UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus: Larangan Berzinah Bukan Hanya untuk Pasangan Suami-Isteri

Nopember 2, 2018

Paus Fransiskus: Larangan Berzinah Bukan Hanya untuk Pasangan Suami-Isteri

Paus Fransiskus memberikan salam saat melakukan audiensi umum mingguan di Lapangan St. Petrus di Vatikan pada 31 Oktober. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah terkait larangan berzinah adalah panggilan akan kesetiaan yang berlaku bukan hanya untuk pasangan suami-isteri melainkan juga untuk semua umat Kristiani yang dipanggil untuk mencintai sesama lewat panggilan mereka, kata Paus Fransiskus.

Orang-orang yang menikah serta para imam dan mereka yang menjalani kehidupan religius pada dasarnya dipanggil untuk sepenuhnya menghidupi panggilan mereka dan mengikuti “jalan kasih yang dimulai dari penerimaan pelayanan menuju kemampuan untuk melayani, dari penerimaan hidup menuju kemampuan untuk menghidupi,” kata Paus saat audiensi umum mingguan pada Rabu (31/10).

“Setiap panggilan Kristiani merupakan ikatan perkawinan karena ini adalah buah dari ikatan cinta kasih di mana kita semua diperbarui, ikatan cinta kasih dengan Kristus,” kata Paus.

“Mulai dari kesetiaan (Kristus), kelemahlembutan-Nya, kebaikan hati-Nya, kita meyakini perkawinan dan setiap panggilan dan kita memahami makna penuh dari seksualitas,” lanjut Paus.

Di antara para peziarah yang hadir saat audiensi adalah anggota Together in Hope, sebuah paduan suara ekumenis yang terdiri atas umat Katolik, Lutheran, Anglikan, Methodist, Reformed dan Evangelis serta beberapa umat lain dari Minneapolis.

Paduan suara tersebut didampingi oleh Uskup Agung Minneapolis Mgr Bernard A. Hebda dan Uskup Ann Svennungsen dari Gereja Lutheran – yang menjabat sebagai ketua Sinode Gereja Lutheran Evangelis Minneapolis di Amerika Serikat. Kedua petinggi Gereja ini disambut oleh Paus Fransiskus seusai audiensi.

Saat audiensi, Paus kembali berbicara tentang Sepuluh Perintah Allah dan menyebut perintah “jangan berzinah” sebagai “sebuah panggilan untuk mencintai yang dimanifestasikan dalam kesetiaan, penerimaan dan pengampunan.”

Sementara perintah keenam tersebut merujuk pada kesetiaan dalam perkawinan, Paus mengatakan perintah ini bukan hanya berlaku untuk pasangan suami-isteri melainkan sebuah “Sabda Allah yang disampaikan kepada semua laki-laki dan perempuan.”

Menjadi dewasa adalah mampu “mengangkat beban orang lain dan mencintai tanpa ambiguitas,” kata Paus.

Paus juga mengatakan orang-orang yang berzinah dan tidak setia adalah orang yang “tidak dewasa” yang menginterpretasikan situasi menurut “kepuasan dan kesejahteraan” mereka sendiri.

“Untuk menikah, tidak cukup hanya dengan merayakan pernikahan! Kita perlu mengubah ‘saya’ menjadi ‘kami,’ memikirkan diri sendiri menjadi memikirkan dua orang, hidup sendiri menjadi hidup bersama orang lain,” kata Paus.

“Ini adalah jalan yang indah; jika kita tidak lagi memusatkan pada diri kita sendiri dan setiap tindakan dilakukan berdua,” lanjut Paus.

Para imam dan orang-orang yang menjalani hidup suci, kata Paus, juga harus mengikuti jalan ini dan menjalaninya “dengan penuh iman dan sukacita sebagai pasangan suami-isteri dan sebagai hubungan ibu dan bapak.”

“Gereja tidak membutuhkan aspiran untuk menjadi imam melainkan orang-orang yang hatinya telah disentuh oleh Roh Kudus dengan cinta suci untuk menjadi pengantin Kristus,” kata Paus.

“Dalam imamat, kita mencintai umat Allah dengan segala ke-bapa-an, kelemahlembutan dan kekuatan pasangan dan seorang bapa.”

Paus Fransiskus mengatakan larangan berzinah merupakan pengingat akan tugas umat Kristiani untuk mencintai seperti Kristus dan menghormati satu sama lain.

“Tubuh manusia bukan instrumen untuk menikmati kesenangan melainkan wadah panggilan kita untuk mencintai,” kata Paus Fransiskus. “Dan dalam cinta yang otentik, tidak ada ruang untuk nafsu dan kedangkalan. Laki-laki dan perempuan layak mendapatkan lebih!”

 

One response to “Paus Fransiskus: Larangan Berzinah Bukan Hanya untuk Pasangan Suami-Isteri”

  1. RM Silvester-Maria Haripurnomo Kushadiwijaya says:

    Happy to hear the issue is raised. It has vast implications. We have reproductive responsibility in the society, not just the pursuance of sexual pleasure of individual creatures. Reproductive health cannot be limited to sexual pleasure with whoever and disposal of reproductive results. Dynamics of relationships must not disrupt spouses’s and families’s lives. Deo gratias.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi