UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Menumbuhkan Dialog Antaragama di Kota Ambon

Nopember 16, 2018

Menumbuhkan Dialog Antaragama di Kota Ambon

Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Pada Januari 1999, ketika umat Islam tengah merayakan Hari Raya Idul Fitri, sebuah pertikaian antara seorang sopir kendaraan umum beragama Kristen dan seorang anak muda beragama Islam pecah di Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Pertikaian ini memicu konflik sektarian mematikan yang berlangsung selama empat tahun.

Menurut sejumlah laporan, ratusan gereja dan masjid hancur. Ribuan rumah luluh lantak. Sedikitnya 5.000 orang tewas dan sekitar 500.000 orang mengungsi.

“Semua pada takut datang ke rumah milik orang Muslim. Saya, sebagai uskup, datang karena saya punya positive thinking terhadap orang Muslim. Idul Fitri adalah hari pengampunan,” kata Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC kepada ucanews.com.

“Jadi dengan jubah, saya datang ke kebun cengkeh, masuk dari rumah ke rumah orang Muslim, ucapkan selamat. Senyuman saya sudah mengalahkan mereka. … Saya bilang saya harus lawan musuh dengan cinta kasih. Bagaimana kasih mengalahkan tembok-tembok,” lanjut prelatus itu.

Peristiwa tersebut merupakan titik balik bagi Mgr Mandagi, seorang uskup yang lahir pada 27 April 1949 di Kamangta, Propinsi Sulawesi Utara, dan ditahbiskan sebagai imam Kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus pada 18 Desember 1975.

Sejak saat itu, Mgr Mandagi berperanserta secara aktif dalam menumbuhkan dialog antaragama di kalangan para tokoh agama dan komunitas akar rumput.

Pada pertengahan Februari 2002, misalnya, ia menghadiri perundingan mediasi di Malino, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan kedua komunitas yang bertikai.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu menghasilkan sebuah kesepakatan yang ditandatangani oleh 35 umat Kristen dan 35 umat Islam untuk mengkahiri konflik dan bekerjasama untuk menjaga perdamaian di Propinsi Maluku.

“Malino itu gerakan saya, mulai dengan Jusuf Kalla datang ke tempat ini. Dia membaca buku saya. Dan dalam buku itu saya bilang kekerasan di Ambon hanya bisa diatasi dengan dialog, pengampunan. Dan akhirnya dia datang. Mulailah organisir Malino 1 dan 2. Malino 1 untuk Palu, Malino 2 untuk Ambon. Jadi itu yang saya perjuangkan,” kata Mgr Mandagi.

 

Persahabatan

Bagi Mgr Mandagi – yang diangkat sebagai uskup Amboina pada 10 Juni 1994 dan ditahbiskan sebagai uskup pada 18 September pada tahun yang sama, kunci utama untuk menjaga kerukunan dalam masyarakat melalui dialog antaragama adalah menjalin persahabatan yang baik dengan semua orang tanpa memandang latar belakang agama mereka.

“Kerukunan bukan hanya dikatakan, tapi harus dibuktikan,” katanya.

“Bagaimana? Ketika saudaramu sedang merayakan sesuatu, kita dukung. Jangan kita cuma bicara,” lanjutnya.

Pada Juni 2012, ia memberikan dukungan untuk  penyelenggaraan MTQ Nasional Ke-24 di Kota Ambon dengan menyediakan penginapan di kediaman uskup untuk sejumlah peserta dari Propinsi Banten.

Ia menunjukkan dukungan serupa untuk penyelenggaraan Pesparawi Nasional Ke-9 yang juga diselenggarakan di Kota Ambon.

Pada September tahun ini, ia menghadiri perayaan Gereja Protestan Maluku (GPM) Ke-83 di Gereja Maranatha di Kota Ambon. Sudah sekian kali ia menghadiri perayaan peringatan GPM.

Bahkan baru-baru ini ia diminta untuk memimpin upacara peletakan batu pertama pembangunan sebuah masjid di sebuah desa.

“Jadi saya bilang, cari dahulu Kerajaan Allah, baru segalanya akan diberikan kepadamu. Inti dari Kerajaan Allah adalah trust, inti Kerajaan Allah adalah relasi. Cari dulu, bangun dulu jaringan,” kata Mgr Mandagi.

 

Tantangan

Meskipun demikian, persatuan khususnya di kalangan umat Katolik dari berbagai suku di Keuskupan Amboina – yang sejarahnya berawal ketika sejumlah misionaris dari Portugal dan Spanyol memulai karya mereka di wilayah itu pada 1534 – kadang menjadi tantangan.

Menurut Buku Petunjuk Gereja Katolik 2017, Keuskupan Amboina – yang melayani Propinsi Maluku dan Propinsi Maluku Utara – memiliki 119.665 umat Katolik dari 2.968.666 penduduk.

Mereka berasal dari puluhan suku.

“Ini artinya iman mereka belum bertumbuh. Jadi iman harus ditumbuhkan. Salah satu perjuangan saya adalah persatuan dan persaudaraan yang lahir dari iman,” kata Mgr Mandagi.

Ia juga meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah keuskupannya dengan mengirim 15 imam diosesan ke sekolah-sekolah Katolik dan dua imam kongregasi untuk menjadi aksesor di sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah.

“Siapa kuasai pendidikan, maka akan terjadi perubahan. Ini prinsip saya. Kerusuhan itu karena kebodohan,” lanjutnya.

Di sisa masa kepemimpinannya sebagai uskup, Mgr Mandagi tidak akan berhenti menumbuhkan dialog antaragama.

“Hati-hati, setan masih berkeliaran, (mereka) mau menghancurkan persaudaraan. Tapi jangan takut, kita punya Roh Kudus, kita punya Tuhan. Iman harus kuat. Spirit persaudaraan ini akan terus dibawa kemana-mana,” kata Mgr Mandagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi