UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Manila Tolak Perpanjangan Visa Biarawati Asal Australia

Oktober 8, 2018

Manila Tolak Perpanjangan Visa Biarawati Asal Australia

Suster Patricia Fox memperlihatkan permohonan perpanjangan visa misionaris yang diajukannya kepada Kantor Imigrasi Filipina pada 3 September lalu. (Foto: Angie de Silva/ucanews.com)

Kantor Imigrasi Filipina (KIF) menolak “secara final” permohonan perpanjangan visa misionaris di negara itu yang diajukan oleh Suster Patricia Fox asal Australia.

Dalam rilis dua halaman yang disampaikan kepada media pada Senin (8/10), KIF mengatakan Suster Patricia “gagal menyampaikan argumen baru dan substansial.”

Menurut rilis tersebut, mosi yang diajukan oleh Suster Patricia hanya berisi “pengulangan atau penyampaikan kembali argumen yang pernah diajukan sebelumnya sehingga tidak layak.”

Visa milik Suster Patricia habis masa berlakunya sejak 5 September. Ia mengajukan perpanjangan masa berlaku tetapi ditolak delapan hari kemudian.

Dalam keputusannya, KIF mengatakan jika permohonan perpanjangan visa disetujui hal ini akan “inkonsisten dengan penemuan yang disebutkan dalam perintah deportasi terhadapnya.”

Pada Juli lalu, otoritas setempat memerintahkan Suster Patricia untuk meninggalkan Filipina setelah ia dinyatakan sebagai “orang asing yang tidak dikehendaki” oleh KIF.

Dalam sebuah resolusi setebal 10 halaman disebutkan bahwa Suster Patricia “melanggar batasan dan persyaratan visa misionaris” karena diduga bergabung dengan kegiatan-kegiatan politik partisan.

Suster Patricia – yang adalah superior regional dari Kongregasi Puteri-Puteri Bunda Maria dari Sion atau sebuah kongregasi internasional – ditangkap dan ditahan selama satu malam pada 16 April karena “bergabung dengan aksi protes politik.”

KIF memerintahkan Suster Patricia untuk mengembalikan visa misionaris miliknya pada bulan itu dan memberi waktu kepada kepadanya selama 30 hari untuk meninggalkan negara itu.

Pada 25 Mei, menyusul permohonan dari para pengacara Suster Patricia, Departemen Kehakiman membatalkan perintah tersebut dan mengembalikan visa milik Suster Patricia yang masa berlakunya berahhir pada September lalu.

Namun humas KIF Dana Krizia Sandoval mengatakan komisioner dalam KIF kemudian menyampaikan bahwa tidak ada alasan yang sah untuk membatalkan penolakan perpanjangan visa yang diajukan sebelumnya. Suster Patricia kini harus mengajukan visa pengunjung.

“(Ini akan) menurunkan statusnya menjadi pengunjung sementara dan ia akan diberi waktu 59 hari sejak masa berlaku visanya habis,” katanya.

Jika hal itu ditolak, lanjutnya, Suster Patricia bisa dideportasi lagi.

Suster Patricia tengah menghadapi perintah deportasi secara terpisah dari KIF dan ia tengah memohon kepada Departemen Kehakiman.

Para pemimpin Gereja di Filipina telah berulangkali mengecam perintah itu. Menurut mereka, hal ini merupakan langkah pemerintah untuk mengganggu orang-orang yang menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.

Forum Para Uskup Ekumene meminta Gereja-Gereja Kristen untuk kembali mendukung Suster Patricia dan semua misionaris yang mengalami persekusi karena karya mereka bersama dan untuk orang miskin.

Suster Patricia telah berkarya di Filipina selama 27 tahun. Ia memimpin kelompok Misi Desa Filipina selama delapan tahun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi