UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Tolak Kritikan Terhadap Paus Fransiskus Tentang Pelecehan Seksual

Nopember 30, 2018

Kardinal Tolak Kritikan Terhadap Paus Fransiskus Tentang Pelecehan Seksual

Kardinal Gerhard Ludwig Muller memegang Surat resmi, setelah ia diangkat sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus (kiri) di Vatikan tahun 2014. Kardinal Muller belum lama ini members paus tersebut terkait kritikan tentang penanganan kasus-kasus pelecehan seskual. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Orang boleh tidak setuju tentang masalah dan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan pelecehan seksual, tetapi tidak harus melayangkan tuduhan resmi terhadap paus apalagi meminta pengunduran dirinya, kata Kardinal Jerman Gerhard Muller.

Serangan publik semacam itu akan menyebabkan orang mempertanyakan kredibilitas Gereja, katanya dalam wawancara dengan  Vatican Insider, 27 November.

“Saya secara pribadi yakin bahwa Paus Fransiskus melakukan segala kemungkinan untuk menyelesaikan fenomena pelecehan terhadap anak di bawah umur dan  menumbuhkan spiritualitas baru di kalangan imam yang harus bertindak  selaras dengan Kristus dan melakukan apa yang baik untuk semua orang, terutama untuk anak-anak dan orang muda,” katanya dalam wawancara itu.

Ditanya tentang seruan  Uskup Agung Maria Vigano yang meminta Paus Fransiskus mengundurkan diri karena dia merasa Paus tahu tentang dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Uskup Agung AS Theodore E. McCarrick, tetapi gagal mengambil tindakan, Kardinal Muller mengatakan, “Tidak ada yang berhak untuk mendakwa Paus atau memintanya untuk mengundurkan diri.”

“Kalau kita memiliki pendapat berbeda tentang masalah yang ada dan cara untuk mengatasinya, kita harus mendiskusikannya,” masing-masing sesuai dengan perannya dan dengan cara yang bijaksana, kata kardinal.

Diskusi semacam itu tidak boleh menjadi “kontroversi publik yang berujung pada serangan yang akhirnya mempertanyakan kredibilitas Gereja dan misinya,” katanya.

Mantan ketua  Kongregasi  Ajaran Iman, yang ditugasi menangani kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para imam, mengatakan, “Kita semua harus bekerja sama untuk mengatasi krisis (pelecehan) ini yang melukai kredibilitas Gereja.”

“Sayangnya, kami memiliki kelompok-kelompok ini, ‘pihak-pihak’ ini – yang disebut ‘progresif’ dan ‘konservatif.” Kita semua satu dalam iman yang sama dan bukan oleh bias ideologi politik,” katanya.

Salah satu cara mengatasi krisis yang terjadi di Amerika Serikat, misalnya, katanya, Paus membentuk komisi kardinal yang ia percayai untuk mempelajari situasi dan kemudian menawarkan proposal berdasarkan “informasi yang akurat.”

Di luar masalah perbedaan pendapat, faksi-faksi yang bertikai, propaganda di media dan saling curiga, dia mengatakan, “kita membutuhkan landasan informasi yang akurat. Ini adalah satu-satunya cara kita dapat membuat keputusan untuk masa depan.”

Kardinal ditanya tentang permintaan Vatikan untuk uskup AS menunda pemungutan suara pada beberapa proposal untuk mengatasi kasus pelecehan selama pertemuan umum tahunan mereka pada pertengahan November.

Kongregasi  Uskup telah meminta agar tidak ada suara yang diambil pada proposal seperti standar akuntabilitas dan perilaku episkopal dan pembentukan komisi khusus untuk meninjau laporan tentang para uskup yang melanggar standar tersebut.

Kardinal Muller mengatakan para uskup dan Paus masing-masing memiliki tanggung jawab mereka sendiri, “tetapi setiap orang harus berkolaborasi.”

Hukum yang ada di Gereja adalah “cukup” dan “norma-norma Kongregasi untuk Ajaran Iman sudah ada,” kata kardinal, yang memimpin  Kongregasi  itu dari 2012 hingga 2017.

“Semua uskup tidak selalu berkolaborasi dengan para dikasteri. Mereka tidak memberi tahu (kami) apa yang mereka lakukan. Pertama, kami harus melakukan apa yang sudah ditetapkan dan diindikasikan sebagai perlu dan wajib oleh norma-norma yang ada,” katanya.

Setelah prosedur yang ada diikuti, maka “seseorang dapat berkolaborasi dalam semangat persaudaraan dan kolegial, dan mungkin mendiskusikan jika nada” atau maksud dari setiap teks yang diusulkan sudah cukup.

Dia mengatakan akan lebih baik  menghindari perdebatan dan kontroversi publik dengan mengadakan lebih banyak diskusi dengan Roma sebelum mengambil  keputusan dan bukan pada menit terakhir, terutama dengan para ahli di sidang doktrinal.

“Bapa Suci hanya satu orang dan dia tidak bisa mengurus semuanya. Inilah sebabnya mengapa ada banyak dikasteri dalam Kuria Roma, yang bekerja sama untuk mengembangkan proposal yang baik untuk diberikan kepada Paus.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi