UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ribuan Orang Papua Meninggal Akibat Pelayanan Medis Buruk

Nopember 20, 2018

Ribuan Orang Papua Meninggal Akibat Pelayanan Medis Buruk

Seorang perawat memeriksa seorang pasien di klinik Kampung Harapan, 26 kilometer dari Jayapura di Papua. (Foto: Benny Mawel/ucanews.com)

Benjamin Lagowan selamanya akan dihantui oleh kematian sepupunya, yang salah didiagnosis dan akhirnya meninggal karena kurangnya perawatan kesehatan yang memadai di kampung halamannya di dataran tinggi Papua.

Alex Molama, 27, dilarikan dengan tandu ke rumah sakit di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, pada bulan Agustus setelah mengeluh perutnya kram.

Keluarga itu membawanya ke sana dengan tandu, karena tidak ada transportasi lain yang tersedia di sudut terpencil dunia ini di mana ambulans dianggap sebagai kemewahan yang langka.

Dokter mengatakan kepada keluarganya bahwa Molama tampaknya memiliki infeksi usus dan merujuknya ke dokter spesialis.

Namun, karena spesialisnya sedang berada di luar kota pada waktu itu, para perawat dengan kemampuan dan sumber daya yang terbatas berjuang untuk merawatnya, dan kerabatnya harus duduk dan menonton ketika kondisi pemuda itu makin memburuk.

“Perutnya bengkak dan kotoran mengalir keluar dari mulutnya,” kata Lagowan kepada ucanews.com.

Pada 24 Agustus Molama dikirim ke rumah sakit lain di Jayapura, ibukota provinsi Papua, yang dilengkapi dengan fasilitas yang lebih baik.

“Para dokter di sana mengatakan kepada kami bahwa dia tidak menderita infeksi usus tetapi gagal ginjal akut,” kata Lagowan. Molama meninggal lima hari kemudian.

Namun, penderitaan itu tidak berakhir di sana.

Ketika keluarga berusaha membawa pulang jenasahnya, mereka mengalami penundaan yang menimbulkan frustrasi dan kemarahan, karena tidak ada staf medis yang bertugas menandatangani surat pemulangannya.

Marcelina Matuan memiliki cerita serupa.

Kakak iparnya, Yuliana Lagowan, 37 tahun, dipaksa untuk mencoba ramuan  dan obat-obatan tradisional setelah merasakan sakit di kepalanya, karena tidak ada dokter spesialis yang tersedia di rumah sakit yang sama di Wamena untuk membantu mengidentifikasi apa yang salah.

Yuliana dilarikan ke rumah sakit lain di kota beberapa hari kemudian setelah dia pingsan pada suatu hari.

Sesampai di sana, dokter memberitahu keluarganya bahwa dia menderita pendarahan otak dan harus dirawat di rumah sakit Jayapura atau kemungkinan besar dia tidak akan bertahan hidup.

“Masalahnya adalah kami perlu seminggu untuk mendapatkan surat rujukan sehingga kami bisa mengirimnya ke sana,” kata Matuan mengenang peristiwa itu.

Ketika keluarga akhirnya tiba di Jayapura, para dokter tidak dapat melakukan operasi segera meskipun kondisinya mendesak karena mereka harus menunggu seorang ahli bedah kepala datang dari Jakarta.

Karena kekurangan dokter, ahli bedah hanya tersedia di rumah sakit itu pada hari Jumat dan Sabtu.

“Mereka meminta kami bersabar,” kata Matuan.

Lagowan meninggal sebelum dokter bedah muncul.

Sepit Boma, 18 tahun, menambah deretan keluarga yang putus asa setelah menyaksikan kakak lelakinya meninggal karena kekurangan dana  untuk kesehatan masyarakat.

Simon Boma, 23, dibawa ke rumah sakit lokal di Abepura pada 24 September setelah dia mengeluh sakit di dada dan kesulitan buang air kecil. Dokter menyarankan agar dia dirawat di rumah sakit untuk menerima perawatan yang lebih baik.

“Tetapi tidak ada yang merawatnya dengan benar. Dokter itu hanya memberinya beberapa Parasetamol untuk rasa sakitnya, dan kondisinya tidak pernah membaik,” kata Sepit.

Menyadari bahwa mereka dapat menyediakan perawatan yang sama atau malah lebih baik kalau dibawah pulang kerumah, keluarga membawanya kembali ke desa mereka, di mana dia meninggal pada 1 Oktober.

Perawat memeriksa darah seorang pasien di klinik Kampung Harapan, Jayapura, Papua (Foto: Benny Mawel/ucanews.com)

 

Bisnis yang tidak sehat

Ada ribuan lagi contoh orang Papua yang telah meninggal karena layanan perawatan kesehatan yang buruk di wilayah tersebut. Tragisnya, banyak yang meninggal di rumah sakit milik pemerintah, yang dianggap sebagai yang terbaik di provinsi ini.

Tiga bulan yang lalu sebuah dokumen tentang pasien yang telah meninggal di Rumah Sakit Umum Jayapura diedarkan di kalangan wartawan di Papua.

Dokumen itu mencatat 1.275 kematian dari 2008 hingga 2012.

Survei serupa yang diterbitkan di majalah Tempo, sebuah majalah mingguan, pada bulan Februari yang melaporkan bahwa dari 2013 hingga 2017, 2.393 pasien meninggal di rumah sakit yang sama – hampir dua kali lipat jumlah periode empat tahun sebelumnya.

Dr Aloysius Giyai, kepala dinas kesehatan Papua, mengatakan jumlah kematian pasien di rumah sakit adalah yang tertinggi di Indonesia.

“Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan. Jumlah rata-rata kematian pasien di rumah sakit nasional dalam 120 tahun,” kata Giyai kepada ucanews.com.

Dia mengatakan ada banyak faktor yang berkontribusi tetapi penyebab utamanya adalah terbatasnya jumlah personil terlatih.

Papua memiliki sekitar 12.000 pekerja medis tetapi para pakar mengatakan perlu tiga kali lebih banyak untuk menyediakan tingkat pelayanan yang memadai bagi masyarakat umum.

Faktor lain yang dikutip oleh Giyai adalah adanya kepercayaan yang tersebar luas dimasyarakat, terutama mereka yang tinggal di pedesaan atau komunitas yang terisolasi, dalam ilmu hitam, cenayang, dan penyembuh kesehatan lainnya biasanya dianggap “dukun” di dunia Barat.

“Ketika seseorang jatuh sakit, sering diasumsikan bahwa seseorang telah menyantet mereka, atau mereka terkena sihir ,” katanya.

“Dengan demikian, pasien dibawa untuk menemui dukun desa daripada seorang dokter yang terlatih di rumah sakit yang layak.”

Dalam banyak kasus, katanya, pasien hanya dilarikan ke fasilitas medis yang sah ketika mereka berada di ambang pintu kematian dan hanya ada sedikit dokter atau perawat yang tersedia untuk menyelamatkan mereka.

Gubernur Papua Lukas Enembe telah menyalahkan tingginya jumlah korban di Papua karena kurangnya dedikasi yang tulus dari staf medis dan administrator rumah sakit, banyak dari mereka yang didatangkan dari daerah lain.

Dia mengatakan bahwa dalam banyak kasus, perhatian utama mereka adalah memperkaya diri sendiri, bukannya memastikan orang sakit dan terluka mendapatkan perawatan terbaik.

“Menjalankan rumah sakit adalah bisnis besar. Ada banyak uang yang dihasilkan. Ada banyak orang yang tidak memiliki hati untuk melayani rakyat Papua,” kata Enembe, yang terpilih kembali sebagai gubernur pada bulan Juni. Dia mengatakan banyak fasilitas perawatan kesehatan di wilayah tersebut salah urus.

Salah satu prioritas utamanya adalah memperbaiki masalah itu dengan Kartu Kesehatan Papua (KPS), katanya.

Sistem itu dirancang untuk membantu orang Papua yang miskin dan tidak mampu membeli obat, operasi, atau layanan kesehatan lainnya, tetapi program itu terbuka untuk penyalahgunaan oleh praktisi medis yang tidak bermoral, tambahnya.

“Kami perlu mempekerjakan orang-orang yang benar-benar peduli dengan orang Papua,” katanya, seraya menambahkan dia berencana untuk membangun lebih banyak rumah sakit yang akan dikelola secara eksklusif oleh dokter dan perawat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi