UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengabdian Suster Ini Mendatangkan Berkah Bagi Difabel

Oktober 10, 2018

Pengabdian Suster Ini Mendatangkan Berkah Bagi Difabel

Wanasingam Dilani, seorang guru di MARDAP Center di Mannar, Sri Lanka, mengatakan bahwa mengajar anak-anak disabilitas memiliki tantantangan tersendiri. ( Niranjani Roland/ucanews.com)

Mulai dari anak yatim piatu yang menjadi korban trauma atau cacat fisik, ratusan anak di distrik Mannar Sri Lanka masih mengalami trauma perang sipil selama 26 tahun yang berakhir satu dekade lalu.

Beberapa dari mereka kehilangan anggota badan akibat pemboman, sementara banyak yang masih dihantui oleh trauma perang, demikian menurut Suster Josephine Mary, dari Konggregasi Keluarga Kudus.

Dia menangani orang-orang yang menjalani amputasi dan anak-anak yang terganggu  kemampuan berbicara atau penglihatan, dalam kapasitasnya sebagai guru, setelah meluncurkan Asosiasi Mannar untuk Rehabilitasi Orang Berkemampuan Berbeda (MARDAP) pada tahun 2002.

“Kami telah mengidentifikasi hampir 2.000 anak di berbagai daerah dengan cacat fisik atau mental,” katanya. “Jadi kami berusaha untuk perlahan-lahan membawa mereka ke dalam sistem pendidikan utama di sini.”

Dia telah mengunjungi keluarga di bekas daerah yang dilanda perang selama bertahun-tahun untuk mengidentifikasi mereka yang memiliki setidaknya satu anggota tubuh cacat dan membantu upaya rehabilitasi keluarga.

Banyak orang tua bertanya kepadanya apakah mungkin memulai program seperti itu karena anak-anak mereka berjuang untuk berintegrasi ke dalam lingkungan kelas yang “normal” di sekolah yang dikelola pemerintah karena masalah perilaku dan lainnya, katanya, menambahkan ini menginspirasinya untuk membangun MARDAP.

“Ketika anak-anak memenangkan medali atau mendapatkan sertifikat di acara olahraga atau dari kompetisi lain, prestasi itu meningkatkan kepercayaan diri mereka sendiri,” katanya.

“Orang tua mereka juga senang melihat bagaimana mereka bertumbuh  dan terus berprestasi,” kata Suster Mary, direktur MARDAP.

Di sana, penyandang cacat dapat mengikuti pelatihan keterampilan, belajar cara menghasilkan pendapatan tetap, diajarkan bahasa isyarat, mendapatkan akses ke layanan kesehatan, dan berpartisipasi dalam acara olahraga dan program budaya.

Pemerintah menandatangani Konvensi PBB tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas pada tahun 2007 dan meratifikasinya pada tahun 2016 setelah hampir satu dekade.

MARDAP juga menyediakan pelatihan kejuruan bagi kaum muda, mengajari mereka cara membuat lilin, keset, seni dan kerajinan disamping itu  juga menawarkan pelatihan keterampilan komputer.

Suster Josephine Mary

Lembaga ini telah merubah garis hidup  lebih dari 250 wanita yang tidak memiliki akses ke pendidikan atau pekerjaan dengan mengajari mereka bagaimana mendapatkan penghasilan tetap mereka sendiri sambil membantu mereka dengan menyediakan pinjaman mikro.

“Kami juga mengatur kelas yoga dan bentuk latihan fisik lainnya. Kami melibatkan mereka dalam pelajaran drama, menari, dan terapi wicara,” kata Suster Mary.

“Bahkan kami menggunakan keledai sebagai bentuk terapi. Kami dapat menyalurkan kemarahan dan emosi negatif anak-anak ke sesuatu yang lebih positif dengan mengajarkan mereka untuk merawat dan mencintai hewan.”

Lembaga ini sekarang menjalankan dua pusat pendidikan yang menawarkan pendidikan khusus, satu di Mannar dan lainnya di Murunkan.

Menurut statistik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada lebih dari satu miliar warga dunia yang hidup dengan cacat sejenis, termasuk 5,1 persen dari populasi global di bawah usia 15 tahun.

Di Sri Lanka, 8,7 persen dari populasi mengalami cacat fisik terhitung mulai 2012 dengan banyak dari mereka  dalam kelompok usia 15-29, demikian data dari Departemen Sensus dan Statistik.

Wanasingam Dilani telah bekerja dengan anak-anak cacat selama tiga tahun. Wanita berusia 33 tahun itu mengatakan bahwa dia telah terbiasa dengan kepekaan yang diperlukan karena kakaknya itu bodoh sementara ibunya, bibi dan pamannya tuli.

Dilani mengatakan bahwa lembaga itu menawarkan layanan antar jemput anak-anak pergi ke sekolah tepat waktu dan juga pulang dengan selamat. Sekitar 30 anak kini secara rutin mengikuti pelajaran di kelasnya, tambahnya.

Namun, mengajar juga memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak sering menyerang teman-teman mereka atau melempar buku mereka ke lantai karena frustrasi, kesepian atau ketakutan, kata Dilani.

“Dibutuhkan waktu lebih lama untuk mendekati mereka dan membuat mereka mempercayai Anda,” katanya. “Tapi seiring waktu kita menjadi teman, mereka mengikuti pelajaran, melakukan pekerjaan mewarnai mereka, dan mulai memperkenalkan  huruf dan angka.”

Dia mengatakan banyak orang tua yang senang anak-anak mereka dapat mengikuti pelajaran di sekolah secara gratis di dekat rumah mereka tetapi yang lain takut untuk membiarkan mereka keluar dari rumah.

“Anak –anak yang bertahan dengan program kami terus meningkat pesat,” kata Dilani, menambahkan bahwa anak-anak Muslim, Hindu dan Kristen semua berbaur dengan bebas di MARDAP.

“Dan mereka semua berterima kasih kepada  Suster Mary. Semua fasilitas ini ada di sini karena dia,” katanya. “Saya merasa sangat bangga bisa mengatakan saya mengajar di sini.”

Sedikitnya 16 anak telah “lulus” dari MARDAP dan telah berhasil disalurkan kembali ke dalam sistem pendidikan arus utama, katanya.

Edin Figurado, 41, bekerja sebagai manajer di organisasi meskipun membutuhkan kruk sendiri untuk berkeliling.

Dia mengatakan MARDAP lebih jauh memberi insentif kepada anak-anak dengan memasukkan sejumlah kecil uang ke dalam rekening bank mereka dan mengajari mereka bagaimana menginvestasikannya dalam pembuatan kerajinan atau cara lain untuk meningkatkan kualitas penghidupan.

Tanpa program seperti ini, “anak-anak hanya akan tinggal di rumah dan kurang percaya diri,” katanya.

“Saya dulu takut berbicara di depan audiens, tetapi sekarang saya bisa melakukannya berkat program kepemimpinan Suster Mary,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi