UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Komnas HAM Temukan Perlakuan Tak Manusiawi Terhadap Penyandang Disabilitas Mental

Desember 5, 2018

Komnas HAM Temukan Perlakuan Tak Manusiawi Terhadap Penyandang Disabilitas Mental

Seorang perempuan Katolik menyuguhkan minuman kepada seorang penyandang disabilitas mental di sebuah panti rehabilitasi sosial di Bekasi, Jawa Barat.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menuduh sejumlah panti rehabilitasi sosial untuk para penyandang disabilitas mental  dengan memperlakukan tidak manusiawi seperti pemasungan, penelantaran, dan mengabaikan hak-hak mereka.

Sebanyak enam panti rehabilitasi sosial menjadi tempat obsevasi Komnas HAM, khususnya di Brebes dan Cilacap di Jawa Tengah, serta Bantul dan Sleman di Yogyakarta.

Dalam laporan, yang diluncurkan pada 3 Desember untuk menandai Hari Disabilitas Internasional mengatakan para pengelola di panti tersebut sering memperlakukan tidak manusiawi terhadap para  penyandang disabilitas mental  termasuk memukul mereka dan membiarkan mereka tinggal di tempat kumuh.

Laporan tersebut berdasarkan kunjungan tim Komnas HAM ke panti-panti rehabilitasi sosial berdasarkan laporan dari masyarakat.

“Mereka menganggap para penyandang disabilitas  mental adalah manusia yang tak berguna dan berbahaya sehingga mereka  tidak mau memperhatikan mereka,” kata M Choirul Anam, komisioner Komnas HAM.

Keluarga-keluarga menganggap mereka sebagai kutukan, aib, dan kerasukan roh jahat sehingga mereka layak   tinggal di panti rehabilitasi, demikian laporan itu.

“Mereka terpaksa tinggal di panti-panti yang kumuh karena keluarga menolak mereka. Keluarganya merasa malu dengan keadaan  anggota keluarga memiliki penyandang disabilitas  mental,” kata Anam.

“Tujuan kami meluncurkan temuan ini agar pemerintah memperhatikan dan mengawasi panti-panti ini dan para pengelola  mengubah cara mereka untuk mengelola panti rehabilitasi tersebut,” katanya.

Mochamad Felani, yang melakukan obervasi, mengatakan pria, wanita dan anak-anak tinggal dalam satu ruangan.

“Kami sering menemukan perempuan dimandikan dan pakaian dipakai oleh pria, yang berpotensi melakukan pelecehan seksual,” katanya kepada  ucanews.com.

Maria Agustina Nina dari Jakarta, yang memiliki putrinya dengan penyandang disabilitas mental, mengatakan temuan itu mengejutkan.

“Saya pernah mendengar bahwa para penyandang disabilitas mental diperlakukan tidak manusiawi di panti-panti rehabilitasi sosial,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah perlu mengawasi panti-panti tersebut bagaimana orang dengan penyandang disabilitas mental diperlakukan secara manusiawi.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menanggapi laporan itu dengan mengatakan kementriannya akan menindak tegas dan memberikan sanksi hukum terhadap pengelola panti jika ada pelanggaran peraturan.

“Fasilitas (dalam laporan itu) tidak dikelola oleh kami, tapi kami akan memberikan sanksi kepada pengelola sesuai regulasi,” kata Kartasasmita seperti dikutip Kompas.com.

Ia juga mengatakan kekurangan tenaga menangani orang dengan penyandang disabilitas mental.

Indonesia memiliki 260 juta penduduk tapi hanya 773 psikiater dan  451 psikolog klinis.

Menurut Kementerian Kesehatan, sekitar 14 juta orang menderita sakit mental di tanah air.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi