UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Lansia Muslim Rasa Nyaman di Panti Wredha Milik Suster SRM

Oktober 30, 2018

Lansia Muslim Rasa Nyaman di Panti Wredha Milik Suster SRM

Suster Regina Soeyan Resiana memberikan makanan kepada para lansia di panti jompo yang dikelola Serikat Rosa Mistika (SRM) di Surakarta, Jawa Tengah. (Foto: Felix Ali/ucanews.com)

Sungguh  menyakitkan bagi Sardianto Muhammad, 69, ketika ia menyadari bahwa anak-anak yang dibesarkannya tidak lagi menginginkannya untuk tinggal bersama mereka.

Dia mengatakan mereka mulai menjauhkan diri setelah dia didiagnosa menderita penyakit paru-paru beberapa tahun yang lalu, sampai pada suatu titik di mana dia tidak lagi merasa seperti ayah mereka, atau malah diperlakukan seperti pembantu.

“Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya harus mencari rumah lansia yang lain, tetapi saya menolak. Saya meminta mereka untuk membawa saya ke sini,” katanya.

Sekarang ia tinggal di sebuah Rumah Lansia  yang dikelola oleh para suster Serikat Rosa Mistika (SRM) di Surakarta, Jawa Tengah, yang disebut Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta.

“Ketika istri saya sakit, dia dirawat di rumah sakit Katolik di Jawa Tengah sebelum dia meninggal. Layanan yang mereka berikan sangat bagus,” katanya.

Nur Iskandar, salah satu kerabat Muhammad, mengatakan pada awalnya pria tua itu kesal karena dijauhi oleh anak-anaknya. Tetapi kemudian dia menyadari bahwa dia telah mengambil keputusan yang tepat.

“Bahkan sebagai keluarga Muslim, kami percaya rumah ini adalah tempat terbaik untuk saudara kami karena layanan perawatan dan perlakuan yang manusiawi yang mereka berikan,” kata Iskander.

“Ada banyak rumah lansia di kota ini, tetapi kami sangat mempercayai rumah lansia  ini. Banyak dari keluarga kami dirawat oleh para biarawati di sini,” tambahnya.

 

Suster Regina Soeyan Resiana dari Serikat Rosa Mistika (Foto: Felix Ali/ucanews.com)

 

Suster Regina Soeyan Resiana, SRM mengelola fasilitas ini, yang dimulai  pada tahun 2001 dan melayani umat Katolik, Muslim, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu.

Pada awalnya  mereka menggunakan bangunan kosong milik  Yayasan Kanisius, sebuah lembaga Katolik yang didirikan oleh para Yesuit, tetapi seiring permintaan yang terus meningkat  memaksa mereka untuk segera berkembang terus.

“Sungguh luar biasa. Bahkan ketika gedung itu sedang dibangun, banyak orang ingin tinggal. Setelah direnovasi, mereka terus berdatangan,” kata suster itu.

Rencana awal dikhususkan untuk  rumah Lansia khusus untuk wanita. Tapi sejak 2004 rumah lansia itu juga dibuka untuk laki-laki karena para biarawati tidak dapat menolak mereka yang membutuhkan.

 

Rumah bagi yang ditinggalkan

 

Sekarang ini ada 59 lansia yang tinggal di rumah pusat untuk Lansia , kebanyakan di atas usia 65 tahun. Suster Regina tidak sendiri memberikan perawatan sehari-hari tetapi dibantu oleh staf dan relawan.

Biarawati itu mengatakan banyak dari penghuninya ditinggalkan oleh keluarga mereka.

“Sangat menyedihkan bahwa setelah mereka mengantar keluarga mereka ke sini, mereka pulang dan kami tidak pernah mendengar kabar dari mereka lagi. Bahkan tidak ada komunikasi sama sekali dengan keluarga,” katanya.

“Tapi kami tidak peduli dengan mereka. Kami berkonsentrasi pada layanan dan tanggung jawab kami untuk mengurus mereka yang tinggal di sini,” kata Suster Regina.

Bahkan ada yang tidak memiliki kerabat dan mereka diantar oleh orang-orang yang peduli pada mereka  ke sini.

“Kami memberikan pelayanan kepada siapa pun tanpa memandang etnis, agama, atau ras mereka. Setiap orang adalah anak Allah yang patut mendapatkan perhatian penuh kasih kami,” katanya.

Lansia Katolik mengadakan doa bersama setiap hari Rabu untuk memohon Kemurahan hati Allah. Sedangkan yang Muslim dan orang-orang dari agama lain juga diberikan ruang sembahyang terpisah sehingga mereka dapat mejalankan ibadah sesuai agama masing-masing.

Karena jumlah penghuni terus bertambah, Suster Regina berharap pemerintah akan mulai lebih memperhatikan kebutuhan rumah lansia ini.

“Kami tidak berharap banyak dari pemerintah daerah setempat karena mereka memiliki banyak rumah lansia juga, sama seperti rumah kami ini,” katanya.

 

Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta di Surakarta, Jawa Tengah pada awalnya hanya untuk lansia wanita. Tetapi kemudian menerima lansia pria. (Foto: Felix Ali/ucanews.com)

 

SRM adalah tarekat sekuler di mana anggotanya  mengikrarkan kaul kemiskinan, ketaatan , kemurniann dan dedikasi kepada Tuhan, gereja dan sesama. Karyanya antara lain berfokus pada katekese, pendidikan, bantuan hukum, penginjilan dan juga pelayanan bagi narapidana.

Konggregasi ini dimulai pada tahun 1982 oleh Pastor Henricus Constant van Deinse di Semarang, Jawa Tengah.

Sekarang mereka memiliki lebih dari 30 anggota yang tinggal di berbagai daerah di Indonesia termasuk Semarang, Jakarta, Bogor, Bandung dan kota-kota lain di Jawa dan Sumatra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi