UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mantan ‘Tawanan’ ISIS Dapat Mother Teresa Award

Nopember 7, 2018

Mantan ‘Tawanan’ ISIS Dapat Mother Teresa Award

Laila Talo Khuder Alali, seorang wanita Yazidi yang malarian diri dari tahanan ISIS di Iraq, menerima Mother Teresa Award untuk Kaadilan Sosial di Mumbai, 21 Oktober. Penghargaan itu diberikan oleh Harmony Foundation. (Foto: ucanews.com)

Enam tahun  lalu, pada usia 26 tahun, Laila Talo Khuder Alali delapan kali dijual sebagai budak seks untuk pria dari berbagai negara oleh militan Negara Islam  Irak dan Suriah (ISIS).

Berdiri di auditorium hotel di pusat komersial Mumbai di India untuk menerima Mother Teresa Memorial Award, ia menceritakan tentang suami dan anaknya masih hilang.

Beberapa anggota keluarganya telah terbunuh, tetapi delapan orang diselamatkan.

Mereka yang hilang ada di antara lebih dari 3.000 orang yang dikenal sebagai kelompok ‘Yazidi’ yang masih dalam tahanan ISIS, kata  Alali ketika menerima Mother Teresa Memorial Award untuk Keadilan Sosial pada 21 Oktober.

Para militan ISIS dituduh melakukan genosida terhadap kelompok Yazidi, kelompok minoritas agama di Irak utara.

Yazidisme menggabungkan unsur-unsur Islam, Kristen, Yudaisme dan Zoroastrianisme.

ISIS berusaha menghapus iman mereka.

“Kami menghadapi penyiksaan, perbudakan seksual, dan tindakan tak terbayangkan,” kata perempuan berusia 30 tahun itu pada upacara penghargaan di Mumbai.

“Saya dijual delapan kali kepada pria yang berbeda bersama dengan  gadis berumur 10 tahun.”

Alali mengatakan kepada ucanews.com dengan menerima penghargaan itu telah memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan perempuan agar dapat menjalani kehidupan yang bermartabat.

Alali termasuk di antara 17 orang yang dipilih oleh Harmony Foundation, sebuah kelompok relawan yang berbasis di Mumbai, untuk menerima Mother Teresa Memorial Award tahun ini.

Penghargaan ini sebagai pengakuan kepada upaya orang-orang yang memerangi eksploitasi perempuan dan berusaha untuk memberdayakan mereka, kata Direktur Yayasan Abraham Mathai kepada ucanews.com.

Dia mengatakan Alali, meskipun penawanannya terjadi  tahun 2014 hingga 2017, telah menginspirasi perempuan lain untuk berjuang demi kebebasan.

“Sangat mengejutkan bahwa di abad 21, kita masih mendiskusikan tentang perempuan dan anak-anak yang dilindungi dari pelecehan,” kata Mathai.

“Ini hanya menunjukkan bahwa kita masih memiliki jalan panjang untuk keluar dari masalah ini.”

AlIdris Bashar Silo Taha,  seorang Yazidi berusia 40 tahun, dihormati karena menyelamatkan hampir 300 perempuan Yazidi dari tahanan, termasuk Alali.

“Saya terluka ketika ISIS berusaha mengeksekusi orang Yazidi tahun 2014,” kata Taha. Dia  mencari bantuan keuangan internasional untuk membebaskan mereka yang masih dalam tahanan.

“Dua puluh delapan anggota keluarga saya diculik dan sembilan dari mereka masih hilang.”

Tema penghargaan tahun ini adalah “Muliakan Perempuan, Lindungi Perempuan, Perdayakan Perempuan”.

Penerima penghargaan itu termasuk Salman Sufi, seorang warga negara Amerika asal Pakistan yang memberikan layanan hukum, medis dan konseling kepada perempuan korban pelecehan di Pakistan.

Salah satu dari mereka yang mendapat penghargaan adalah Suster Lucy Kurien, pendiri dan direktur organisasi lintas iman berusia 22 tahun di India yang dikenal sebagai Maher, yang diterjemahkan sebagai “Rumah Ibu”.

Dia menangani sekitar 1.500 wanita miskin dan terlantar di 44 rumah yang tersebar di tiga negara bagian.

Aktivis Laxmi Agarwal, gadis poster untuk korban serangan asam di India, juga mendapat penghargaan.

Agarwal mendeskripsikan penghargaan tersebut sebagai pengakuan bahwa korban penganiayaan berat masih bisa dengan bermartabat mengambil bagian dari kehidupan mereka yang hancur.

Diawal Agarwal yang berusia 29 tahun mengalami cacat ketika penguntit melemparkan cairan air keras padanya  tahun 2005 di ibukota India, New Delhi.

Beberapa operasi bedah korektif dilakukan padanya, ia kemudian menjadi pejuang melawan kejahatan yang dilakukan terhadap perempuan.

The Harmony Foundation diluncurkan  tahun 2005 untuk menangani diskriminasi berdasarkan agama, kasta, keyakinan, gender, wilayah atau kebangsaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi