UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Minoritas Bangladesh Minta Jaminan Keamanan Saat Pemilu

Oktober 2, 2018

Minoritas Bangladesh Minta Jaminan Keamanan Saat Pemilu

Orang Kristen di Bangladesh ikut ambil bagian dalam aksi yang diselenggarakan pada 28 September di Dhaka. (Foto: Raphael Palma)

Pemimpin Kelompok minoritas dan aktivis liberal terus menyerukan jaminan keselamatan dan keamanan bagi minoritas agama dan etnis di Bangladesh yang berpenduduk mayoritas Muslim pra dan pasca pemilihan umum  yang diselenggarakan pada akhir Desember atau awal Januari.

Kekhawatiran itu diungkapkan pada pertemuan nasional di ibukota Dhaka pada 28 September. Sekitar 50.000 orang, sebagian besar umat Hindu, Budha, Kristen dan anggota kelompok etnis, menghadiri acara di Taman Suhrawardy Udayan.

Acara ini diselenggarakan oleh Hindu Buddhist Christian Unity Council, forum hak asasi  minoritas antaragama terbesar di Bangladesh, bekerja sama dengan 22 organisasi hak asasi minoritas yang berafiliasi.

Belajar dari pengalaman pahit serangan bermotif politik pada kelompok minoritas pra dan pasca jajak pendapat nasional sebelumnya, pembicara mempresentasikan tuntutan yang mereka katakan sangat penting untuk “eksistensi dan keamanan minoritas.”

Mereka menyerukan kepada pemerintah untuk menjamin  penuh keamanan kaum minoritas pra dan pasca pemungutan suara, untuk mencegah partai-partai politik mengajukan kandidat yang secara langsung atau tidak langsung telah menjadi penyebab penyiksaan terhadap minoritas, dan untuk memastikan perwakilan kelompok minoritas di parlemen sebanding dengan jumlah mereka.  Mereka juga ingin partai-partai berjanji untuk mendirikan sebuah kementerian bagi kaum minoritas dalam pernyataan politik di depan konstituen mereka.

Minoritas dan tuntutan minoritas adalah sah karena penyiksaan terhadap minoritas sangat umum di Bangladesh, kata Anisuzzaman, seorang akademisi terkemuka, penulis dan profesor emeritus Universitas Dhaka.

“Kami memerdekakan diri dari Pakistan pada tahun 1971 untuk membangun sebuah negara di mana para warga dari semua kelompok etnis dan agama dapat hidup bebas dan damai. Namun, kami melihat minoritas sering disiksa oleh kelompok mayoritas, dan itu sangat menyedihkan dan harus dihentikan,” kata Anisuzzaman, seorang Muslim. “Kita harus menggunakan semua kekuatan untuk mencegah komunalisme dan fanatisme di Bangladesh.”

Advokat Sultana Kamal, aktivis hak asasi manusia terkemuka, menggemakan sentimen tersebut.

“Setelah 47 tahun kemerdekaan, mengapa ini terjadi? Negara telah gagal untuk memastikan bahwa negara kita adalah tempat di mana para warga dari semua agama dapat hidup bersama dengan martabat, persamaan hak dan lingkungan untuk pertumbuhan dan kemakmuran tanpa disparitas,” kata Kamal. , yang juga seorang Muslim.

Shahriar Kabir, seorang jurnalis terkemuka, penulis, pembuat film dan tokoh sekuler, mengatakan minoritas terus menderita sekitar 10.000 kasus pelanggaran hak asasi manusia sejak 2005, dan sebagian besar kasus bermotif politik atau kejahatan kebencian.

“Jika Pemerintah Bangladesh merancang sebuah pelayanan terpisah  untuk distrik perbukitan, kita pasti dapat memiliki sebuah kementerian khusus bagi minoritas di negara itu untuk mengatasi masalah mereka di tingkat nasional,” kata Kabir.

Nirmol Rozario, seorang Katolik dan ketua Asosiasi Kristen Bangladesh, menuduh bahwa tuntutan telah ada selama bertahun-tahun tetapi pemerintah tidak pernah mau mendengarkan.

“Dalam pemilihan mendatang, kami menginginkan kandidat yang akan mendukung kepentingan dan hak minoritas. Kami tidak ingin memilih para wakil kami  yang pernah menyiksa minoritas di masa lalu dalam banyak hal,” kata Rozario.

Muslim membentuk sekitar 90 persen dari populasi 160 juta penduduk Bangladesh. Umat ​​Hindu berjumlah sekitar 8 persen dan sisanya terbentuk dari  berbagai agama termasuk Budha dan Kristen. Ada sekitar tiga juta penduduk etnis asli.

Bangladesh menyelenggarakan  pemilihan parlemen setiap lima tahun. Ada 350 kursi di parlemen termasuk 50 kursi yang diperuntukkan bagi perempuan, tetapi tidak ada kursi khusus bagi kaum minoritas.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi