UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Suster Gembala Baik Buka Peluang Perubahan Bagi Wanita Myanmar

Desember 6, 2018

Suster Gembala Baik Buka Peluang Perubahan Bagi Wanita Myanmar

Suster Rosie Moe mengawasi perempuan yang menjahit di Pusat Pemberdayaan Perempuan Rose Virginie di Mandalay, Myanmar pada 26 November. Tempat ini didirikan dan dikelola oleh Suster Gembala Baik. (ucanews.com)

Suatu senja belum lama ini, tampak sekelompok wanita sedang menjahit pakaian di sebuah ruangan terbuka di Mandalay, sementara seorang biarawati tampak mengawasi mereka. Tetapi ini bukanlah sebuah toko pakaian.

Mereka belajar keterampilan yang berguna untuk mencari nafkah agar bisa keluar dari kungkungan nasib yang jauh lebih buruk di Pusat Pemberdayaan Wanita Rose Virginie di bekas ibu kota kerajaan Myanmar.

Diresmikan pada tahun 2016, tempat ini dijalankan oleh Konggregasi Suster Gembala  Baik.  Pusat Ini menawarkan kelas menjahit, tata rambut, kursus komputer dan bahasa Inggris sehingga wanita yang telah mengalami hidup dengan risiko pelecehan atau perdagangan dapat melatih diri untuk menjadi ahli kecantikan dan mengejar karir lainnya yang lebih menjanjikan di masa depan.

“Kami membantu perempuan menjamin kehidupan harian mereka sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang bermartabat,” kata Suster Chaw Su Aung, koordinator Pusat Pelatihan tersebut, kepada ucanews.com.

“Kami tidak berbicara tentang agama dan kami hanya mengajarkan katekese kepada perempuan yang sudah Katolik,” katanya.

 

Dua remaja sedang mempraktikkan ketrampilan mereka menata rambut (ucanews.com)

 

Pusat ini memiliki ‘pelajar’ yang terdiri dari 42 perempuan, termasuk Katolik, Baptis, Budha dan satu Muslim. Mereka berasal dari daerah-daerah yang dilanda konflik seperti Negara Bagian Kachin dan kantong – kantong etnis lainnya termasuk negara bagian Kayah, Chin dan Karen.

“Tujuan kami adalah memberi mereka keterampilan kejuruan dan kehidupan tanpa memandang ras atau agama,” kata Suster Su.

Di antaranya ada  aturan semua ponsel harus dimatikan dari jam 8 pagi hingga 4 sore.

Siswa harus membayar token 200.000 kyat (sekitar 1,8 juta rupiah) untuk membiayai kursus sepanjang tahun, tetapi para biarawati menutupi semua biaya bagi mereka yang tidak mampu membayar ini namun menunjukkan komitmen untuk memperbaiki harkat hidup mereka dalam kehidupan.

Para biarawati juga mengajarkan “ketrampilan hidup” setiap Sabtu termasuk manajemen waktu, pengendalian diri, kesadaran akan perdagangan manusia, hak-hak perempuan, dan cara-cara melindungi diri dari eksploitasi.

Untuk mengikuti  kursus lanjutan tentang akuntansi, manajemen, perhotelan dan memasak, para siswa diutus untuk belajar di  Balai Latihan Swasta lain di kota yang sama.

Pusat Pemberdayaan Wanita Rose Virginie didirikan oleh dua biarawati dengan dibantu  tujuh staf yang digaji dan beberapa sukarelawan.

Suster Rosie Moe, seorang supervisor di pusat itu, mengatakan bahwa hal pertama yang dia coba lakukan adalah mengidentifikasi setiap kekuatan wanita.

“Beberapa dari mereka berjuang sesuai dengan standar kemampuan mereka, jadi kami mendesak mereka untuk beralih ke ketrampilan  pembuatan sampo atau memasak,” katanya.

Jaringan biarawati dengan bisnis di Yangon mencari peluang kerja untuk bangsal muda mereka.

“Tetapi kami hanya mengirim mereka untuk bekerja jika kami yakin itu adalah lingkungan yang aman bagi mereka, dan bahwa mereka akan memiliki kesempatan untuk belajar keterampilan baru yang berguna di sana,” kata Suster Moe.

Para biarawati mengirim dua gadis ke Thailand baru-baru ini setelah mereka menyelesaikan kursus memasak di pusat pelatihan itu. Sekarang rencana sedang dikembangkan untuk membantu saudara – saudari yang lain menjalankan bisnis mereka sendiri, misalnya dengan mendirikan kedai kopi.

“Kami memberi mereka sejumlah uang tunai sehingga mereka terhindar dari rentenir dan mereka membayar kami kembali menggunakan skema kredit mikro kami,” kata Suster Su.

Para biarawati mengatakan bahwa sebagian besar siswa yang menyelesaikan kursus mereka akhirnya membuka usaha sendiri sebagai wirausahawan, sebagian besar bekerja sebagai penata kecantikan.

Stella, seorang Katolik dari Negara Bagian Kayah, mengatakan dia mendengar pusat pelatihan ini  setelah salah seorang temannya pergi ke sini tahun lalu.

Mereka juga mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris (ucanews.com)

“Saya sangat optimis,” katanya. “Tetapi prioritas utama saya adalah mencapai tingkat kemahiran bahasa Inggris tertentu sehingga saya dapat melamar pekerjaan LSM di sini,” kata wanita berusia 20 tahun itu.

Dia juga mengambil kursus komputer dan akan berencana untuk belajar akuntansi pada bulan Desember.

Mai Mai, 18, berasal dari Negara Bagian Kachin yang dilanda konflik. Dia berkata bahwa dia sering menangis frustrasi karena tidak mampu memahami poin-poin penting dari penataan rambut.

“Tetapi beberapa bulan kemudian, saya belajar cara mengatasinya,” kata Kachin Baptist. “Anda harus gagal untuk berhasil. Sekarang saya menikmati prosesnya.”

“Impian saya adalah membuka salon kecantikan, jadi saya akan terus belajar sampai saya bisa melakukannya secara profesional,” tambahnya.

Para Suster Santa Perawan Maria dari Kongregasi Gembala Baik didirikan di Perancis pada tahun 1835 oleh St. Mary Euphrasia Pelletier.

Konggregasi ini membuka misi baru di Myanmar pada 1866. Saat ini ada 51 biarawati yang melayani di lima keuskupan.

Para biarawati memberikan pendidikan dan pelatihan kejuruan bagi perempuan muda yang menghadapi krisis sosial. Mereka juga membuka  pusat penitipan anak untuk anak positif – HIV dan anak-anak dari orang tua yang hidup dengan HIV atau kecanduan narkoba.

Mereka juga peduli terhadap wanita yang beresiko perdagangan manusia dan anak jalanan.

Misi mereka termasuk pelayanan penjara, penjangkauan sosial dan advokasi hak asasi manusia, kesetaraan gender, hak anak, keadilan dan perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi