UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Januari 3, 2019

Gereja Katolik Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Dalam foto yang diambil pada 25 Desember 2018 ini, sejumlah nelayan menjaga perahu mereka yang rusak akibat tsunami di Teluk, sebuah desa di Propinsi Banten. (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Sejumlah kelompok Katolik mulai menyalurkan bantuan untuk para korban tsunami yang menerjang wilayah pesisir di sepanjang Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera pada 22 Desember lalu.

Sedikitnya 437 orang meninggal dunia akibat tsunami yang meluluhlantakkan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang di Propinsi Banten serta Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Tanggamus di Propinsi Lampung tersebut, demikian menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BNPB juga melaporkan bahwa 16 orang hilang, 14.059 orang luka-luka dan 33.721 orang mengungsi akibat tsunami yang dipicu oleh longsor lereng Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi.

Selain itu, BNPB mendata kerusakan terhadap 2.752 rumah, 92 penginapan, 510 perahu, 147 kendaraan, satu dermaga dan beberapa fasilitas umum lainnya.

Koordinator VIVAT International-Indonesia Pastor Paulus Rahmat SVD memimpin sebuah tim relawan dari Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD dan JPIC Kongregasi Suster-Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) – keduanya untuk Regio Jawa – dalam melakukan kunjungan awal ke Kampung Cipining, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, beberapa hari setelah tsunami.

“Ada banyak pengungsi yang datang mengungsi di sana karena rumah mereka yang berada di pesisir pantai sudah hancur. Ada 58 KK (kepala keluarga) yang rumahnya hancur total,” kata Pastor Paulus kepada ucanews.com pada Rabu (2/1).

“Ini baru rapid assessment, observasi. Kami tidak membawa banyak bantuan, kami ingin tahu dulu kondisi di sana seperti apa. Tapi kami membawa beberapa bantuan kecil seperti kompor gas, piring, popok, botol dot untuk bayi, wajan. Konsep waktu itu datang untuk membantu peralatan dapur umum. Ada juga makanan ikan kaleng. Tidak banyak, hanya sebagai tanda perkenalan awal,” lanjutnya.

Ia mengatakan tim itu akan kembali mengunjungi wilayah tersebut minggu depan.

“Kami akan turun lagi minggu depan setelah mendapat data yang cukup. Kami rencana ke sana tanggal 8-10 Januari. Kami fokus pada bantuan selimut dan tikar dan kebutuhan untuk kelompok rentan seperti balita dan lansia (lanjut usia),” katanya.

“Kami juga fokus pada alat kerja pertukangan dan pertanian misalnya gergaji, palu, paku, cangkul. Kami memfasilitasi alat kerja supaya mereka bisa mengerjakan sesuatu dari bahan-bahan yang rusak untuk membangun hunian sementara. Dengan memfasilitasi ini, ini bagian dari healing process supaya mereka tidak jenuh dan buntu pikirannya,” lanjutnya.

Di Propinsi Lampung, Keuskupan Tanjungkarang telah mendirikan posko bantuan dan dapur umum di halaman sebuah gereja stasi yang dilayani oleh Paroki St. Kristoforus di Kabupaten Lampung Selatan sejak 24 Desember lalu.

“Mereka menyalurkan pakaian layak pakai, sembako dan peralatan sholat kepada 400 kepala keluarga yang rumahnya hancur diterjang tsunami,” kata Pastor Wolfram Safari Pr dari Komisi Pengembangan Sosial-Ekonomi (PSE)-Caritas Keukupan Tanjungkarang kepada ucanews.com.

“Setiap hari posko bantuan menyalurkan 1.000 nasi bungkus untuk para korban yang berada di sejumlah tempat pengungsian,” lanjutnya.

Sementara itu, trauma masih menyelimuti para korban termasuk Syahroni, 21.

“Ayah saya meninggal dunia. Waktu itu ayah bersama saya di atas perahu, Ada delapan orang. Kami dalam perjalanan pulang dari sebuah pulau untuk mengantar tamu,” katanya kepadaucanews.com.

Menurut Syahroni, jasad ayahnya ditemukan beberapa jam setelah tsunami.

“Saya masih trauma. Tapi saya hanya berusaha bersabar dan berpasrah,” lanjutnya.

Seorang korban lainnya, Syarip, 47, kehilangan rumah dan saat ini tinggal di rumah saudaranya.

“Rumah semuanya habis. Rumah saya terletak sekitar 50 meter dari bibir pantai,” katanya kepada ucanews.com.

Ia pun mengharapkan bantuan dari pemerintah.

“Yang penting saya bisa tinggal di rumah dengan layak,” lanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi