UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Tagle Kunjungi Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Desember 5, 2018

Kardinal Tagle Kunjungi Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Kardinal Luis Antonio Tagle, presiden Caritas Internationalis, mengungjuni pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar, Bangladesh, pada 3 Desember. (Foto: Stephan Uttom/ucanews.com)

Kardinal Luis Antonio Tagle, ketua Caritas Internationalis, sebuah perhimpunan yayasan amal Katolik global, mengunjungi kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk terus membantu minoritas Muslim tersebut.

Kardinal Tagle, 61, uskup agung Manila, memulai kunjungan dua harinya ke Bangladesh pada 3 Desember dengan mengunjungi keluarga pengungsi, relawan kemanusian termasuk staf Caritas dan pejabat pemerintah di distrik Cox’s Bazar.

Cox’s Bazar di sebelah tenggara Bangladesh menampung lebih dari satu juta Muslim Rohingya, sebagian besar melarikan diri dari kekerasan mematikan di negara bagian Rakhine, Myanmar pada tahun 2016 dan 2017.

Kardinal Tagle mengajak dialog dengan beberapa keluarga di kamp pengungsi Kutupalong, yang terbesar dari 30 tempat penampungan pengungsi di Cox’s Bazar. Kardinal mengunjungi titik distribusi bantuan, ruang ramah anak dan rumah model yang didirikan oleh Caritas.

Selanjutnya Uskup Agung Manila itu berdialog dengan relawan kemanusian termasuk yang berasal dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan juga bertatap muka dengan Muhammad Abul Kalam, ketua Komisi Bantuan Pengungsi dan Repatriasi (RRRC), Lembaga pemerintah utama yang mengawasi pengungsi dan saluran  bantuan.

Kunjungan itu telah membawa kegembiraan sekaligus kesedihan bagi Kardinal Tagle, yang telah “menyaksikan berita dan liputan tentang evakuasi ratusan ribu orang” dan hatinya “berdarah karena penderitaan mereka.”

“Sekarang, datang ke kamp, di satu sisi saya bersukacita bahwa mereka diberi perhatian, terutama martabat yang layak mereka dapatkan. Tetapi pada saat yang sama saya pribadi terus bersedih karena saya tidak tahu apakah ini adalah keadaan permanen kehidupan mereka atau ini hanya sementara, “kata Kardinal Tagle kepada ucanews.com.

“Saya tidak dapat membayangkan bagaimana orang tua akan menanggapi jika anak-anak mereka bertanya kepada mereka apa masa depan mereka. Jika saya punya anak di sini, saya tidak akan tahu bagaimana memberi jawaban.”

Pasangan pengungsi Jahid Hossain, 35, dan Rehena, 30, mengatakan mereka senang bertemu Kardinal Tagle.

“Kami mengatakan kepadanya bahwa kami senang melihatnya. Kami berbagi dengan dia kisah kami tentang rasa sakit dan penderitaan, dan kami meminta bantuan sehingga kami dapat kembali ke rumah satu hari nanti sebagai warga Myanmar,” kata Hossain kepada ucanews.com.

Kardinal Tagle mengatakan bahwa dia menghargai dukungan Caritas untuk para pengungsi.

“Saya sangat senang melihat karya Caritas Bangladesh yang sangat bagus. Ini benar-benar mewujudkan apa yang menjadi misi Caritas. Tetapi saya juga senang melihat bahwa Caritas Bangladesh, yang sangat kecil, mampu melakukan misinya karena kolaborasi dengan banyak anggota Caritas lainnya. Ini benar-benar memberi saya harapan bahwa jika kita bersama-sama kita dapat membuat perbedaan, “katanya.

Caritas sudah mulai bekerja di kamp Kutupalong sejak gelombang terakhir dari pengungsi Rohingya mulai tiba pada bulan Agustus 2017.

Sejauh ini, mereka telah menghabiskan sekitar 750 juta taka (126 milyar rupiah) untuk membantu para pengungsi dari dana darurat yang didapat dari sumbangan dari para anggota Caritas di seluruh dunia. Ia juga telah menerima dan menghabiskan sekitar 112 milyar rupiah dari UNHCR.

Program Tanggap Bersama Caritas telah berfokus pada dukungan komprehensif untuk Rohingya, kata James Gomes, direktur regional Caritas Chittagong.

Sekitar 40.000 rumah tangga atau 240.000 pengungsi telah mendapat manfaat dari dukungan makanan Caritas, sementara 10.000 keluarga telah menerima barang-barang non-makanan dan membangun lebih dari 1.000 tempat penampungan, katanya.

Caritas juga membagikan tabung dan kompor gas kepada 20.000 keluarga untuk mengurangi kebutuhan dengan cara menebang pohon untuk memasak, dan telah memberikan anakan pohon dan sayuran kepada lebih dari 26.000 keluarga pengungsi.

“Pada 2019, fokus utama kami adalah pengembangan lokasi, pengembangan dan perluasan akses jalan raya, pembangunan jembatan, penanaman pohon dan pembangunan tempat penampungan yang lebih tahan lama,” kata Gomes. –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi