UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Perjuangan Imam Camillian Membebaskan Orang yang Dipasung di Flores

Desember 6, 2018

Perjuangan Imam Camillian Membebaskan Orang yang Dipasung di Flores

Pastor Cyrelus Suparman Andi MI sedang menggunting rambut Petrus Silvester, penyandang ganggung jiwa yang dibebaskan dari pasungan setelah 13 tahun dipasung di belakang rumanya.

Selama 13 tahun, Petrus Silvester, 36, menghabiskan hari-hari hidupnya di pasungan di belakang rumahnya, di mana kakinya dijepitkan di sepasang balok.

Itu adalah cara terbaik yang bisa dilakukan oleh keluarga dan warga di kampungnya di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur agar ia tidak melakukan kekerasan, setelah sebelumnya ia memukul banyak orang di jalan dan menebar ancaman untuk membunuh.

Pemasungan yang dialami Silvester kemudian berakhir pada Februari lalu, setelah ibunya berupaya mencari bantuan dan menemui Pastor Cyrelus Suparman Andi MI, pengajar Etika Biomedis di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, yang memberi perhatian pada upaya perawatan orang dengan gangguan jiwa.

“Menurut ibunya, ia (Silvester) sering menangis dan meminta agar pasungannya dilepas,” kata Romo Andi, yang juga pendamping para frater Kamilian.

Saat memutuskan mengunjungi Silvester, mereka menemukannya dalam kondisi memprihatinkan.

“Ia tidak mengenakan baju, tetapi hanya sehelai kain untuk menutupi badannya. Ia berulangkali mengatakan kepada saya, ‘pater, pater tolong bebaskan saya,’” kata imam ini.

Merasa iba dengan kondisi Silvester, Romo Andi segera memutuskan membangun rumah untuknya.

Beberapa pekan kemudian, rumah dengan nama “rumah bebas pasung” itu jadi dengan luas 12 meter persegi, terbuat dari lantai, berdinding pelupuh dan dilengkapi tempat tidur serta toilet.

“Rumah ini dibuat persis di samping rumah keluarganya,” kata Romo Andi kepada ucanews.com.

Rumah itu adalah salah satu dari total 14 rumah yang hingga kini sudah dibangun Pastor Andi dan para frater untuk orang dengan gangguan jiwa, sejak misi mereka berjalan tahun 2015.

 

Pastor Cyrelus Suparman Andi dan para frater Camillian bekerja sama membangun rumah bagi orang yang selama ini dipasung.

 

Satu rumah rata-rata membutuhkan dana 18-21 juta, tergantung lokasi, topografi tanah dan biaya tukang.

Dananya diperoleh dengan menyisihkan sebagian anggaran konsumsi mereka di biara, sebagian dari uluran tangan donatur.

“Rumah bebas pasung adalah bagian dari cara memperlakukan orang gangguan jiwa secara manusiawi,” katanya.

“Dari aspek sosial, rumah ini memberikan rasa aman bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Di samping itu, pasien juga tidak dipisahkan dari keluarganya, tetapi mereka berpartisipasi secara aktif merawat pasien,” katanya.

 

Praktek Lazim

Sebagaimana terjadi di Flores, pemasungan masih menjadi praktek umum yang terjadi di Indonesia terhadap penyandang ganggung jiwa, terutama yang dianggap membahayakan.

Pada 2016, Kementerian Sosial sudah menetapkan target bebas pasung pada tahun depan. Namun, banyak pihak yang ragu bahwa terget itu terwujud, karena tidak ada upaya yang signifikan untuk mencapainya.

Menurut data Kementerian Kesehatan, saat ini masih terdapat 19.845 orang dengan ganggung jiwa yang dipasung dari total 450.000 penyandang gangguan jiwa.

Siswanto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes mengatakan, 17,5 persen pemasungan terjadi di pedesaaan dan 10,7 persen di perkotaan.

Ada banyak alasan praktek ini dilakukan.

Menurut Romo Andi, keluarga umumnya terpaksa melakukan hal itu, karena kebingungan mencari cara penanganan, terutama demi mencari aman dari bahaya terjadinya kekerasan.

Vince, 41, warga di Maumere yang sakit setelah kembali bekerja dari Batam misalnya, terpaksa dipasung pada 2001 karena membacok leher tetangganya.

“Keluarga sudah berusaha merawatnya, hingga orangtuanya menjual tanah untuk mendapatkan uang. Mereka bingung apalagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya,” katanya.

Kisah serupa terjadi pada Once, gadis 20 tahun. Keluarganya melakukan berbagai cara untuk menyembuhkannya, termasuk dengan menjual harta mereka, hingga ibunya memilih terus mengikutinya kemanapun ia pergi.

“Sampai suatu saat, ibunya mengatakan, ‘saya sudah capai,’ dan Once sendiri yang meminta untuk dipasung, lalu diikat dengan rantai di belakang rumah mereka.”

Andreas Harsono, peneliti Human Right Watch, lembaga yang pernah melakukan riset khusus tentang masalah ini mengatakan masalah utama dalam penanganan penyandang gangguan jiwa di Indonesia adalah langkahnya fasilitas kesehatan yang memadai, yang sangat sulit dijangkau oleh masyarakat, khususnya di pedalaman.

“Letak rumah sakit jiwa yang terlampau jauh membuat keluarga urung memberikan perawatan medis dan memilih cara instan dengan memasung,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, kebanyakan rumah sakit berada hanya di ibu kota provinsi, sementara posisi penderita jauh di pedalaman.

Di Nusa Tenggara Timur yang memiliki 22 kabupaten, misalnya, hanya terdapat satu rumah sakit yang ada dokter jiwanya.

Ia mengatakan, perlu adalah sosialisasi karena banyak keluarga yang belum memahami apa yang mereka harus lakukan.

“Masih banyak masyarakat atau keluarga memandang anggota keluarga yang sakit jiwa secara tradisional, seperti karena kutukan, karma keluarga atau korban guna-guna,” katanya.

Cyrelus Suparman Andi dan para seminaris sedang ngobrol dengan Vince, penyandang ganggungan jiwa yang sekarang sudah tinggal di rumah bebas pasung. Vince dipasung sejak 2001 dan dibebaskan pada September tahun ini.

 

Bisa Sembuh

Pater Andi menjelaskan, pada prinsipnya orang dengan gangguan jiwa bisa disembuhkan, dan terutama yang paling penting adalah mereka mesti diperlakukan secara manusiawi.

Pembangunan rumah bebas pasung, jelasnya, adalah salah satu cara.

“Dengan rumah yang aman, mereka tidak lagi stres, yang berdampak positif pada penurunan agresivitas mereka,” katanya.

Pemberian bantuan, kata dia, tentu tidak cukup dengan rumah itu, tetapi juga melalui pengobatan dan pendampingan.

Ia mengatakan, bersama para frater mereka mengadakan kunjungan rutin kepada para pasien untuk ngobrol, sharing dan berdoa bersama.

“Umunya, mereka yang lepas dari pasung bisa diajak ngobrol, tidak lagi galak dan kasar seperti sebelumnya,” katanya.

Silvester adalah salah satu bukti nyata, di mana ia kini sudah berubah signifikan.

“Setelah ia tinggal di rumah bebas pasung, perubahan perlahan-lahan terjadi,” kata Theodorus Raja, adik Silvester.

“Kami sudah berinteraksi seperti biasa dengan dia. Ia juga kini bisa ke ladang untuk bekerja,” lanjut Raja.

Ia menjelaskan, semua orang di kampung kaget melihat perubahan yang terjadi.

“Mereka mengatakan, ini  seperti mukjizat,” katanya.

Hal serupa juga terjadi pada Vince. Saat ia memasuki rumah bebas pasungnya, ia mengalami perubahan drastis.

“Sebelumnya ia sangat galak dan tidak mau melihat orang lain. Namun, saat kami mengadakan upacara pemberkatan rumahnya, ia kemudian mulai bicara dengan bebas dengan orang banyak. Dia tidak lagi menunjukan sikap yang kasar. Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya,” kata Romo Andi.

Melihat buah dari apa yang sudah dilakukan, Romo Andi mengatakan, mereka akan terus berupaya melanjutkan programnya, terutama juga karena pelayanan untuk orang sakit adalah bagian yang melekat dengan misi kongregasinya.

“Misi kami adalah membebaskan makin banyak lagi orang dari pasungan dan juga dari pola pikir yang mmbelenggu mereka bahwa penyandang ganggung jiwa tidak bisa disembuhkan selain dengan memasung mereka.”

 

5 responses to “Perjuangan Imam Camillian Membebaskan Orang yang Dipasung di Flores”

  1. Avent says:

    Salam juang, Kae Pater.

  2. Ferdinandus Leu says:

    Luarbiasa kerasulan ini. Salute!

  3. Tonny M Tansatrisna says:

    Pater Cyrelus Suparman Andi, kami gembira dengan Pastoral Pembebasan yang dilakukan.
    saya ingin bertgabung.
    Antonius Min Tansatrisna, alias Tonny. 081357991100.

  4. Rina Romberta says:

    Melawati orang sakit
    Top Romo

  5. Hilda says:

    Kk tuang,,kami bangga sekali dengan ite,,
    Tetap setia n teguh dlm menjalankan tugas panggilan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi