UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Juga Manusia, Bisa Diselimuti Kabut Depresi

Desember 11, 2018

Imam Juga Manusia, Bisa Diselimuti Kabut Depresi

Seringkali para imam tidak berbeda dari awam yang terkadang tidak mau menceritakan tentang kesulitan yang mereka lalui. (ucanews.com

Oleh: Margarita Chen, China

Beberapa tahun  lalu, saat saya belajar di Manila dan membaca sebuah buku baru berjudul When Priests also get Depression, ditulis dengan versi Cina, sebuah adaptasi dari buku Emerging From Depression karya William E. Rabior, diterbitkan oleh Taiwan Wisdom Press.

Seorang imam muda dari provinsi Sichuan – Cina Barat Daya meminjam buku saya itu, tetapi dia tidak pernah mengembalikannya. Saya bertanya-tanya apakah mungkin imam itu mengalami depresi?  Saya berharap buku itu akan memberinya pencerahan.

Masa belajar sesungguhnya adalah masa paling sederhana dan paling menyenangkan  dalam kehidupan seorang imam, tentunya dibandingkan dengan masa ketika menghadapi berbagai jenis tugas paroki, yang merupakan tantangan nyata.

Saya ingat bahwa saat  Paskah saya mengunjungi provinsi Hebei di Cina tengah dengan seorang umat Katolik dari Hong Kong. Setelah Misa, umat paroki mengambil botol mereka sendiri dan bergegas ke tangki untuk mengisinya dengan air suci, dan tampak agak tidak beraturan.

Imam itu meminta mereka berbaris dan tidak perlu terburu-buru. Tetapi seorang umat Katolik perempuan memarahinya karena ikut campur. Teman saya asal Hong Kong itu tercengang. Saya kewalahan dan menariknya keluar dari gereja itu.

Imam yang lembut itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi saya merasa sangat tidak nyaman dan bertanya-tanya mengapa imam itu harus menghadapi kekejian seperti itu.

Ada seorang imam yang baru ditahbiskan yang lebih memilih untuk memimpin Misa di panti jompo dibandingkan melayani di paroki karena dia merasa bahwa umat paroki terlalu cerewet.

Uskup tahu bahwa imam itu memiliki fobia kepada umat paroki, jadi dia diizinkan tinggal di panti jompo. Sejak itu, dia belum keluar dari rumah itu dan dia pernah memuji para manula itu karena lebih lembut, murah hati dan lucu dibandingkan umat paroki.

Seorang imam tua yang sakit menerima panggilan pada malam musim dingin dari seorang umat  Katolik yang memintanya untuk pergi ke rumah sakit sesegera mungkin untuk memberikan sakramen orang sakit kepada seorang pasien.

Ketika pastor itu memintanya untuk mencarikan seorang imam muda, penelepon memarahinya dan mengutuknya untuk masuk ke neraka. “Orang Katolik benar-benar menyakiti perasaan saya,” kata imam itu.

Belum lama ini, saya bertemu dengan seorang pastor paroki senior yang belum pernah saya temui selama bertahun-tahun. Dia menjadi lebih kurus dan saya bertanya kepadanya apa yang telah terjadi.

“Aku depresi,” jawabnya. Dia mengatakan uskup memberinya terlalu banyak pekerjaan dan dia sangat kelelahan. Dia berulang kali meminta izin untuk mengundurkan diri tetapi uskup tidak setuju.

Tidak ada jalan keluar bagi beberapa imam ketika sebuah keuskupan menghadapi kekurangan panggilan dan uskup tidak menemukan orang lain. Selain itu, jika seorang imam memiliki pengetahuan yang baik tentang pekerjaannya dan bekerja dengan sangat baik, uskup menugaskan dia semua pekerjaan penting.

Saya memberi tahu imam itu bahwa saya tidak dapat menawarkan bantuan tetapi akan berdoa untuknya.

Saya duduk di tangga sebuah tempat ziarah di Cina mendengarkan seorang biarawati tua yang menjelaskan bagaimana membantu para imam di keuskupannya untuk menyelesaikan masalah mereka.

Biarawati itu mengatakan ada banyak imam yang “membuang sampah [menuangkan keluhan]” kepadanya. Beberapa dari mereka mengadukan keluhannya  selama lebih dari enam jam dan kemudian memberikan makanannya sebagai ucapan terima kasih.

Banyak hal di gereja sunggut sulit untuk dikatakan dan tidak dapat dikatakan. Seorang imam tua yang memimpin kelas spiritual bergurau bahwa para imam sering berkumpul untuk mengucapkan kata-kata buruk “topi merah kecil”.

Seorang uskup pernah mengatakan kepada saya bahwa dia begitu sibuk dengan pekerjaan administratif tetapi masih perlu mendengarkan begitu banyak keluhan, membiarkan telinganya lelah dan sedikit waktu untuk latihan rohani.

Setiap keluarga harus menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri, dan lebih sering kita mungkin berpikir bahwa Tuhan tidak ada di sana.

Seorang imam yang depresi pernah mengatakan kepada saya bahwa dia ingin melompat dari lantai tiga karena campur tangan politik dari pihak Pemerintah China.

Orang biasa yang mengalami depresi tidak mau membiarkan orang lain tahu, seperti juga para gembala kita yang memimpin kawanan domba.

Dalam beberapa tahun terakhir, lebih banyak perhatian diberikan pada pelatihan kaum awam dengan harapan bahwa mereka akan mengerti bahwa jika tidak ada imam, tidak ada sakramen, jadi mungkin mereka akan menghormati dan menghargai imam.

Seorang imam tua yang bertugas sebagai Hakim Tribunal Gereja selalu menampilkan wajah bahagia. Sepertinya tidak ada yang bisa merepotkannya. Dia memberi tahu saya rahasianya bahwa sebelum menghadiri Misa pagi dia akan melafalkan 15 misteri Rosario di pintu masuk gereja. Praktek itu terus  dilanjutkan selama beberapa dekade.

Saya terkadang berpikir: “Apakah kita sering lupa untuk membawa semua kesedihan kita ke hadapan altar Tuhan dan mempercayakannya kepada Tuhan Yesus?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi