UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemerintah Kirim Guru untuk Mendidik Anak-Anak Buruh Migran di Malaysia

Nopember 8, 2018

Pemerintah Kirim Guru untuk Mendidik Anak-Anak Buruh Migran di Malaysia

Sebelum berangkat ke Malaysia para guru bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada 29 Oktober. (Foto: Kemendikbud)

Pemerintah Indonesia meningkatkan jumlah guru yang dikirim ke Malaysia sebagai bagian dari upaya untuk memberikan pendidikan bagi puluhan ribu anak-anak dari pekerja migran Indonesia di negara tersebut.

Ini adalah bagian dari komitmen pemerintah “untuk memastikan hak anak-anak Indonesia untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Menteri mengatakan ada sekitar 100.000 anak di antara populasi pekerja migran di Malaysia yang berjumlah sekitar 2,7 juta, tetapi hanya 28.000 yang memiliki akses ke pendidikan di sana.

Dia mengatakan 100 guru tambahan akan bergabung dengan 290 yang sudah ada di sana.

Mereka akan ditempatkan di Sabah dan Sarawak, wilayah timur Malaysia untuk periode kontrak dua tahun.

“Para guru ditempatkan di Community Learning Centre (CLC) yang diprakarsai dan dikelola oleh pekerja migran,” katanya.

Saat ini, ada 294 CLC di Malaysia, 155 diantaranya setara dengan sekolah dasar dan 139 setara sekolah menengah pertama.

“Kami menargetkan memiliki 50.000 anak yang menerima pendidikan selama tahun depan,” katanya.

Muhammad Zaini, dari Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, salah satu guru yang dikirim ke Malaysia, mengatakan dia setuju untuk berangkat ke sana karena dia khawatir tentang kesejahteraan anak-anak.

“Mereka benar-benar membutuhkan guru yang dapat mengajar, menuntun, dan membimbing mereka menuju cita-cita mereka,” katanya.

Savitri Wisnuwardhani, sekretaris nasional dari kelompok advokasi Migrant Workers Network, mengatakan apa yang perlu dilakukan pemerintah selanjutnya, selain menyediakan guru, adalah meminta negara-negara tuan rumah untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak ini.

“Itu harus dilakukan melalui Nota Kesepahaman,” katanya kepada ucanews.com pada Nov.7.

Dia mengatakan banyak anak tidak memiliki akses ke pendidikan karena berbagai alasan, seperti orang tua mereka bekerja di perkebunan kelapa sawit di daerah terpencil.

“Di sisi lain, pusat belajar terletak jauh dari tempat di mana anak-anak tinggal,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi