UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gubernur DIY Minta Maaf atas Kasus Pemotongan Salib Makam Katolik

Desember 21, 2018

Gubernur DIY Minta Maaf atas Kasus Pemotongan Salib Makam Katolik

Bagian atas salib kuburan Albertus Slamet Sugihardi dipotong setelah adanya protes dari warga sebelum jenazahnya dimakamkan di TPU Jambon, Purbaway, Kotagede Yogyakarta pada 17 Desember 2018. (Foto istimewa)

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan meminta maaf atas terjadinya kasus pemotongan salib di makan seorang Katolik di Purbayan, Kotagede.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Saya sebagai pembina wilayah wajib menyatakan permohonan maaf,” katanya dalam konferensi pers di Yogyakarta, Kamis, 20 Desember.

Meski menyatakan bahwa pemotongan salib di makam Albertus Slamet Sugihardi, warga Desa Purbayan pada 17 Desember itu merupakan hasil kesepakatan antara warga dengan pihak keluarga, namun ia berharap peristiwa serupa tak lagi terjadi di DIY.

Ia juga menyatakan, peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama bagi warga DIY tentang arti toleransi.

Permintaan maaf Sultan disampaikan menyusul adanya protes dan kecaman keras dari tim Komisi Keadilan, Perdamaiaan dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DIY yang melakukan investigasi kasus ini.

Dalam pernyataan resminya, Agus Sumaryoto, ketua tim ini menyatakan, peristiwa ini merupakan pelanggaran terhadap konstitusi serta bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Agus menjelaskan, kuburan tempat jenazah Slamet dimakamkan adalah kuburan umum dan pemotongan bagian atas salibnya dilakukan karena ada tekanan dari kelompok Muslim, yang mengklaim bahwa kuburan itu akan menjadi kuburan khusus untuk Muslim.

Temuan itu bertentangan dengan klaim dari Muslim setempat yang menyebutkan bahwa pemotongan salib itu dilakukan atas persetujuan keluarga Slamet lewat surat yang ditandatangani isterinya, Maria Sutris Winarni.

Komisi menemukan bahwa surat tersebut diantar ke isteri Slamet dalam format yang sudah jadi dan dibawa oleh tujuh orang dari pihak kelurahan, Polsek, Koramil, dan pengurus kampung.

“Surat ditandatangani istri almarhum. Penjelasan yang diberikan kepada istri almarhum adalah untuk mengatasi isu yang berkembang luas di media sosial,” demikian menurut Agus.

Ia menyatakan, dalam kasus ini telah terjadi pelanggaran, di mana seharusnya aparat negara “melindungi dan membela hak asasi manusia.”

Komisi pun “meminta kepada aparat kepolisian untuk melindungi keluarga korban dari segala bentuk tekanan dan ancaman fisik maupun psikis sehingga tetap dapat hidup berdampingan dengan baik dengan warga yang lain.”

Laporan lain dari pengurus Gereja menyebutkan bahwa warga setempat juga melarang doa bersama di rumah Slamet, sehingga doa terpaksa dilakukan di Gereja Paroki St Paulus Pringgolayan.

Soleh Rahmad Hidayat, Ketua RT setempat mengakui adanya desakan warga terkait pelarangan pemasangan simbol Kristen, seperti salib di kompleks pemakaman.

Ia menambahkan, pelarangan itu sudah menjadi aturan tak tertulis.

“Namanya sudah aturan kalau dilanggar nanti malah jadi konflik,” katanya kepada Tempo.co.

Warga, tambahnya, juga tidak membolehkan ada ibadat dan doa di rumah Slamet.

Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian mengatakan, kejadian ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana nilai-nilai lama yang menjaga kebersamaan bergeser pada nilai-nilai baru yang menjaga kepentingan kelompok sendiri.

“Pergeseran nilai-nilai akan selalu terjadi. Sedihnya, saat ini lebih bergeser ke arah mayoritarianisme, “karena kami mayoritas, maka yang berhak menentukan segalanya adalah kami. Minoritas harus menghormati mayoritas’” katanya.

Halili dari Setara Institute for Democracy and Peace mengatakan, kasus ini menunjukkan adanya pengerasan konservatisme keagamaan hingga di lapisan sosial terbawah.

Ia menyebut, yang terjadi dalam kasus ini adalah pola “penundukkan kepada yang secara kuantitatif sedikit dan secara sosio-politis lemah menggunakan logika kerukunan.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi