UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Erwiana Sulistyaningsih: Dari korban, Menjadi Pejuang Hak-hak Buruh Migran

Nopember 1, 2018

Erwiana Sulistyaningsih: Dari korban, Menjadi Pejuang Hak-hak Buruh Migran

Erwiana Sulistyaningsih foto bersama orangtuanya pada acara wisudanya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 8 September. (Foto: ucanews.com)

Ketika lulus Sekolah Menengah Kejuruan tahun 2010, hal yang ada dalam benak Erwiana Sulistyaningsih adalah bagaimana berjuang untuk mendapat uang agar bisa membiayai sendiri kuliah.

Ia sadar, orangtuanya di Ngawi, Jawa Timur tidak akan mampu membiayi pendidikan tingginya.

“Untuk membiayai saya hingga lulus SMK saja mereka berjuang setengah mati,” katanya.

Ayahnya sempat bekerja menjadi buruh perkebunan kelapa sawit di Sumatera, lalu menjadi buruh bangunan di Jakarta, sementara ibunya yang merupakan buruh tani sempat menjadi buruh migran di Brunei Darusallam.

Karena itulah, Erwiana memilih hijrah ke Jakarta, lalu bekerja sebagai pelayan di restoran.

Namun, penghasilan dari kerjanya itu tidak cukup untuk membiayai hidupnya, apalagi untuk mewujudkan cita-citanya masuk bangku kuliah.

Lantas, pada 2013 ia tergiur menerima tawaran bekerja menjadi buruh migran di Hongkong, dengan janji gaji yang tinggi.

Ia berangkat dengan harapan bisa kembali lagi ke tanah air membawa uang yang banyak dan kemudian bisa membantu keluarganya.

 

Litani penyiksaan

Namun, fakta yang ia hadapi kemudian sama sekali bertolak belakang dengan impiannya.

Bekerja selama delapan bulan di rumah majikannya Law Wan-tung, ia mengalaman penyiksaan, disekap, dipukul, hingga cedera di sekujur tubuhnya.

“Saya bekerja 21 jam sehari, hanya makan sekali sehari dan tidak ada hari libur,” katanya.

Ia juga hanya diperbolehkan minum air maksimal 450 liter per hari.

“Majikan saya tidak ingin saya terlalu sering ke toilet,” katanya.

“Bahkan, saya juga diberi obat agar tidak menstruasi.”

Sempat memilih kabur dari majikannya setelah bekerja pada lima minggu pertama dan kembali ke agen yang menyalurkannya, namun, ia dipaksa untuk kembali ke tempat kerja.

Wajah Erwiana Sulistyaningsih mengalami luka serius ketika majikannya meninggalkan dia di  Bandara Internasional Hong Kong pada Januari 2014 uituk cembalo ke rumahnya di  Solo,  Jawa Tengah.

 

Dan, penyiksaan kembali terjadi, dengan akibat yang kian parah.

Januari 2014, dalam keadaan badan terluka, termasuk di bagian wajah, ia dipulangkan oleh majikannya ke kampung halamannya.

Di luar dari tiket yang sudah disiapkan, ia hanya diberi bekal uang Rp 100.000.

“Saya diancam untuk tidak melapor kasus ini kepada penegak hukum. Kalau saya lapor, maka orangtua saya dibunuh,” katanya.

Yang ada di pikiran Erwiana kala itu adalah kembali ke kampungnya untuk memastikan agar orangtuanya aman-aman saja.

Kasus penyiksaan Erwiana kemudian menjadi headline di media massa di Indonesia dan media internasional, setelah fotonya saat di Bandara Hongkokng yang diambil oleh seorang buruh migran yang kembali ke Indonesia menjadi viral di media sosial.

Kisah tentangnya lalu menjadi ramai. Di Hongkong, ribuan buruh turun ke jalan, mendesak agar majikannya dibawa ke meja hijau.

“Kasus itu membuat saya down. Saya sempat berpikir, impian saya untuk bisa kuliah sudah pupus,” katanya.

 

Memilih bangkit

Dalam kondisi demikian, bantuan dari aktivis peduli buruh migran membuat Erwiana perlahan bangkit dan berani menghadapi kasus ini.

“Memang dalam hati, saya ragu, apakah mungkin orang miskin seperti saya ini bisa melawan majikan yang kaya tersebut,” katanya.

Namun, kata-kata motivasi dari para aktivis, membakar semangatnya untuk kemudian dengan teguh hati mau berjuang.

Lantas, Erwiana menolak upaya pejabat pemerintah dan agen yang merekrutnya, yang berkali-kali melakukan pendekatan kepadanya dan keluarganya agar kasus ini diselesaikan dengan mediasi.

“Saya menolak itu semua dan memilih menghadapi kasus ini, termasuk berbicara kepada media,” katanya.

Erwiana beberapa kali dimintai keterangan oleh polisi Hongkong, termasuk juga bolak-balik ke negara itu untuk beraksi di pengadilan.

Proses hukum yang berjalan dalam beberapa tahun, kemudian menjebloskan majikannya ke dalam penjara selama 6 tahun.

Selain Erwiana mendapat gajinya selama delapan bulan kerja, majikannya juga diwajibkan membayar kompensansi, yang hingga kini masih diproses.

Keberanian melakukan perlawanan membuat Erwiana terpilih sebagai 100 orang berpengaruh versi Majalah Time pada 2014. Ia masuk dalam deretan nama tokoh lainnya di seluruh dunia, termasuk Paus Fransikus, karena komitmennya menjadi suara bagi mereka yang tidak mampu bersuara.

Bersamaan dengan itu, berbagai tawaran untuk memberinya bantuan beasiswa berdatangan, termasuk dari luar negeri, seperti Hongkong, Australia dan dari dalam negeri.

Karena kasusnya yang terus berjalan ditangani pengacara di Lembaga Bantuan Hukum di Yogyakarta dan kondisi fisiknya yang belum pulih benar, ia menerima tawaran beasiswa kuliah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan mengambil jurusan manajemen.

“Karena waktu SMK saya mengambil jurusan akuntansi, maka saya merasa manajemenlah yang tepat,” katanya.

Selain bebas biaya kuliah hingga lulus, ia juga mendapat uang saku Rp 600 ribu per bulan.

Peluang itu dimanfaatkannya dengan maksimal, hingga akhirnya lulus dengan predikat cum laude pada bulan September lalu.

“Dengan hasil itu, saya ingin membuktikan bahwa saya tidak pantas menjadi budak,” katanya.

Kini, Erwiana menyatakan komitmen mendedikasikan diri bagi perjuangan hak-hak buruh migran, termasuk di Hongkong yang jumlahnya di kisaran angka 300 ribu orang, mayoritas dari Filipina dan Indonesia.

Ia bergabung dalam organisasi peduli buruh migran, Kabar Bumi dan mengadvokasi sejumlah kasus, termasuk yang dihadapi Mary Jane Velooso, perempuan buruh migran asal Filipina yang terancam dihukum mati di Indonesia karena didakwa menyelundupkan narkoba.

“Saya merasa bertanggung jawab membantu mereka,” katanya.

Mengingat lagi penyiksaan yang dia alami di Hong Kong, dia berkata dia ingin memastikan orang lain tidak mengalami nasib yang sama.

“Saya tidak ingin orang lain menderita seperti yang pernah saya alami,” katanya.

 

Simbol harapan

Erni Lestari, ketua International Migrants Alliance (IMA), yang ikut membantu Erwiana dalam perjuangannya menuntut keadilan menggambarkannya sebagai teladan untuk perjuangan membela martabat manusia dan menentang penindasan.

“Kemenangan dan keberhasilannya membuktikan bahwa kami bisa menang dalam perjuangan kami,” katanya.

“Dia juga merupakan simbol harapan bagi banyak dari kami yang berjuang untuk hak-hak kami dan untuk dunia tanpa penindasan bagi buruh migran,” lanjutnya.

Magdalena Sitorus, komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mengatakan, Erwiana adalah inspirasi bagi pekerja migran, bahwa mereka boleh menyerah dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi