UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Makna Natal Sebenarnya Menurut Paus Fransiskus

Desember 21, 2018

Makna Natal Sebenarnya Menurut Paus Fransiskus

Paus Fransiskus memberkati wanita difabel saat audiensi di aula Paulus VI, 19 Desember, di Vatikan. (Vincenzo Pinto/AFP)

Natal tidak akan menjadi bermakna jika orang-orang terperangkap dalam hiruk-pikuk belanja, menyiapkan hadiah dan makanan, sedangkan mereka mengabaikan orang miskin dan melupakan apa sebenarnya makna perayaan natal itu, kata Paus Fransiskus.

“Jika Natal berakhir hanya sebagai liburan tradisional yang indah, di mana segala sesuatu berputar di sekitar kita dan bukan Dia, itu akan menjadi kesempatan yang hilang,” kata Paus pada 19 Desember saat audiensi umum mingguan di ruang audiensi Paulus VI.

“Tolong, janganlah kita membuat Natal duniawi! Janganlah kita mengesampingkan Dia yang dirayakan sama seperti apa yang terjadi pada kelahiran Yesus ketika begitu banyak orang-orangnya sendiri tidak menerimanya,” kata paus.

Paus Fransiskus mendedikasikan khotbahnya untuk menjelaskan makna Natal yang sebenarnya dan jenis “hadiah’ dan kejutan apa yang menyenangkan Tuhan pada hari itu.

Pohon, ornamen dan lampu ada di mana-mana untuk mengingatkan orang-orang akan datangnya hari libur. Iklan serta ‘mesin promosi’ juga mengajak orang-orang untuk bertukar lebih banyak hadiah baru untuk memberi kejutan pada orang lain.

“Tapi apakah ini perayaan yang dikehendaki Tuhan? Natal macam apa yang Dia inginkan, hadiah dan kejutan seperti apa?” tanya paus.

Untuk mencari tahu jawaban akan apa yang diinginkan Tuhan adalah dengan melihat Natal pertama.

Hari kelahiran Yesus adalah hari “penuh kejutan” di mana kehidupan semua orang berubah secara tak terduga, adat istiadat serta rencana menjadi berubah total.  Maria, seorang perawan, akan melahirkan seorang anak, dan Yusuf, suaminya, menghadapi skandal dengan kehamilannya. Tetapi ia mendengarkan Allah dan mengakuinya sebagai istrinya; dan Firman Tuhan datang sebagai seorang bayi yang tidak mampu berbicara.

“Mereka yang menyambut juru selamat dunia bukanlah pejabat setempat, pemimpin atau duta besar, melainkan para gembala sederhana, yang terkejut oleh pewartaan malaikat saat mereka bekerja di malam hari, lalu tanpa menunda bergegas ke sana. Tidak ada satupun orang menduga akan seperti itu,” kata paus.

Tuhan melakukan hal yang tidak terduga, karena dia “menjungkirbalikkan logika dan harapan kita.”

Oleh karena itu, Natal adalah “menyambut kejutan yang berasal dari surga,” kata paus.

Natal memberi makna di era baru, di mana kehidupan tidak direncanakan, tetapi diberikan, di mana seseorang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, sesuai dengan preferensi sendiri, tetapi untuk Tuhan dan dengan Tuhan, karena sejak Natal dan seterusnya, Tuhan adalah Tuhan beserta kita, yang tinggal bersama kita dan berjalan bersama kita. ”

Ini adalah waktunya untuk membiarkan diri kita terguncang oleh kebaruannya yang penuh kejutan, karena Yesus tidak menawarkan kehangatan yang menenangkan dari tungku api, tetapi getaran surgawi yang mengguncang sejarah.

Natal “membalikkan keadaan” karena para pemenangnya adalah kerendahan hati atas arogansi, kesederhanaan atas kelimpahan, keheningan di atas kebisingan, doa atas “waktu saya” dan Tuhan atas ego seseorang, kata paus.

Orang harus memilih untuk mengikuti suara diam Tuhan dalam menghadapi gempuran konsumerisme,  mengundang umat untuk mengambil waktu untuk berdiam diri di depan kandang Natal dan membiarkan diri mereka merasa kagum dan dikejutkan oleh Tuhan.

Tuhan meminta orang-orang untuk berjaga-jaga agar tidak menjadi lemah, terlalu terbebani dengan kesibukan dan menyalahkan semuanya di dunia ketika dia memperingatkan orang-orang agar tidak membiarkan diri mereka diseret oleh dunia.

“Ini akan menjadi Natal jika, seperti Yusuf, kita memberi ruang untuk diam; jika, seperti Maria, kita memberi tahu Tuhan, ‘Inilah aku’; jika, seperti Yesus, kita dekat dengan mereka yang sendirian; jika, seperti para gembala,  meninggalkan kandang domba untuk bisa bersama Yesus,” kata Paus Fransiskus.

“Ini tidak akan menjadi Natal jika kita mencari cahaya dunia yang menyilaukan mata, jika kita mengisi diri dengan hadiah, makan siang dan makan malam, tetapi kita tidak membantu setidaknya satu orang miskin, yang menyerupai Tuhan karena Tuhan datang dalam kondisi miskin pada Natal.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi