UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pecandu Judi Hong Kong Bertobat Setelah Peneguhan Iman

Nopember 15, 2018

Pecandu Judi Hong Kong Bertobat Setelah Peneguhan Iman

Tuan dan nyonya Yin membagikan pengalaman mereka saat konferensi pers di Hong Kong pda 8 November. Mereka menceritakan bagaimana iman Katolik menyelamatkan keluarga mereka dari kehancuran sebagai akibat dari kecanduan Tuan Yin pada kebiasaan judi. Mereka sangat berterima kasih kepada Pusat Konseling Kecanduan Judi Karitas Hong Kong. (ucanews.com)

Kecanduan berjudi tidak hanya merusak kehidupan para pecandu tetapi juga menghancurkan keluarga yang mengakibatkan terus bertambahnya pasangan yang menjadi korban mencari bantuan dari lembaga Katolik dan lembaga pendukung lainnya, demikian menurut survei terbaru Pusat Konseling Karitas yang menangani pecandu judi di  Hong Kong.

Lembaga ini  merilis hasil survei pada 8 November. Dikatakan lebih banyak pasangan yang meminta bantuannya sejak agensi itu diluncurkan pada 2003, dengan banyak istri mengeluh depresi, kesengsaraan ekonomi, dan kerusakan nyata atau potensial dalam hubungan keluarga dan hubungan sosial lainnya .

Pada konferensi pers, satu pasangan berbagi pengalaman mereka dalam menangani efek kerusakan akibat kecanduan judi pasangan dan bagaimana iman Katolik mereka telah membantu keluarga tetap bersama.

Sang suami, Yin, mengatakan ia  mulai memasang taruhan sebesar HK$50,000 ( 96,6 juta rupiah) pada satu waktu selama dekade terakhir, sampai berada pada satu titik di mana ia terpuruk hutang HK$77,000 ( Rp 144 juta).

Dia bahkan terpaksa pensiun dini dan menggunakan uang pensiunnya untuk menjaga kreditornya tetap aman. Tetapi meskipun menggunakan dua pertiga dari uang pensiun untuk melunasi utangnya, dia mengakui bahwa dia terus berjudi.

Nyonya Yin mengatakan kondisi ini telah memberikan beban besar pada keluarga mereka.

“Saya merasa tidak berdaya dan sering bertengkar dengannya,” katanya.

“Saya harus mulai bekerja, karena utangnya terus meningkat. Saya meminjam uang dari teman-teman dan kerabat kami sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan.”

Dia mendorong suaminya untuk mengunjungi lembaga tersebut untuk menerima konseling pada tahun 2014. Dengan bantuan pekerja sosial, dan dukungan umat parokinya, Yin berhasil menghentikan kecanduannya dalam setahun.

“Dengan keyakinan saya pada Tuhan, saya merasa lebih aman dan lebih bisa mentolerir kelemahan suami saya dengan rasa cinta dan kesabaran yang lebih kuat,” katanya. “Sekarang saya berdoa untuknya setiap hari dan berharap Tuhan terus membimbing kita.”

“Keyakinan saya telah membuat saya lebih rendah hati dan menghormati orang lain,” kata Yin, menambahkan dia membagikan cerita ini  untuk memperingatkan orang lain tentang bahaya perjudian.

Sekitar 86 persen responden dalam jajak pendapat Lembaga Konseling ini dari 1.074 pasangan di Hong Kong adalah perempuan. Tujuh dari 10 yang menjawab melakukan pekerjaan sebagai karyawan yang menerima gaji sementara sisanya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Masing-masing diperbolehkan untuk memilih beberapa jawaban.

Hasilnya menunjukkan bahwa 93 persen merasa terganggu secara emosional dan tidak aman sebagai akibat dari perjudian yang terus menghantui pasangan mereka; 88 persen mengatakan mereka hidup dalam ketakutan karena sejumlah hutang mereka; dan 30 persen memendam pikiran untuk bunuh diri.

Selain itu, 79,5 persen khawatir keluarga mereka akan berantakan, 78 persen menggambarkan diri mereka sebagai “pecundang,” dan 89,5 persen mengatakan mereka sering bertengkar dengan pasangan mereka sebagai akibat dari kebiasaan judi mereka.

Lebih dari 71 persen mengaku mereka secara rutin mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan keluarga mereka; 66 persen mengatakan mereka mencoba menyembunyikan kebiasaan judi pasangan mereka dari kerabat dan teman-teman; 44 persen merasa mereka harus bersembunyi dari keluarga dan teman-teman mereka, entah karena malu atau karena mereka berhutang uang kepada mereka; dan 31 persen melampiaskan rasa frustrasi mereka pada kecanduan judi pasangan mereka pada anak-anak mereka.

Selain itu, 91 persen pasangan merasa standar hidup keluarga terus menurun sejak perjudian pasangan mereka tak terkendali lagi; 68 persen mengatakan masalah itu mempengaruhi pekerjaan mereka; 56 persen telah meminjam uang dari kerabat atau teman untuk melunasi utang judi pasangan mereka; 46 persen terpaksa menjual sebagian dari harta mereka; dan 30 persen mengatakan mereka dilecehkan oleh orang-orang yang berhutang judi kepada mereka.

Alfred Chan Chi-wah, seorang Kounselor senior di Lembaga itu, mendorong pasangan-pasangan penjudi biasa untuk terus mencari dukungan emosional dari agensi seperti dirinya.

Dia mengatakan mereka juga dapat mengambil manfaat dari belajar cara-cara baru menangani kecanduan pasangan mereka, keterampilan yang diajarkan pusat Konseling itu secara gratis.

Lembaga  ini didanai oleh Dana Ping Wo dari Biro Dalam Negeri Hong Kong dan telah menyediakan layanan konseling perjudian sejak 15 Oktober 2003.

Dalam 15 tahun terakhir, telah memberikan konseling kepada lebih dari 10.000 penjudi dan pasangan mereka di Wilayah Pemerintahan Khusus China itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi