru, kata Paus Fransiskus, berhasil  membentuk “dialog tentang calon yang akan datang” untuk keuskupan di China, “tetapi pengangkatannya tetap menjadi wewenang paus – biarkan itu jelas.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi