UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Konservasi, Pemberdayaan Ekonomi Umat Jadi Prioritas Imam OFM di Timor

Januari 2, 2019

Konservasi, Pemberdayaan Ekonomi Umat Jadi Prioritas Imam OFM di Timor

Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM memegang piagam penghargaan Kalpataru yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Belu pada 27 November

Saat tiba di Pulau Timor pada tahun 2013, Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM, 41, mendapati banyak lahan yang tandus dan akses terhadap air bersih yang sulit.

Ia juga menjadi perihatin ketika mengetahui bahwa banyak umat Katolik lebih memilih meninggalkan kampung halaman mereka untuk menjadi buruh migran. Sebagian lagi  mengadu nasib menjadi buruh kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan.

Pater Kristo – demikian ia biasa disapa – saat ini adalah Pastor Paroki St Fransiskus Assisi Laktutus, Keuskupan Atambua, dekat perbatasan dengan Timor Leste.

Paroki tersebut mempunyai 3.000-an umat, di mana 300 di antaranya menjadi buruh migran, mayoritas di Malaysia.

“Saat tiba di sini, saya penasaran, mengapa masyarakat lebih senang untuk bekerja di kebun orang daripada di kebun sendiri,” katanya kepada ucanews.com.

Kala itu, ia segera menemukan jawaban bahwa faktor ekonomilah yang membuat mereka memutuskan mencari ‘rumput hijau’ di tempat lain.

Sebagian besar Pulau Timor memang gersang, dengan curah hujan yang rendah sepanjang tahun.

Berangkat dari situasi ini, Pater Kristo kemudian menjadikan program konservasi dan pemberdayaan ekonomi sebagai prioritas di parokinya.

Untuk mulai merintis hal ini, ia mengadakan diskusi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah, serta menyampaikan pesan-pesannya dalam khotbah.

Tahun 2014, langkah awal dimulai, yaitu dengan meminta setiap keluarga menanam pohon di depan rumah dan menyediakan lahan khusus di kebun untuk menanam kayu.

“Hutan selama ini dibabat karena mereka menebang pohon untuk membangun rumah,” katanya.

“Saya mewajibkan mereka untuk menanam pohon  sehingga di masa depan mereka akan memiliki stok kayu untuk rumah anak-anak mereka.”

Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM bersama sejumlah anak sekolah sedang bersiap-siap menanam kayu di lahan tandus di Laktutus, Kabupaten Belu

Ia mengerahkan upaya menumbuhkan pohon yang akan menghasilkan kayu untuk bangunan seperti mahoni, trembesi dan sengon.

Pemerintah ikut membantu menyediakan bibit dan sebagian lagi merupakan hasil swadaya masyarakat.

Upayanya diperluas dengan menanam pohon di dekat mata air, seperti jambu air hutan, sebagai solusi terhadap debit air yang terus menurun.

Selain itu, untuk mengembangkan ekonomi, ia mendorong mereka untuk menanam tanaman kopi, komoditas potensial untuk daerah Timor.

Secara keseluruhan, hingga kini 10.000 pohon dan 15.000 tanaman kopi telah dibudidayakan.

 

Tantangan

 

Romo Kristo mengatakan, tantangan utama dalam menjalankan upayanya adalah membangun kesadaran umat.

Ia memang memulai programnya dengan memberi contoh memanfaatkan lahan paroki seluas 6 hektar untuk menanam kopi dan kayu.

Namun, masih saja ada umat yang tidak tertarik.

Ia mengatakan, cukup sulit mengubah pola pikir masyarakat yang umumnya memegang prinsip bahwa pekerjaan harus secara langsung mendatangkan uang, hal yang membuat mereka lebih suka bekerja sebagai buruh tani atau pergi ke luar negeri.

Prinsip demikian, kata dia, sudah sangat lama mereka pegang, ditambah kesadaran yang rendah tentang perlunya melestarikan lingkungan.

Dia juga menyalahkan pemerintah karena terlalu mengandalkan uang untuk menjalankan program-programnya, dan mengkritik beberapa upaya reboisasi hanya sebagai seremonial.

“Sudah ada program reboisasi, tetapi tidak ditindaklanjuti dengan pengawasan,” katanya. “Tidak ada evaluasi juga.”

Di tengah kondisi demikian, Pater Kristo memilih terus-menerus mendekati masyarakat.

“Saya katakan kepada mereka, jika kamu tidak menanam pohon hari ini, anak-anak kamu tidak akan memiliki kayu untuk membangun rumah. Jika kamu tidak merawat mata air, cucu-cucu kamu tidak akan mendapatkan air.”

Upaya Pater Kristo yang konsisten selama beberapa tahun terakhir membuat ia mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah di Kabupaten Belu pada November lalu, sebuah penghargaan yang diberikan kepada para pejuang lingkungan.

Yoanita Mesak, Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Belu mengatakan kepada ucanews.com, apa yang dilakukan Pater Kristo menjadi inspirasi bagi mereka.

“Komitmen yang dia tunjukkan menjadi contoh bagi kami dalam upaya mewujudkan lingkungan yang lestari dan bagaimana menggerakkan masyarakat untuk hal itu,” katanya.

Sejumlah warga di Laktutus sedang menanam pohon, bagian dari program yang dicanangkan Pastor Yohanes Kristoforus Tara OFM

Komitmen iman dan moral

Kepedulian Pater Kristo terhadap lingkungan mulai ia tunjukkan ketika bekerja di bidang advokasi Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan di Jakarta, sebelum ia pindah ke Timor.

Pada tahun 2009, ia memprakarsai pembentukan Forum Pemuda Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda), organisasi mahasiswa dan pemuda yang menentang industri pertambangan – terutama di pulau-pulau kecil seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Imam lulusan sarjana hukum ini juga memimpin demonstrasi dan memprakarsai pertemuan dengan polisi, pejabat pemerintah dan membangun jaringan dengan LSM untuk mengadvokasi masalah-masalah lingkungan hidup.

Ketika ia pindah ke Pulau Timor, ia ikut menentang kehadiran perusahaan tambang mangan PT Soe Makmur Resources di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan bersama penduduk setempat menduduki lokasi perusahaan.

Perusahaan itu memiliki izin untuk mengeksploitasi lahan 4.555 hektar yang meliputi enam desa di dua kecamatan. Pater Kristo mengatakan perusahan itu mengancam sumber kehidupan masyarakat setempat dan bakal memicu keringnya beberapa mata air.

Salah satu dampak dari perlawanan terhadap tambang adalah dengan lahirnya komitmen Gubernur baru NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Pada November lalu, ia menandatangani peraturan gubernur tentang kebijakan moratorium pada semua izin pertambangan di provinsi tersebut.

“Saya ikut mengawal agar moratorium itu benar-benar dilaksanakan” kata Pater Kristo.

Pater Kristo mengatakan, apa yang ia perjuangkan adalah bagian dari upaya menghadirkan pola pembangunan yang tidak merusak lingkungan.

“Ini juga bagian dari pewujudan panggilan Gereja,” katanya.

Merawat lingkungan, tegasnya, adalah bagian integral dari tanggung jawab iman dan moral Kristiani.

 

Buah

 

Hasil dari perjuangan Pater Kristo, kini sudah bisa dirasakan oleh umatnya.

Isto Sury, umat paroki, yang juga Kepala Desa di Laktutus mengatakan, kopi-kopi yang mereka mulai tanam bersama Pater Kristo sudah berbuah.

“Ini memberi harapan kepada kami untuk tidak lagi mencari peluang di tempat lain,” katanya.

“Kini, pikiran kami terbuka,” lanjutnya.

Di balik perjuangannya, Pater Kristo meyakini bahwa umatnya bisa hidup di tanah mereka sendiri.

“Kampung halaman mereka sesungguhnya bisa memberi mereka makan, asal mereka mau berjuang,” katanya.

“Saya selalu bilang ke mereka, stop sudah ke luar negeri, stop sudah menjadi buruh di kebun orang,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi