UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pesparani Katolik Nasional I di Ambon Bagai Mimpi yang Jadi Kenyataan

Nopember 5, 2018

Pesparani Katolik Nasional I di Ambon Bagai Mimpi yang Jadi Kenyataan

Paduan Suara Dewasa Campuran dari Propinsi NTT tampil dalam Pesparani Katolik Nasional I di Kota Ambon, Propinsi Maluku. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Veronica Xaveria Waren Mop, seorang wanita awam Katolik berusia 38 tahun dari Kabupaten Merauke, harus melewati jalan yang cukup panjang untuk bisa mewakili Propinsi Papua dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I.

Semua berawal dari sebuah audisi yang diadakan oleh parokinya – Gereja Sang Penebus di Kampung Baru – pada awal tahun ini.

Ia pun berhasil melewati audisi itu, namun perjalanannya tidak berhenti sampai di sini.

Ia dan beberapa umat paroki yang dinyatakan lolos dalam audisi itu harus meluangkan waktu beberapa jam dalam sepekan untuk mengikuti latihan rutin selama beberapa bulan. Hal ini dilakukan sebagai persiapan untuk mengikuti audisi antar-paroki di kabupaten tersebut.

“Waktu itu ada beberapa paroki yang ikut audisi di Kabupaten Merauke. Yang menang Paroki Katedral St. Fransiskus Xaverius. Tapi semua peserta wanita yang ikut audisi diberi kesempatan untuk audisi lagi,” katanya kepada ucanews.com.

Pada saat audisi itu, ia diuji kemampuannya dalam hal bernyanyi. Misalnya, ia diminta untuk membaca not dan menebak not yang dimainkan oleh seorang organis.

“Empat hari kemudian hasil audisi keluar. Nama saya ada, saya lolos. Saya senang sekali,” kenangnya.

Sejak saat itu, Veronica dan 29 wanita awam Katolik lainnya mengikuti latihan secara rutin. Mereka meluangkan waktu sekitar 12 jam dalam sepekan selama dua bulan untuk mempelajari dua lagu yakni “Hodie Christus Natus Est” karya G.P. da Palestrina dan “Bagai Rusa Rindu Akan Sumber Air” karya Romo Antonius Soetanta SJ.

Kedua lagu tersebut dipersiapkan oleh Paduan Suara Wanita Dewasa itu untuk Pesparani Katolik Nasional I.

“Saya sangat bersyukur ikut Pesparani dan bersyukur Pesparani (akhirnya) diadakan,” kata wanita awam berjenis suara alto itu.

Hal senada disampaikan oleh Ananius Frederikus Gogirato, seorang pria awam Katolik berusia 28 tahun dari Paroki St. Yoseph di Naikoten, Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menyanyi adalah hobinya. Dan ia telah bergabung dengan Paduan Suara OMK paroki itu sejak lulus sekolah menengah atas pada 2009.

Setelah mengikuti latihan rutin tiga kali dalam seminggu selama sekitar dua bulan, paduan suara campuran beranggotakan 35 orang dari paroki itu berhasil melewati audisi tingkat propinsi dan memenangkan tiket menuju Pesparani Katolik Nasional I.

“Puji Tuhan, terjadi juga yang menjadi impian kami selama ini. Akhirnya kami bisa berkompetisi dengan kelompok sendiri,” katanya kepada ucanews.com.

Meskipun demikian, menang atau kalah tidak akan menghentikan pria berjenis suara tenor itu untuk terus bernyanyi.

“Dengan bernyanyi, saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Tidak bisa digambarkan, saya hanya merasa Tuhan ada di depan saya,” katanya.

Propinsi Papua dan Propinsi NTT bersama dengan 32 propinsi lainnya di Indonesia turut ambil bagian dalam Pesparani Katolik Nasional I. Secara keseluruhan, lebih dari 7.000 anggota paduan suara – anak-anak, remaja dan dewasa – berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Pesparani Katolik Nasional I diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) mulai 27 Oktober hingga 2 November di Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Temanya adalah “Membangun Persaudaraan Sejati.”

Ada 12 kategori yang dilombakan dalam Pesparani Katolik Nasional I antara lain Paduan Suara Dewasa Campuran, Paduan Suara Dewasa Pria, Paduan Suara Dewasa Wanita, Paduan Suara Gregorian Dewasa, Paduan Suara Gregorian Anak dan Remaja dan Paduan Suara Anak.

“Gregorian itu khasanah khas Katolik, harta agung Gereja Katolik yang dalam perjalanan sampai sekarang menjadi agak surut. Pesparani menjadi kesempatan bagi panitia untuk membangkitkan kembali perhatian dan minat terhadap Gregorian,” kata Ernest Mariyanto, seorang panitia dan juri untuk kategori Paduan Suara Gregorian Anak dan Remaja.

Meskipun Pesparani Katolik Nasional baru pertama kali diadakan di Indonesia, kegiatan ini telah dipersiapkan dengan baik oleh LP3KN dengan dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Agama.

“LP3KN masih bayi. Artinya kami belajar untuk ber-network, mencari benchmark tentang paduan suara yang baik dan juga membangun knowledge atau pengetahuan bersama bagaimana mengembangkan budaya Gereja,” kata Adrianus Eliasta Meliala, ketua LP3KN.

Tidak bisa dipungkiri, selain kemenangan, Pesparani Katolik Nasional I pun membuahkan hasil. Misalnya, Paduan Suara Dewasa Pria dari Propinsi Jawa Barat telah berkomitmen untuk terus bernyanyi bagi Tuhan.

“Kelompok kami, Paduan Suara St. Rafael, tidak akan pecah. Kami akan tetap melayani (Tuhan) dengan bernyanyi,” kata Albertus Chrysanctus Torsini Huwa, seorang anggota paduan suara dari Paroki St. Joannes Baptista di Parung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi