UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Suku Dayak Mengenalkan Kitab Suci Lewat Ukiran

Oktober 19, 2018

Imam Suku Dayak Mengenalkan Kitab Suci Lewat Ukiran

Romo Matheus Yuli Pr (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Mater et Magistra (ibu dan guru). Inilah yang ada di dalam benak Romo Matheus Yuli Pr ketika ia diminta oleh uskup Ketapang saat itu, Mgr Blasius Pujaraharja, untuk merenovasi khususnya bagian dinding gereja Katedral St. Gemma Galgani pada akhir 2004.

Semua berawal ketika Romo Yuli – yang saat itu berkarya sebagai pastor paroki katedral – kembali dari Filipina. Pada suatu malam, seluruh kaca di atas gereja katedral roboh.

Gereja katedral dibangun dengan dana yang sangat terbatas pada 1998 ketika bangsa Indonesia tengah mengalami krisis finansial yang cukup parah. Dan pembangunan gereja katedral berlangsung selama dua tahun.

“Sehingga kondisinya tidak sempurna, tidak kuat. Temboknya pecah, kalau hujan banjir. Tidak ada apa-apa (di sana). Kalau Misa seperti Misa di gudang. Padahal itu (gereja) katedral,” kata Romo Yuli – yang kini berusia 63 tahun – kepada ucanews.com.

Setelah memperoleh surat tugas dari Mgr Pujaraharja, ia mengunjungi enam paroki di Surabaya, Jawa Timur, dan enam paroki di Jakarta untuk mencari dana. Dari semua paroki ini, ia memperoleh dana sekitar empat miliar rupiah.

Renovasi dimulai pada 2005.

“(Yang ada) di pikiran saya, gereja katedral adalah gereja pusat, sebagai contoh gereja-gereja paroki yang ada di keuskupan. Bukan hanya liturgi dan kehidupan pastoral, tapi juga fisiknya. Katedral disebut sebagai ‘Mater et Magistra,’” kata Romo Yuli.

“Gereja katedral yang berdiri di tengah-tengah masyarakat Dayak harus mengakar pada budaya Dayak,” lanjutnya.

Sebagai langkah awal, Romo Yuli – yang ditahbiskan sebagai imam diosesan pada 1988 – fokus pada dinding di bagian belakang altar. Dengan bermodalkan bakat seni yang diturunkan oleh orangtuanya – Petrus Peder dan Anastasia Elip, ia membuat desain ukiran kayu ulin yang menggambarkan beberapa kisah dalam Kitab Suci.

“Pada bagian bawah ada kisah Kelahiran Yesus, bagian atasnya kisah Perjamuan Malam Terakhir, di atasnya kisah Yesus Mati di Kayu Salib, di atasnya lagi kisah Tri Tunggal Maha Kudus, atasnya lagi kisah Yesus Raja Semesta Alam,” kata Romo Yuli.

Kolase gambar Yesus yang dilelang (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

 

Ukiran tersebut dibingkai dengan ukiran khas Dayak. Selain itu, ada juga ukiran seekor naga yang merupakan simbol budaya Cina.

Pada 1910, lima pedagang asal Cina datang ke wilayah itu. Beberapa tahun kemudian, dua orang pulang ke Cina. Sementara tiga orang lainnya – Tan A Hak, Tan A Ni dan Tan Kau Pue – tinggal di Desa Serengkah, Kecamatan Tumbang Titi. Tan A Hak yang memiliki hobi jalan-jalan kemudian memperkenalkan agama Katolik kepada warga Suku Dayak. Dan pada 1918, seorang kepala suku meminta dibaptis bersama dengan 68 anak Suku Dayak.

“Saya ingin memasang ukiran dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu,” kata Romo Yuli – yang pernah berkarya sebagai pastor paroki di Gereja St. Petrus dan Paulus di Nanga Tayap, St. Maria Assumpta di Tanjung dan St. Gabriel di Sandai.

Sebuah ukiran berukuran 4×6 meter yang menceritakan kisah Penciptaan, Pertobatan Paulus, Nabi Musa, Transfigurasi dan Tabut Perjanjian sudah dipasang di dinding sebelah kanan gereja katedral.

Untuk renovasi itu, Romo Yuli tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh seorang keponakannya dan juga lima umat Katolik. Mereka semua memiliki keterampilan seni.

“Sudah 70 persen selesai. Masih 30 persen lagi. Saya butuh tiga tahun lagi untuk menyelesaikannya,” kata Romo Yuli.

 

Lelang

Untuk mempercepat proses renovasi, sebuah acara lelang empat kolase atau lukisan tempel karya Romo Yuli dan para asistennya pun digelar pada akhir September di Jakarta.

Keempat kolase yang menggambarkan Yesus dan Bunda Maria dan Bayi Yesus serta dua motif khas Dayak dibuat dari manik-manik berwarna-warni.

“Pengerjaannya hampir lima bulan,” kata Romo Yuli – yang kini berkarya sebagai pastor rekan di gereja katedral itu.

Menurut panitia lelang, Michael Jeno, keahlian Romo Yuli untuk mempromosikan kisah-kisah dalam Kitab Suci melalui ukiran dan kolase memiliki nilai jual tersendiri.

Romo Matheus Yuli Pr menjelaskan tentang hasil karyanya yang dilelang kepada para tamu. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com

 

“Gereja katedral itu unik karena membumikan ajaran Katolik dengan tradisi budaya Dayak. Itu yang kita tonjolkan,” katanya, seraya menambahkan lelang itu juga bertujuan untuk membantu pembangunan rumah purna karya untuk kaum Religius di Keuskupan Ketapang.

Pembangunan rumah purna karya seluas 25×25 meter yang terletak di komplek gereja katedral akan dimulai tahun depan.

Lelang itu berhasil mengumpulkan dana hampir 100 juta rupiah.

Bagi Yakobus Kumis, salah seorang pemenang lelang, Romo Yuli adalah seorang imam yang luar biasa.

“Seorang pastor yang cerdas, inovatif. Beliau punya bakat seni yang luar biasa. Beliau adalah seorang pastor yang berkarya melalui karya seni, mau melihat orang memuliakan Tuhan melalui karya seni,” kata umat dari Paroki St. Herenimus di Tanjung Hulu yang dilayani oleh Keuskupan Agung Pontianak itu.

Sementara itu, Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prabdi – yang menggantikan Mgr Pujaraharja pada 2012 – menyebut upaya yang dilakukan Romo Yuli sebagai bentuk pengabdian.

“Artinya segala kemampuan, bakat, intelegensi yang diberikan oleh Allah betul-betul menjadi berkat bagi banyak orang. Kemudian diwujudkan dalam lukisan dan ukiran,” kata prelatus itu.

“Salah satu usaha juga untuk sebenarnya mewartakan iman. Artinya kemudian bagi banyak orang yang mempunyai kemampuan, bakat, bisa mengekspresikan itu. Ini satu perwujudan iman dia dan pemberian diri sehingga menjadi berkat bagi banyak orang,” lanjutnya.

Satu hal yang mendorong Romo Yuli untuk mengerjakan itu semua adalah Konsili Vatikan II.

“Di dalam budaya mana pun dan agama apa pun, Allah menampakkan diri,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi