UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Myanmar Adakan Kunjungan Natal ke Kamp Pengungsi

Desember 21, 2018

Uskup Myanmar Adakan Kunjungan Natal ke Kamp Pengungsi

Dalam foto yang diambil tahun 2012 ini tampak seorang wanita dari suku Kachin dan seorang anak di kamp pengungsi di provinsi Yunnan, China yang berbatasan dengan Myanmar. (Foto: ucanews.com)

Seorang uskup di negara bagian Kachin, sebuah wilayah yang sedang berkonflik di Myanmar merencanakan kunjungan Natal ke kamp-kamp para warga yang terlantar akibat bentrokan antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

Mgr Raymond Sumlut Gam mengatakan dia ingin memberi dukungan moral kepada para warganya di kamp-kamp pengungsi.

“Saya akan memberikan pesan spiritual dan kesabaran kepada para pengungsi yang rindu untuk kembali ke rumah mereka setelah mencapai kedamaian,” kata Uskup Gam.

Mgr Gam menambahkan bahwa dia ingin menekankan pentingnya ketenangan batin meskipun perdamaian pasca konflik masih tetap sulit diwujudkan.

Dia mengatakan, para IDP prihatin akan keselamatan mereka karena pertempuran yang biasanya meletus sebelum Natal setiap tahun, dengan mortir jatuh di dekat kamp IDP seperti terjadi  pada kesempatan-kesempatan yang sudah terjadi.

“Mereka mendengar ledakan dan tembakan peluru mortir sehingga momen sukacita Natal berubah menjadi kecemasan dan ketakutan,” demikian pernyataan Mgr Gam kepada ucanews.com.

Pada 23 Desember besok, Mgr Gam akan memulai kunjungan pastoral ke tiga paroki di Keuskupan Banmaw termasuk kamp-kamp dekat Laiza, yang berbatasan dengan Cina.

Peperangan yang masih terus terjadi di Negara Bagian Kachin antara Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) dan militer Myanmar memaksa lebih dari 100.000 warga mengungsi ke kamp-kamp IDP.

Perang saudara terus melanda negara bagian utara yang bergunung-gunung dan miring itu sejak Myanmar memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Mayoritas 1,7 juta warga negara bagian Kachin adalah umat Kristen, di antaranya 116.000 orang Katolik.

Penduduk sipil terkena dampak parah akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung dengan lebih dari 74.500 orang mengungsi sementara di 29 kota di Kachin dan negara-negara tetangga Shan antara Januari 2017 sampai 10 Desember 2018, demikian menurut laporan terbaru Kantor PBB untuk urusan pengungsian.

Mgr Gam, yang juga ketua Karuna (Caritas) Myanmar, mengatakan Gereja Katolik memainkan peran utama dalam memberikan bantuan kemanusiaan ke kamp-kamp di tengah kekurangan pendanaan internasional dan pembatasan pengiriman bantuan.

“Keadaan tidak membaik karena kami menghadapi kesulitan untuk memberikan bantuan ke kamp-kamp pengungsi, terutama di daerah-daerah non-pemerintah (yang dikendalikan) sejak tiga tahun lalu,” kata uskup berusia 65 tahun itu.

Dia menambahkan bahwa sejumlah kecil warga dari kamp telah mulai kembali ke desa-desa di mana tidak ada bentrokan antara pasukan pemerintah dan KIA untuk bekerja demi kelangsungan hidup sehari-hari.

Dia tetap optimis meskipun apa yang dia akui akan menjadi proses panjang menuju perdamaian yang abadi

“Saya berharap lebih banyak perundingan akan terus dilakukan pada 2019 di antara para pemangku kepentingan seperti pemerintah, militer dan kelompok bersenjata etnis sebagai hasil dari advokasi perdamaian,” kata uskup.

Dia menyadari para warga etnis, termasuk banyak warga Kachin, kehilangan harapan dalam pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi sebagai akibat dari konflik yang semakin intensif.

“Pemerintah sipil tidak bisa mengontrol penuh atas negara, terutama dalam urusan keamanan dan perbatasan, yang secara langsung dikendalikan oleh militer Myanmar,” kata Mgr Gam.

Pasukan militer Myanmar meningkatkan operasi ofensif di Negara Bagian Kachin pada awal April, meluncurkan serangan terhadap KIA menggunakan artileri berat, helikopter dan jet tempur.

Pemerintah berjanji untuk mengakhiri konflik puluhan tahun, tetapi bentrokan baru telah merusak inisiatif perdamaian itu.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi