UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Blokir Situs Porno, India Dianggap Langgar Privasi Warga

Nopember 7, 2018

Blokir Situs Porno, India Dianggap Langgar Privasi Warga

Pemerintah India telah mengirim pemberitahuan kepada para provider Internet untuk memblok lebih dari 800 website pornografi untuk mencegah orang muda mengakses. (Foto: Manjunath Kiran/AFP)

India telah memblokir  lebih dari 800 situs pornografi dalam sebuah langkah yang mengundang cemoohan dan tuduhan melanggar privasi warga.

Kementerian Komunikasi dan Informatika   pemerintah federal India pada 1 November memerintahkan penyedia layanan internet “segera mengambil tindakan” dengan memblokir 827 situs porno.

Perintah tersebut menyusul keputusan pengadilan tinggi negara bagian Uttarakhand pada 27 September lalu. Dikatakan bahwa “akses tak terbatas ke situs pornografi harus segera dihentikan” untuk menghindari dampak  buruk pada anak-anak. Belajar dari kasus yang melibatkan pemerkosaan seorang gadis 16 tahun oleh empat teman sekolah usai menonton video porno.

Namun, para pekerja sosial dan aktivis hak asasi manusia mengatakan larangan  itu bisa menjadi kontraproduktif.

“Larangan itu akan membuat warga, terutama anak-anak, lebih cenderung mengawasi situs-situs  (dewasa]. Apakah anda tidak mendengar bahwa buah terlarang itu lebih manis?” tanya Anita Aakash, seorang aktivis sosial yang tinggal di New Delhi.

“Kaum muda akan mengeksplorasi cara-cara untuk menonton situs-situs tersebut  melalui jaringan virtual dan sarana lain yang tersedia di era teknologi saat ini.”

Pemerintah seharusnya mengambil langkah untuk menciptakan kesadaran “tentang efek buruk menonton film porno. Pelarangan sama sekali bukan solusi,” kata Aakash kepada ucanews.com.

Warga India berusia 18-34 adalah konsumen terbesar konten porno di internet, demikian menurut data pemerintah. Berdasarkan data tersebut, konten porno di India naik sebesar 75 persen antara Maret 2016 dan Maret 2017, terutama setelah perusahaan telekomunikasi secara drastis menurunkan harga data.

Menurut data Google Trends, enam kota di India – New Delhi, Mumbai, Unnao, Bengaluru, Howrah, dan Pune – berada di 10 kota teratas di dunia yang  menonton film porno.

Larangan itu diperkirakan akan memukul perusahaan telekomunikasi karena, menurut data pemerintah, 40 persen dari pendapatan mereka berasal dari situs-situs porno. Sekitar 25 persen permintaan mesin pencari terkait dengan pornografi, sementara 35-40 persen konten yang diunduh dari internet adalah pornografi.

Deepak Kumar, seorang mahasiswa Universitas Jammu, percaya keputusan pemerintah menyerang kebebasan pribadinya.

“Mengapa pemerintah mengkhawatirkan apa yang harus saya tonton di internet? Saya seorang dewasa dan memiliki kebebasan sesuai konstitusi negara untuk mengambil keputusan apapun atas diri saya. Pemerintah sama sekali tidak bisa menjadi pengasuh saya,” kata Kumar.

Namun, Asim-ud-din, seorang blogger yang berbasis di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, mengatakan larangan itu disambut baik karena dapat meminimalkan kejahatan terhadap perempuan. Ia percaya generasi muda bisa menjadi kecanduan pornografi dan “kecenderungan mengubah seluruh masyarakat menjadi rumah bordil.”

“Kami telah melihat bahwa perkosaan terhadap gadis-gadis muda menjadi marak di seluruh negeri dan  wanita menjalani hidup yang sangat tidak aman di negara kita. Jika situs dewasa dilarang, itu dapat membantu masyarakat menghormati wanita,” kata Asim kepada ucanews.com.

India memiliki 460 juta pengguna internet, 26 persen populasinya, menurut statistik pemerintah. Diperkirakan  tahun 2021 India akan memiliki 635,8 juta pengguna internet. India adalah pasar daring terbesar kedua setelah Tiongkok.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi