UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sinode Desak Gereja untuk Mendengarkan Orang Muda

Oktober 30, 2018

Sinode Desak Gereja untuk Mendengarkan Orang Muda

Paus Fransiskus memimpin Misa penutupan Sinode Para Uskup di Basilika St. Petrus, Vatikan, pada 28 Oktober. (Foto: Claudio Peri/AFP)

Gereja Katolik dan semua anggotanya harus berusaha lebih baik dalam mendengarkan orang-orang muda, menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka dengan serius, mengakui mereka sebagai anggota penuh gereja, dengan sabar berjalan bersama mereka dan menawarkan bimbingan sewaktu mereka mencari cara terbaik untuk menjalankan iman mereka, menurut Sinode  para uskup.

Pada dokumen final, sinode itu berbicara tentang persahabatan, kasih sayang, seksualitas, dan “kecenderungan seksual,” walau isu-isu itu bukanlah pusat perhatian dalam dokumen akhir yang panjang yang dirilis pada 27 Oktober.

Sinode, yang berlangsung dari 3-28 Oktober di Vatikan, menyatukan 267 anggota kardinal dan uskup yang memiliki hak suara, 18 imam dan dua bruder, dan 72 ahli dan pengamat, termasuk puluhan  orang muda di bawah 30 tahun untuk membahas “Orang Muda, Iman, dan Diskresi Panggilan,” 

Fokus dari dokumen akhir adalah untuk meningkatkan cara-cara untuk mendukung panggilan baptisan kaum muda untuk menuju kekudusan, untuk menyambut kontribusi yang mereka berikan kepada gereja dan membantu mereka dalam proses mereka bertumbuh dalam iman dan dalam memutuskan cara hidup yang paling sesuai untuk apa yang Tuhan inginkan dari mereka.

Penekanan pada gereja yang mendengarkan orang-orang muda juga menyebabkan penekanan pada gereja yang mendengarkan semua orang, memperbarui komunitas dan struktur untuk sesuai dengan harapan sinode” di mana semua anggota mendengarkan, mendukung dan menantang satu sama lain dan berbagi tanggung jawab untuk gereja. misi menyebarkan Injil.

“Mendengarkan adalah perjumpaan dalam kebebasan, yang membutuhkan kerendahan hati, kesabaran, kemauan untuk memahami dan komitmen untuk mengerjakan tanggapan dengan cara baru,” kata dokumen itu. “Mendengarkan mengubah hati mereka yang menjalaninya, terutama ketika mereka mengambil sikap batin harmoni dan kepatuhan kepada Roh Kristus.”

Para uskup mengatakan bahwa mereka mendengar dari banyak orang muda perlunya “pertobatan budaya dan perubahan dalam praktik pastoral harian” untuk mempromosikan kesetaraan perempuan dalam masyarakat dan di gereja.

“Suatu bidang yang sangat penting dalam hal ini adalah kehadiran perempuan di lembaga-lembaga gereja di semua tingkatan, termasuk dalam peran kepemimpinan, dan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan gereja dan menghormati peran pelayanan yang ditahbiskan,” kata dokumen itu. . “Ini adalah tugas keadilan.”

Dokumen tersebut mengakui, di beberapa negara, anak-anak muda bergerak menjauh dari gereja atau mempertanyakan ajarannya, terutama tentang seksualitas.

Tanggapan gereja, kata sinode, harus menjadi komitmen dalam waktu dan kesabaran untuk membantu orang-orang muda “memahami hubungan antara kepatuhan mereka pada iman kepada Yesus Kristus dan cara mereka menjalani aktivitas harian dan hubungan interpersonal.”

Ajaran Gereja mengatakan semua orang dipanggil untuk kesucian dan menahan diri dari hubungan seksual di luar ikatan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita harus disajikan dengan jelas, tetapi tidak dengan sikap menghakimi, tambahnya.

Dokumen tersebut menyebutkan pertanyaan-pertanyaan kaum muda tentang homoseksualitas, orientasi seksual dan perbedaan antara pria dan wanita dan menyerukan “elaborasi yang lebih mendalam, antropologis, teologis dan pastoral” pada posisi gereja dalam isu-isu tersebut. Dokumen terakhir menggunakan istilah “kecenderungan seksual” daripada “orientasi seksual” seperti yang tercantum dalam draft dokumen.

“Sinode itu menegaskan kembali bahwa Allah mengasihi setiap orang dan demikian pula gereja, memperbarui komitmennya terhadap semua diskriminasi dan kekerasan berbasis seksual,” kata dokumen terakhir. “Ini juga menegaskan relevansi antropologis yang menentukan perbedaan dan hubungan timbal balik antara pria dan wanita dan menganggap itu reduktif untuk menentukan identitas orang-orang semata-mata atas dasar ‘orientasi seksual.”

Anggota sinode juga memuji kaum muda Katolik yang terlibat di paroki-paroki atau komunitas mereka, yang mendedikasikan diri mereka secara antusias untuk melayani dalam kegiatan gereja, yang membakti waktu dan bakat mereka untuk perayaan liturgi paroki dan yang bersedia melakukan lebih banyak hal lain. Namun, dokumen itu mengatakan, terlalu sering para relawan muda itu direcoki oleh para imam dan orang dewasa yang meragukan komitmen atau persiapan mereka atau hanya tidak mau berbagi tanggung jawab dengan mereka.

Sementara orang-orang muda dapat merasa diabaikan atau terabaikan, anggota sinode mengatakan sikap seperti itu merugikan gereja dan mandat misionarisnya. Dokumen terakhir mengatakan kaum muda menantang gereja untuk menjadi lebih baik dan pertanyaan mereka memaksa anggota gereja yang lebih tua untuk menemukan cara yang lebih jelas untuk mengekspresikan ajaran gereja atau untuk menanggapi situasi baru dengan kebijaksanaan iman.

“Kritik mereka juga diperlukan karena tidak jarang kita mendengar melalui mereka suara Tuhan yang meminta kita untuk bertobat dan pembaruan struktur,” kata anggota sinode.

Skandal pelecehan seks dan skandal keuangan di Gereja Katolik menyebabkan banyak orang, bukan hanya orang muda, untuk jauh dari iman, kata sinode itu.

Rupanya untuk menanggapi beberapa uskup yang merasa bagian draft dokumen tentang pelecehan memberi terlalu banyak perhatian untuk kepentingan topik di Amerika Serikat, Irlandia, Australia, dan Chili, dalam dokumen final mempersingkat bagian itu dalam tiga paragraf daripada sebelumnya yang tertuang dalam lima paragraf.

Namun, dalam dokumen Final, seperti rancangannya, mengatakan: “Sinode mengungkapkan rasa terima kasih kepada mereka yang telah memiliki keberanian untuk mengungkapkan kejahatan yang telah mereka derita: mereka membantu gereja menjadi sadar akan apa yang telah terjadi dan perlunya bereaksi secara meyakinkan. ”

Di balik kejahatan pelecehan, dikatakan, di sana terdapat “kekosongan spiritual” dan bentuk kekuasaan yang membuat beberapa imam percaya bahwa penahbisan mereka memberi mereka “kekuatan” atas orang lain daripada memanggil mereka untuk melayani orang lain.

Tentang “panggilan,”para  anggota sinode menekankan panggilan dasar Kristiani untuk kekudusan, yang dapat dan harus dijalani di setiap keadaan kehidupan: tua atau muda, lajang atau menikah atau dalam kehidupan imamat atau agama.

“Panggilan bukanlah naskah yang dibuat manusia untuk dihafalkan, atau momen teatrikal spontan tanpa jejak,” kata dokumen itu. Tuhan memanggil setiap orang ke dalam suatu hubungan dengannya, menghormati kebebasan seseorang dan memiliki rencana untuk hidup setiap orang; menemukan rencana itu membutuhkan doa dan pemeriksaan diri.

Dokumen terakhir mendesak perhatian khusus pada program persiapan pernikahan sebagai “semacam” inisiasi “untuk sakramen perkawinan” dan untuk seleksi yang hati-hati pada calon imam dan program seminari untuk memastikan bahwa imam masa depan adalah pria yang dapat mengenali karunia dari yang lain, berhubungan baik dengan wanita dan pria dari segala usia dan dikhususkan untuk melayani orang miskin.

Kaum muda yang miskin atau mengalami diskriminasi – terutama migran, korban penganiayaan agama dan mereka yang berjuang untuk mencari pekerjaan – mendapat perhatian khusus di sinode dan dokumen akhir.

Bahkan, kata sinode itu, “dunia anak muda juga sangat ditandai oleh pengalaman kerentanan, cacat, penyakit dan rasa sakit” dan komunitas Katolik tidak selalu melakukan segala kemungkinan untuk menyambut dan membantu mereka.

One response to “Sinode Desak Gereja untuk Mendengarkan Orang Muda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi