UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengungsi Katolik Pakistan di Thailand Mohon Bantuan Vatikan

Oktober 17, 2018

Pengungsi Katolik Pakistan di Thailand Mohon Bantuan Vatikan

Pengungsi asal Pakistan berpelukan setelah dibebaskan bersyarat di Bangkok pada 6 Juni 2011. (Nicolas Asfouri/AFP)

Hingga seminggu yang lalu Saleem Iqbal mulai bebas bergerak dan menjalani hidup yang cukup baik sebagai seorang Kristen Pakistan yang sedang mencari suaka  dan tinggal di Bangkok. Namun sekarang tidak lagi.

Warga Katolik Pakistan itu mendapat status bebas bersyarat setelah menghabiskan sembilan bulan pada tahun 2015 di dalam Rutan Imigrasi (IDC) yang terkenal di kota itu, tempat tahanan sering menghabiskan bulan atau tahun dalam sel yang padat dan penuh sesak sampai mereka dideportasi.

Tetapi sekarang setelah pemerintah Thailand meningkatkan kampanye mereka terhadap imigran ilegal dan yang visanya kedaluarsa di negara itu, Iqbal terperangkap lagi dalam tahanan.

Sejak operasi itu dilancarkan,  otoritas imigrasi  menangkap lebih dari 2.200 warga negara asing di seluruh negeri, termasuk ratusan pencari suaka Kristen Pakistan.

Pekan lalu, 70 orang Kristen Pakistan yang baru saja ditahan dan Ahmadi Muslim dihukum oleh pengadilan Bangkok karena ijin tinggal mereka sudah habis atau memasuki negara itu secara ilegal. Mereka sekarang kemungkinan akan dideportasi kembali ke Pakistan, di mana  hidup mereka sangat terancam. Mereka kemungkinan berada dalam bahaya di tangan ekstremis Muslim yang terus menargetkan orang Kristen setempat.

Pratanda lain dari sikap resmi mereka yang keras terhadap pencari suaka, otoritas Thailand telah membatalkan jaminan untuk semua mantan tahanan. Itu berarti keesokannya Iqbal dan salah satu saudara laki-lakinya, yang juga telah dibebaskan, harus melakukan wajib lapor kembali ke rumah tahanan.

Mereka mungkin akan tinggal lebih lama di balik jeruji. “Saya tidak tahu berapa lama mereka akan menahan kami di sana,” kata Iqbal (bukan nama sebenarnya).

Aktivis hak asasi manusia mengutuk beberapa aspek dari tindakan keras pemerintah baru-baru ini terhadap pencari suaka.

“Sangat disayangkan bahwa pihak berwenang sekarang melakukan pendekatan keras semacam itu,” seorang aktivis hak asasi manusia yang bekerja untuk sebuah badan amal Katolik di Bangkok melaporkan kepada ucanews.com.

“Beberapa dari mereka ini adalah orang tua tunggal atau anak di bawah umur yang harus dilindungi tanpa memandang status hukum mereka,” kata aktivis hak asasi itu. Dia menambahkan bahwa dengan menangkap pengungsi tanpa pandang bulu, pemerintah setempat berisiko merusak citra negara.

“Melakukan  pendekatan yang lebih manusiawi dan sistematis untuk memantau mereka dengan jaminan akan menjadi  solusi praktis dan masuk akal,” katanya.

Iqbal meninggalkan tanah airnya dengan dua saudara laki-lakinya pada tahun 2014 setelah ancaman atas kehidupan mereka oleh Muslim setempat dengan tuduhan palsu penodaan agama. Ketiga saudara laki-lakinya telah diakui sebagai pengungsi bersertifikat oleh Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) di Bangkok – hak istimewa yang tidak dimiliki sebagian besar dari 2.500 pencari suaka Kristen Pakistan yang mendekam di ibukota Thailand.

Berkat status itu, Iqbal dapat pergi ke kota dengan bebas dan bahkan bekerja paruh waktu, mendapatkan penghasilan tambahan yang memungkinkannya untuk mendukung kehidupannya sendiri. Dia bahkan telah melakukan latihan fisik, mengubah bentuk tubuh yang sudah tidak berbentuk menjadi tubuh yang kencang.

Hanya sedikit pencari suaka Kristen lainnya yang menikmati kehidupan yang relatif mewah seperti itu. Sebagian besar dari mereka telah menerima bantuan dari badan amal Katolik dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka bersembunyi di apartemen sewaan murah, yang selalu takut jika tiba-tiba pihak berwenang mengetuk pintu.

Tindakan keras baru-baru ini terhadap pencari suaka membuat gelisah di kalangan orang Kristen Pakistan, yang sebagian besar datang dengan visa turis, bahkan ada yang berakhir pada tahun 2014 dan 2015.

“Kami dianiaya di negara kami, dan sekarang kami juga dianiaya di sini,” kata Iqbal. “Sudah waktunya warga dunia terbangun tentang apa yang terjadi.”

Permohonan mereka untuk bantuan ke kantor lokal UNHCR tidak mendapat tanggapan.

“Satu-satunya harapan kami sekarang adalah agar Vatikan terlibat,” kata Iqbal.

“Di masa lalu Paus Fransiskus meminta waga Eropa untuk menyambut dan melindungi pengungsi Suriah,” tambahnya. “Mungkin dia bisa melakukan hal yang sama untuk kami juga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi