UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Diari Milik Imam Asal Cina yang Ditahan Ungkap Pergolakan Iman

Oktober 12, 2018

Diari Milik Imam Asal Cina yang Ditahan Ungkap Pergolakan Iman

Pastor Liu Honggeng, 47, hilang pada 7 Mei 2015 dari Keuskupan Baoding di Propinsi Hebei. Ini kali kedua bagi imam dari gereja bawah tanah di Cina itu ditahan. (Foto: Disediakan)

Diari milik seorang imam dari gereja bawah tanah di Cina yang diculik oleh otoritas setempat lebih dari tiga tahun lalu memperlihatkan kerelaannya untuk mati demi iman.

Pastor Liu Honggeng, 47, hilang pada 7 Mei 2015 dari Keuskupan Baoding di Propinsi Hebei, Cina bagian utara, setelah menelepon seorang kerabat. Keluarganya telah memberitahu polisi, tetapi polisi menolak melakukan investigasi.

Ini kali kedua Pastor Liu ditahan oleh otoritas Cina. Pada Desember 2006 lalu ia ditahan selama beberapa hari dan kemudian dibebaskan setelah ayahnya yang sudah tua tidak mau bergabung dengan Asosiasi Katolik Patriotik Cina yang disetujui pemerintah.

Diari yang diselundupkan itu memiliki beberapa catatan tertanggal 13-28 Juni 2015. Diari ini juga memberi gambaran akan ketetapan hati Pastor Liu.

Pastor Liu tidak menyebut siapa yang menculiknya. Namun ia mengatakan ia ditahan di sebuah pemakaman umum yang besar dan terisolasi yang dikelilingi oleh dinding batu bata yang atasnya terdapat kawat berduri.

Sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Pastor Liu dan minta tidak disebutkan namanya mengatakan keluarga imam itu menerima diari itu pada 2016. Awalnya mereka menolak, tetapi kemudian memutuskan bahwa niat imam itu adalah membuka diarinya untuk publik.

Dalam diarinya, Pastor Liu menulis pemikirannya tentang kemungkinan ia mengorbankan nyawanya demi Tuhan dan kesediaannya untuk “meniru aksi heroik” para orang kudus yang menjadi martir.

Namun ia jujur mengakui bahwa kadang-kadang ia bertanya kepada dirinya sendiri “apakah ia sudah siap?” dan merefleksikan pemikiran Paus Yohanes XXIII bahwa ide mengorbankan diri sebagai martir demi Tuhan membuatnya takut.

Pastor Liu mengaku bahwa ia harus “lebih banyak berserah kepada Allah, karena Kristus menderita bersama dirinya.”

Ia juga mengingat kenangan “para pendahulunya” termasuk Uskup Peter Joseph Fan Xueyan dari Cina dan Francois-Xavier Nguyen Van Thuan dari Vietnam – keduanya menghabiskan waktu cukup lama di dalam tahanan di bawah rezim komunis karena iman mereka.

Menurut Pastor Liu, “iman mereka mengilhami saya untuk mengikuti jejak mereka” dan “untuk menghidupi iman dalam sebuah momen khusus.”

Ia juga menyebut Uskup Su Zhimin dari Baoding yang dinyatakan hilang selama 21 tahun sebagai inspirasi. Uskup Su dianggap sebagai orang yang anti-revolusi oleh pemerintah komunis karena menolak bergabung dengan Asosiasi Patriotik Katolik Cina.

Selain itu, Pastor Liu mengenang saat ia pertama kali mengunjungi sebuah kebun binatang dan melihat beberapa binatang dikurung dan kemudian menarik sebuah analogi tentang cara manusia memperlakukan sesamanya.

“Otoritas menggunakan metode ini dalam memerintah negeri ini. Ini pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan hal yang memalukan bagi umat manusia,” tulisnya.

Meskipun tidak memiliki kebebasan, Pastor Liu mengatakan ia masih memimpin doa untuk umat, keluarga dan teman.

Ia mengatakan ia berpuasa setiap Hari Jumat dan “mereka yang melihatnya juga ikut berpuasa,” mereka hanya makan sayuran pada hari yang sama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi