UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Bantu Petani, Keuskupan Larantuka Bangun Pabrik Minyak Kelapa

Desember 4, 2018

Bantu Petani, Keuskupan Larantuka Bangun Pabrik Minyak Kelapa

Uskup Larantuka Mgr Francis Koping Kung dan Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon menandatangani prasasti saat peresmian pabrik VCO milik Keuskupan Larantuka pada 1 November 2018. (Foto: Melkhior Koli Baran/ucanews.com)

Prihatin dengan harga panen kelapa yang rendah dan jumlah petani yang miskin yang tidak mengalami perbaikan dalam mata pencaharian mereka dalam beberapa dekade, Pastor Rosarius Yansen Raring berinisiatif membangun pabrik minyak kelapa murni -atau virgin coconut oil (VCO) untuk membantu mengangkat nasib mereka.

Imam Keuskupan Larantuka di ujung timur Pulau Flores itu mengatakan dia memanfaatkan pengalamannya sebagai mantan ketua komisi pembangunan ekonomi keuskupan Larantuka untuk membantu para petani kelapa di daerah itu.

Dia memutuskan untuk mendirikan pabrik VCO sebagai unit bisnis dari keuskupan di sebidang tanah yang di paroki St. Maria Goreti, salah satu daerah yang memiliki kelapa.

Diawali dengan produksi percobaan bulan April, pabrik itu secara resmi diluncurkan pada 1 November oleh keuskupan dan Oxfam Indonesia.

Pastor Yansen mengatakan bahwa impian untuk membangun pabrik ini sudah bertahun-tahun untuk membantu para petani, yang memiliki persediaan buah kelapa yang berlimpah tetapi  kurangnya ide bagaimana memanfaatkan kelapa di daerah ini, yang tumbuh bebas di banyak pekarangan mereka, secara tepat.

“Kelapa memiliki potensi besar bagi warga di sini. Tetapi selama bertahun-tahun potensi berlimpah – limpah itu seperti tidak ada manfaatnya karena para petani selalu jatuh kembali pada teknik tradisional,” kata Yansen. Perhatian khususnya adalah wilayah kevikepan Adonara di mana sekitar 728 petani tinggal.

Dia mengatakan pabrik VCO baru telah membangunkan para petani dari tidur nyenyak dan membuat mereka mulai percaya bahwa itu akan mengubah hidup mereka.

“Pada tahun-tahun sebelumnya kami hanya bisa mengolah kelapa kopra dan menjualnya. Tetapi harga kopra kering  sangat rendah,” kata Romanus Beda, 40, seorang petani dari Pulau Adonara.

“Pembeli hanya membayar kami sangat rendah,” katanya.

Hermina Lakonawa, 45, yang berperan sebagai koordinator lebih dari 40 petani kelapa di Adonara yang akan memasok ke pabrik mengatakan mereka sangat senang dengan adanya pabrik VCO tersebut.

“Kehadiran pabrik ini memberi kita alternatif baru,” katanya, dan menambahkan bahwa itu akan meningkatkan nilai buah kelapa itu sendiri.

Pastor Yansen mendirikan pabrik setelah bekerja selama bertahun-tahun dengan para petani yang hanya mendapatkan sedikit dari kerja keras saat menghasilkan kopra.

“Dibutuhkan lima buah kelapa untuk menghasilkan satu kilogram kopra. Itu juga mencakup pemetikan buah, mengangkut, memecah, mengeringkannya dan dijual di pasar. Sedangkan uang yang dihasilkan bagi para petani sangat sediki,” katanya.

Menjual kelapa yang belum diolah ke pabrik akan menghemat waktu dan energi para petani. Disaat yang sama mereka mendapatkan harga lebih tinggi, tambahnya.

Para petani dan umat Keuskupan Larantuka menyaksikan pabrik minyak kelapa murni yang diresmikan pada 1 November 2018. (Foto: Melkhior Koli Baran/ucanews.com)

 

Kesinambungan

 

Salah satu keprihatinan pastor itu adalah memastikan pabrik minyak kelapa menjadi bisnis yang berkelanjutan. Dia telah meletakkan dasar untuk bisnis ini dengan mendirikan Credit Union Sinar Saron di keuskupan Larantuka, dan banyak petani  menjadi bagian dari jaringannya.

Dia mengatakan proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kehidupan ratusan petani secara signifikan, yang masing-masing memiliki antara 500-1.500 pohon kelapa.

Beda mengatakan ia memiliki 500 pohon kelapa yang dipanen tiga kali setahun. Ini berarti dia dapat memasok hingga 8.000 buah kelapa ke pabrik yang dikelola gereja per panen.

Pabrik memiliki kapasitas yang cukup untuk memproses 45.000 kelapa per bulan dan menurut Pastor Yansen  tidak akan pernah kehabisan bahan baku karena dukungan kuat dari petani.

Pabrik ini dapat menghasilkan tiga ton minyak kelapa murni sebulan yang kemudian akan dikirim ke wilayah lain sekali dalam tiga bulan dengan jumlah pengiriman 10 ton, kata imam itu.

Dengan adanya pabrik ini akan ada perputaran uang sekitar 45 juta rupiah dalam sebualn, yang tentunya akan berdampak pada pemasukan para petani. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari apa yang mereka hasilkan sekarang.

 

Uskup mengerahkan komunitas

 

Mgr Fransiskus Kopong Kung, Uskup Keuskupan Larantuka menggambarkan pabrik itu sebagai mimpi yang menjadi kenyataan bagi masyarakat setempat dan mendorong lebih banyak warga untuk mendukung program ini.

“Juallah  kelapa kalian ke pabrik ini. Kami siap membeli dengan harga pantas,” kata uskup itu saat peluncuran resmi pada 1 November.

Antonius Hubertus Gege Hadjon, Bupati kabupaten Flores Timur, mengatakan ini memang merupakan terobosan positif bagi kesejahteraan petani kelapa, yang sejalan dengan program pemerintah.

“Melalui pabrik ini, keuskupan membantu pemerintah menaikkan harga buah kelapa, yang tentunya bagus untuk para petani,” tambahnya.

Kamilus Tupen Jumad, koordinator kelompok petani setempat, juga memuji langkah gereja atas  pendekatan inovatifnya.

“Ini adalah cara konkret gereja dapat membantu petani kelapa kami, yang telah bekerja keras untuk menaikan harga  kelapa setelah terpuruk terus selama bertahun – tahun. Ini akan membantu mereka berdiri dengan kedua kaki mereka sendiri,” katanya.

Dia mengatakan dia berharap gereja tidak hanya akan menjual minyak kelapa ke pembeli dari luar keuskupan, tetapi juga mendidik masyarakat lokal untuk membeli dan menggunakannya sebagai  minyak goreng rumah tangga yang lebih sehat.

One response to “Bantu Petani, Keuskupan Larantuka Bangun Pabrik Minyak Kelapa”

  1. Tonny M Tansatrisna says:

    “PROVICIAT “Mgr Francis Kopong Kung dan RD Rosarius Yansen Raring. Langkah Cerdas membangun Ekonomi Umat Keuskupan Larantuka.
    Salam,
    Tonny M. Tansatrisna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi