UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Cebu Minta Bencana Longsor Mematikan di Filipina Diselidiki 

September 28, 2018

Uskup Cebu Minta Bencana Longsor Mematikan di Filipina Diselidiki 

Seorang wanita bereaksi setelah mengetahui bahwa seorang kerabatnya tewas akibat tanah longsor di Propinsi Benguet di Filipina bagian utara pada 16 September lalu. (Foto: Jire Carreon)

Uskup Agung Cebu Mgr Jose Palma tengah meminta penyelidikan yang memadai terhadap bencana tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 62 orang di Propinsi Cebu, Filipina bagian tengah.

Menurut Mgr Palma, tragedi itu menuntut “instrospeksi yang lebih mendalam” guna mencegah bencana terjadi lagi di masa yang akan datang.”

Prelatus itu mengatakan evaluasi atas apa yang terjadi hendaknya “memperhatikan tuntutan akan keadilan.”

Jumlah korban tewas dalam bencana tanah longsor yang melanda dua desa di Kota Naga pada Kamis (20/9) itu bertambah menjadi 63 orang sampai pada Kamis (27/9). Sekitar 28 orang lainnya dinyatakan hilang.

Tragedi itu memaksa pemerintah pada Jumat (21/9) untuk menunda operasi tambang besar di beberapa wilayah di seluruh negara itu.

Menteri Lingkungan Hidup Roy Cimatu mengatakan penundaan itu akan memberi waktu bagi pemerintah untuk mengevaluasi berbagai kegiatan di zona berbahaya.

Sementara itu, Mgr Palma tidak ingin mengomentari operasi itu. Namun ia mendesak pemerintah agar memperhatikan kepentingan generasi penerus dalam membuat keputusan terkait lingkungan.

“Biarlah tinjauan masa depan dipikirkan dalam evaluasi dengan menekankan kebaikan bagi generasi penerus,” katanya.

Ia mengatakan bencana tanah longsor itu seharusnya bukan menjadi momentum untuk saling menyalahkan melainkan sebuah kesempatan bagi umat Katolik untuk membantu para korban dan keluarga mereka.

Lembaga sosial Keuskupan Agung Cebu telah meminta bantuan untuk mereka yang terdampak.

Seminggu setelah bencana tanah longsor itu terjadi, otoritas terus mencari korban yang selamat.

Sementara itu, di Filipina bagian utara, otoritas menghentikan misi pencarian dan penyelamatan dan mengalihkannya menjadi pencarian 20 penambang yang masih terkubur tanah longsor yang terjadi pada Minggu (16/9) lalu. Bencana tanah longsor ini mengubur lubang perlindungan di sebuah desa tambang di Propinsi Benguet.

“Mereka kini diasumsikan tewas,” kata Victorio Palangdan, walikota Itogon.

“Kami belum menemukan satu pun korban selamat yang tertimbun. Satu-satunya korban selamat yang kami selamatkan sebenarnya tidak tertimbun,” katanya.

Sebanyak 54 mayat telah ditemukan.

Hujan deras akibat angin kencang memicu terjadinya tanah longsor, Otoritas mengatakan angin topan menewaskan lebih dari 100 orang di beberapa wilayah di negara itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi