UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Benediktin Tolak Pembangunan Kuil di Tanah Mereka Tanpa Izin

Nopember 9, 2018

Benediktin Tolak Pembangunan Kuil di Tanah Mereka Tanpa Izin

Benediktin mengadakan protes pada 2 November menentang pembângunan kuil di Tanah mereka. (Foto: ucanews.com)

Biarawan  Benediktin terus berjuang melawan pembangun sebuah kuil di atas lahan  milik mereka yang dilakukan tanpa izin di Vietnam tengah.

Nguyen Dang Tuan, warga Hue sedang membangun kuil leluhur di tanah milik Biara Thien An dan  mengatakan ia memiliki surat-surat yang membuktikan kepemilikan tanah di luar Kota Hue.

Kepala biara Pastor  Louis Gonzaga Dang Hung Tan menuntut agar pemerintah setempat mencabut surat izin kepemilikan palsu Tuan. Pastor Tan juga meminta pemerintah meminta Tuan untuk berhenti membangun di tanah biara, yang telah dimiliki oleh Benediktin sejak 1940.

Pastor Tan juga meminta pemerintah  menyelidiki masalah ini dan menghukum pejabat pemerintah  terkait  yang secara ilegal memberikan tanah biara itu kepada warga lain.

Dia mengatakan bahwa pejabat pemerintah setempat memberikan dokumen kepemilikan sebidang tanah  tahun 2011 kepada Le Huu Nghi, yang menjualnya kepada Tuan tahun 2018.

Sumber pemerintah setempat mengatakan kepada ucanews.com bahwa Tuan telah memiliki 10 pekerja di lokasi pembangunan  seluas 479 meter persegi secara teratur sejak pembangunan dimulai pada  Juli.

Sejak itu para pekerja membangun pagar berdinding di sekitar lokasi, sebuah kuil seluas 150 meter persegi, sebuah rumah balai dengan 200 meter persegi, dan sebuah garasi. Sumber itu mengatakan bahwa pembangunannya menelan biaya satu miliar dong (sekitar Rp 605 juta).

Sumber itu menambahkan bahwa sudah belasan pohon pinus berusia 50 tahun ditebang untuk keperluan pembangunan itu.

Bruder  John Nguyen Minh Sang OP mengatakan bahwa sebelum Tuan memulai pembangunan, Benediktin telah melarang pembangunan kuil itu di tanah mereka.

“Tetapi dia mengatakan dia hanya akan mendirikan sebuah toko sementara yang menyimpan bahan-bahan bangunan,” kata Bruder  Sang.

Tuan berbohong kepada biara, katanya.

Bruder Sang mengatakan pemerintah provinsi Thua Thien Hue yang bertanggung jawab atas urusan agama bertemu dengan para biarawan pada 2 November dalam upaya  menyelesaikan masalah tersebut. Bruder itu mengatakan pemerintah setempat mengakui bahwa Tuan telah membuat beberapa kesalahan dalam pembangunan dan mereka mengatakan pemerintah akan bekerja dengan mereka untuk menyelesaikan insiden itu.

Bruder Sang mengatakan bahwa sekitar 60 biarawan Benediktin itu berbaris 500 meter dari kapel mereka ke lokasi pembangunan yang mengganggu tempat mereka berdoa dan mengangkat spanduk protes pada 1 dan 2 November.

“Kami protes terhadap pejabat pemerintah dan agen yang mengizinkan pemilik tanah untuk membangun sebuah kuil di tanah kami seluas 107 hektar,” katanya kepada ucanews.com.

Bruder Sang mengatakan para pekerja terus bekerja di tempat itu dan sekarang polisi berpakaian preman terus berjaga di sebuah kedai kopi di depan pintu gerbang biara menyaksikan dan merekam orang-orang yang masuk dan meninggalkan vihara.

Sejak tahun 1975, pemerintah komunis dilaporkan telah “meminjam” 57 hektar lahan dari biara dan memberi hak pengelolaan ke sebuah perusahaan kehutanan.

Tahun 2000, pemerintah menyita sisa tanah dan menyerahkan  ke perusahaan pariwisata tetapi mengizinkan Benediktin untuk mempertahankan enam hektar lahan termasuk biara.

Lebih lanjut situasi bertambah rumit, pemerintah setempat sebelumnya menyita tanah dari Biara Benediktin dan menyerahkannya kepada pejabat lain yang pada gilirannya menjual tanah itu kepada pihak lain untuk membangun rumah.

Sejak insiden terbaru itu, Pastor Tan terus mengajukan petisi ke pemerintah provinsi dan kedutaan Australia, Kanada, Jerman, dan AS.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi