UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Awam Katolik Italia, Imam Asal Belanda Dapat Anugerah Kebudayaan 2018

Oktober 1, 2018

Awam Katolik Italia, Imam Asal Belanda Dapat Anugerah Kebudayaan 2018

Valeria Martano (tengah, mengenakan blus warna coklat) berpose bersama anggota Komunitas Sant’Egidio setelah menerima Anugerah Kebudayaan untuk kategori Perorangan Asing. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Seorang wanita Katolik asal Italia berusia 62 tahun dan seorang imam kelahiran Belanda berusia 76 tahun baru-baru ini memenangkan Anugerah Kebudayaan 2018 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas kontribusi mereka dalam memperkuat karakter bangsa Indonesia.

Valeria Martano, koordinator Komunitas Sant’Egidio untuk wilayah Asia, dan Pastor Leonardus Egidius Joosten Ginting Suka OFMCap, seorang imam yang telah memasuki masa purna tugas, menerima penghargaan tersebut pada sebuah seremoni yang digelar di aula kementerian di Jakarta Pusat pada Rabu (26/9) pekan lalu.

Valeria – juga seorang doktor di bidang agama dan sejarah – mendapat penghargaan untuk kategori Perorangan Asing atas upayanya dalam mempromosikan dialog antaragama dan perdamaian melalui komunitasnya di Indonesia sejak 1990.

Sejak saat itu, Valeria – yang telah menulis lima buku dalam bahasa Italia – terlibat aktif dalam beberapa dialog antaragama dengan sejumlah tokoh Muslim di Indonesia dan juga di Roma, Italia.

Wanita awam Katolik kelahiran Roma pada 2 Mei 1956 itu juga menjadi koordinator bantuan kemanusiaan untuk korban gempa dan tsunami di Propinsi Aceh pada 2004 dan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2006.

Ia juga berperanserta dalam mencapai nota kesepahaman dengan Muhammadiyah pada 2012. Nota kesepahaman ini diperbarui pada 2017 lalu.

Sementara itu, Pastor Leonardus memenangkan penghargaan untuk kategori Pelestari.

Pastor Leonardus Egidius Joosten Ginting Suka OFMCap memegang sertifikat Anugerah Kebudayaan untuk kategori Pelesteri. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)  

 

Sejak menginjakkan kaki pertama kali di Kecamatan Pakkat, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara, pada 1971, imam yang akrab disapa Pastor Leo itu telah menunjukkan perhatian besar terhadap kebudayaan Suku Batak.

Imam yang diterima secara resmi sebagai warga negara Indonesia pada 1994 dan mendapat marga Ginting Suka pada 1999 itu telah menulis tujuh buku dan kamus baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Selain itu, imam kelahiran Nederwetten, Belanda, pada 9 September 1942 itu juga mendirikan tiga gereja Katolik dengan karakteristik kebudayaan Suku Batak, baik Suku Batak Karo maupun Suku Batak Toba, dan membangun dua museum untuk memperlihatkan keanekaragaman kebudayaan Suku Batak Karo dan Suku Batak Toba.

Sebelumnya, pada 2015, Pastor Leo mendapat Penghargaan Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancaga Bandung, Propinsi Jawa Barat.

Selain Valeria dan Pastor Leo, ada 49 penerima Anugerah Kebudayaan 2018 lainnya untuk kedua kategori tersebut dan juga kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru; Anak dan Remaja; Maestro Seni Tradisi; Pemerintah Daerah; dan Komunitas.

“Ada satu tanda penting bagi Komunitas Sant’Egidio Indonesia dengan penghargaan ini. Artinya bahwa komunitas dihargai – walaupun ini dimulai dari minoritas – oleh negara, pemerintah. Ini memberi semangat juga kepada pemuda kita sehingga mereka merasa bangga dan bisa membawa semangat pesan damai kepada masyarakat pinggiran dan orang miskin di kota,” kata Valeria kepada ucanews.comseusai seremoni.

Menurutnya, Komunitas Sant’Egidio sangat berkomitmen untuk mempromosikan dialog antaragama sejak 1986 ketika Paus Yohanes Paulus II memulai Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian di Assisi, Italia.

“Dia yang mengajar bahwa setiap agama di dunia ada prinsip damai, ada perasaan untuk damai. Dan kami, Komunitas Sant’Egidio mulai mengikuti ajaran Paus Yohanes Paulus II. Ini kami lakukan karena ajaran Paus Yohanes Paulus II yang diteruskan oleh Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus dengan memberi semangat kepada umat Katolik agar mencari damai dengan Saudara-Saudari dari agama yang berbeda. Ini merupakan misi dan identitas umat Kristiani abad ini,” lanjutnya.

Ia mengaku tertarik dengan Indonesia atas konsep negara pluralis yang dimilikinya.

“Ini sesuatu yang sangat menarik. Dan kami Komunitas Sant’Egidio percaya pluralisme dari dasar iman Kristiani. Kami pikir model ini harus dikuatkan, disemangati,” katanya, seraya menambahkan bahwa Komunitas Sant’Egidio telah memulai Gerakan Pemuda Damai di Bandung dan gerakan ini akan dikembangkan di 17 kota di Indonesia.

Sementara itu, Pastor Leo memilih berkarya di Propinsi Sumatera Utara sebagai seorang misionaris karena kekagumannya akan kekayaan kebudayaan setempat.

Menurutnya, keanekaragaman kebudayaan di Indonesia itu hal yang luar biasa. “Untuk saya, seluruh kebudayaan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu sungguh luar biasa. Kebudayaan ini asli. Ini perlu dijaga. Sayang kalau tidak dijaga. Itu maksud saya mendukung,” katanya kepada ucanews.com.

Pastor Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno SJ, seorang anggota tim penilai untuk kategori Perorangan Asing, membeberkan alasan mengapa Valeria memenangkan penghargaan itu.

“Valeria sudah lama aktif dalam Komunitas Sant’Egidio. Dia giat terus untuk dialog pemahaman antara Islam di sini, didialogkan dengan Eropa khususnya di Italia dan sekitarnya. Dan jangan lupa, Komunitas Sant’Egidio itu adalah komunitas, gerakan dari kepausan,” katanya kepada ucanews.com.

“Waktu itu disadari, ini pokok berikutnya, bahwa tidak cukup dialog intelektual, pemahaman saja. Tapi juga harus mengikuti tokoh-tokoh pemimpin politiknya. … Jadi dialog makin disadari dalam perkembangannya bahwa pemimpin dan massa, atau rakyat, juga harus dipertemukan,” lanjutnya.

Menurut imam itu, alasan utamanya adalah Komunitas Sant’Egidio merupakan gerakan untuk perdamaian. “Perdamaian hanya akan beres kalau di antara religi juga saling mengerti, saling memahami. Artinya apa? Religi tidak dipakai untuk politisasi, kekuasaan, pembenaran diri sendiri,” katanya.

Hal itu, lanjutnya, cukup sulit dilakukan. Tetapi Valeria bisa menjembatani dengan berbasis pada kemanusiaan. “Yang dia cermati terus itu fokus pada hubungan antara Islam dan Kristiani itu sendiri. Dan jalan yang ditempuh adalah jalan kebudayaan,” tegasnya.

 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi