UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tiga Srikandi yang Berjuang Melawan Stigma HIV

Nopember 21, 2018

Tiga Srikandi yang Berjuang Melawan Stigma HIV

Dari kiri: Baby Rivona Nasution, Hartini Rahayu, dan Cinthya Novemi

Bermaksud menghindari kebiasaannya mengonsumsi narkoba dan merengkuah hidup yang lebih baik, tahun 2001, Baby Rivona Nasution merantau ke Malaysia untuk bekerja sebagai buruh migran.

Namun, dua tahun kemudian ia tidak bisa memperpanjang kontrak kerjanya setelah didiagnosa positif HIV, hal yang membuat ia harus dideportasi ke ke kampung halamannya di Medan, Provinsi Sumatera Utara.

“Langit seperti runtuh di atas kepala saya kala itu. Rasanya mati sudah sangat dekat. Saya bingung harus berbuat apa ketika sampai di rumah. Saya merasa hidup seperti sudah tidak ada gunanya” ” katanya dalam sebuah wawancara denganucanews.com.

Lahir dari keluarga broken home dan kemudian memilih menikah saat masih SMA lalu cerai, Nasution memang menjadi pemakai narkoba jenis heroin dan sering saling tukar jarum suntik dengan teman-temannya.

 

Baby Rivona Nasution didiagnosis positif HIV saat bekerja sebagai buruh migran di Malaysia. Ia sadar, hal itu terjadi karena ia sering memakai jarum suntik saat mengonsumsi narkoba. (Ryan Dagur/ucanews.com)

 

“Rupanya, virus itu masuk dengan cara itu (lewat jarum suntik). Saya sadar kala itu, namun sudah terlambat,” katanya.

Pemahamannya tentang HIV muncul kemudian, setelah ia melihat gambar orang yang positiv HIV, dengan tampang sangat kurus,

“Saya merasa ngeri. Dalam bayangan saya, yang positif HIV hanya menunggu saat untuk mati.”

Di tengah situasi demikian, di Medan ia berjumpa dengan seorang rekannya, yang kemudian memperkenalkannnya dengan komunitas HIV.

“Saat bertemu mereka, saya kaget karena mereka tampak baik-baik saja, tidak seserem yang saya bayangkan,” katanya.

Itulah hal yang kemudian perlahan memulihkan kepercayaan dirinya, apalagi setelah ia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan bersama rekan-rekannya yang positif.

Melawan Stigma

Titik penting dalam perjalanan Nasution terjadi pada tahun 2007, ketika dalam sebuah acara nasional di Surabaya, Jawa Timur, ia tiba-tiba ditunjuk rekan-rekannya menyampaikan keynote speech.

Dari podium, di hadapan ribuan orang, termasuk pejabat pemerintah dan para jurnalis, ia dengan suara lantang memperkenalkan diri sebagai perempuan positif, hal yang langka kala itu, juga hingga kini, bahwa ada orang yang mengumumkan statusnya di depan publik.

“Semua kaget saat itu, termasuk teman-teman saya, karena apa yang saya sampaikan melenceng dari naskah yang sudah mereka siapkan malam sebelumnya,” katanya.

“Mereka tidak menyangka saya seberani itu.”

Ia menyatakan, hidup di tengah masyarakat yang menganggap HIV sebagai penyakit kutukan butuh keberanian ekstra untuk menyatakan diri di depan forum-forum publik, ditambah lagi dengan statusnya sebagai mantan pecandu narkoba dan janda dengan dua orang anak dari suami yang berbeda.

“Banyak cap buruk untuk kami, antara lain sebagai sampah masyarakat dan perempuan tidak bermoral,” katanya.

Rivona kemudian terlibat terus dalam upaya edukasi, termasuk mengingatkan kepada perempuan positif bahwa mereka pada dasarnya masih tetap bisa hidup, bahkan bisa menikah dan punya anak yang negatif HIV, asalkan mereka rajin mengonsumsi ARV, pil yang mesti diminum rutin setiap hari untuk mencegah berkembangbiaknya virus.

Dan, dirinya adalah bukti nyata hal itu, di mana dua anak negatif HIV, meski salah satunya lahir 2006, tiga tahun setelah ia dinyatakan positif.

Keterbukannya kemudian menolong banyak orang.

Hartini Rahayu mengidap HIV karena tertular dari suaminya.  (Ryan Dagur/ucanews.com)

Salah satunya adalah Hartini Rahayu, 37, yag mengaku terinfeksi pada 2008, setelah anak lelakinya yang berusia sembilan bulan meninggal dunia dan divonis positif.

“Begitu tahu positif, saya mengurung diri sebulan di kamar,” katanya.

Namun kemudian, saat membaca berita tentang Nasution ia begumam dalam hati, ‘mengapa ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.’

Hartini pun kemudian memutuskan membuka statusnya sebagai Perempuan positif pada 2011 dan terlibat dalam aksi penyadaran.

Chyntya Noemi, 30 tahun, yang mengidap penyakit itu sejak 2011 karena tertular dari suaminya, juga berani membuka diri.

“Saya kemudian berani menceritakan masalah saya kepada keluarga, setelah bertahun-tahun memendamnya,” kata penganut Katolik dengan dua anak itu.

Perjuangan yang tidak selesai

Kisah-kisah ini adalah segelintir dari kisah serupa yang dialami ribuan perempuan positif di Indonesia.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik, di mana prevalensi HIV sudah sangat tinggi, yang bertumbuh dari Hanya sedikit kasus pada tahun 2000 menjadi 620,000 pada 2016 atau 0,5 persen dari total populasi.

Dari jumlah itu, 39 persen di antaranya tertular karena jarum suntik, 12,8 persen infeksi terjadi pada kaum homoseksual, 7.4 persen untuk transgender dan 7,2 persen pekerja seks.

Rivona mengatakan, sangat mungkin bahwa data riil di lapanga jauh di atas angka statistik itu.

“Umumnya orang takut untuk tes ataupun kalau ketahuan, lebih memilih menutup diri,” katanya.

Sebagai kordinator nasional Ikatan Perempuan Positifi Indonesia, yang memiliki cabang di hampir semua provinsi. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosialisasi dan peningkatan kesadaran.

Mereka telah memproduksi berbagai buku dan modul untuk sosialisasi kepada pemerintah dan anak sekolah tentang bahaya penyakit ini.

Ia mengatakan, perjuangan mereka tidaka akan selesai karena diskriminasi masih jadi pengalaman harian mereka.

Ia menyebut kasus terbaru pada bulan lalu, di mana  dua anak SD di Medan diusir dari sekolah karena positif HIV.

“Bayangkan, hal demikian masih bisa terjadi di era seperti sekarang ini,” katanya dengan nada heran.

Kesulitan yang sama juga menimpa anaknya yang kedua, yang kini sekolah di salah satu SD swasta di Jakarta.

“Ia negatif, namun, orangtua anak-anak di sekolah itu tidak menerima dia karena anak dari orangtuanya yang positif,” katanya.

“Ia tidak jadi dipindahkan, Hanya setelah saya mengancam akan menggugat sekolah itu,” lanjutnya.

Cinthya Novemi ketika mengetahui mengidap HIV sempat menyembunyikan statusnya. Namun kini berupaya berdamai dengan dirinya dan mau terbuka membicarakan penyakitnya. (Ryan Dagur/ucanews.com

Gereja mesti lebih terbuka

Bahkan di lingkungan institusi agamapun, pengabaian terhadap mereka terjadi.

Novemimengatakan, ia pernah mengikuti seminar di gereja dan pastornya menyebut pada orang yang positif HIV adalah orang-orang yang tidak bermoral.

Kecewa dengan pernyataan yang picik seperti itu, ia pun memilih mendaftarkan anaknya di salah satu Gereja protestan, yang lebih terbuka menerima mereka.

Pastor Peter C Aman OFM dosen teologi moral di Sekolah tinggi Filsafat Driyarkara mengafirmasi lemahnya perhatian terhadap kelompok ini, termasuk oleh gereja.

“Berbeda dengan kata-kata Yesus meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari satu yang hialng, Gereja kita memilih sebaliknya,” katanya.

Bagaimana pun, Nasution mengakui, “apa yang saya alami saat ini adalah bagian dari kesalahan di masa lalu.”

“Namun, itu tidak menjadi alasan untuk mendiskriminasi kami,” katanya.

“Saya saat ini terus berjuang ingin agar cukup kami yang seperti ini. Karena itu, kami terus berupaua terlibat dalam sosialisai mencegah penyakit ini.”

 

2 responses to “Tiga Srikandi yang Berjuang Melawan Stigma HIV”

  1. Franciscus says:

    Mohon nr contact dari salah satu. Karena saya kebingungan dan penanganan 2 anak Yg positif HIV sejak dalam kandungan n saat ini berusia 13 dan 16thn

  2. cnindonewsletter says:

    Selamat pagi Pak Franciscus. Mohon kirim detail Bapak beserta nomor telpon ke email: ucanindonesia@gmail.com. Kami akan sampaikan kepada mereka.

    Terima kasih
    Tim UCAN Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi