UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Laporan Inggris Tegur Pemerintah India Terkait Kekerasan Berbasis Agama

Januari 4, 2019

Laporan Inggris Tegur Pemerintah India Terkait Kekerasan Berbasis Agama

Puluhan ribu anggota kelompok garis keras Hindu mengadakan protes untuk menuntut pembangunan sebuah kuil Hindu dan sebuah Masjid dari abad ke-16 Ayodhya dirobohkan. (Foto: Sajjad Hussain/AFP)

Sebuah laporan parlemen Inggris telah mengkritik pemerintah  India karena pihaknya gagal melindungi minoritas-minoritas agama oleh  kelompok garis keras Hindu.

Sebuah laporan oleh  All-Party Parliamentary Group for International Freedom of Religion or Belief  mengatakan kebangkitan ideologi “Hindutva” atau Hindu ekslusif — telah meningkatkan penindasan agama di negara itu.

Laporan tertanggal 31 Desember itu dengan judul ‘Commentary on the Current State of Freedom of Religion or Belief’, mengatakan undang-undang anti-konversi di tujuh negara bagian di India juga digunakan untuk mengancam umat Muslim dan Kristiani.

Laporan itu mengatakan bahwa Perdana Menteri Narendra Modi “akhirnya, mengutuk kekerasan massal terhadap minoritas, tetapi  sebagian besar pejabatnya  tidak  proaktif menangani kekerasan  bermotivasi agama yang meningkat pesat.”

Laporan itu mengatakan situasi “sangat mengkhawatirkan” muncul dari berbagai laporan media bahwa beberapa anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) yang pro-Hindu memiliki hubungan dekat dengan kelompok garis keras Hindu Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS).

Didirikan tahun 1925, RSS mengacu pada visinya dari campuran legenda Hindu dan sejarah India kuno. Ia mengklaim bahwa India adalah tanah Hindu dan minoritas agama harus menerima supremasi Hindu jika mereka ingin tinggal di negara itu.

Para aktivist HAM sepakat dengan laporan tersebut. Mereka mengatakan bahwa situasi memburuk sejak BJP berkuasa tahun 2014, yang mana  kelompok garis keras Hindu melihat kemenangan partai itu sebagai mandat untuk mendorong tujuan mereka menjadikan India sebagai negara  Hindu.

Adil Hussain, seorang aktivis HAM di New Delhi, mengatakan ia khawatir bahwa kekerasan itu menargetkan minoritas agama akan hanya bertambah buruk.

“Sekarang dengan pemilihan umum yang dijadwalkan pada April tahun ini, ada kekhawatiran bahwa kekerasan agama akan meningkat,” kata Hussain.

Dia mengutip pertemuan kelompok-kelompok Hindu baru-baru ini yang mendorong pembangunan sebuah kuil Hindu di Ayodhya, di Uttar Pradesh di mana kelompok garis keras Hindu menghancurkan sebuah masjid yang dibangun pada  abad ke-16 di lokasi yang sama.

“Para pemimpin kelompok nasionalis telah secara terbuka meminta umat Hindu untuk melahirkan  lebih banyak anak dan melatih mereka dengan persenjataan untuk memerangi umat Islam,” kata Adil. “Racun ini menyebar ke seluruh negeri dan membuat kaum minoritas dalam kesulitan.”

A.C. Michael, tokoh Kristen, mengatakan kepada ucanews.com bahwa banyak laporan mengungkapkan ada pola yang jelas tentang meningkatnya intoleransi agama terhadap orang-orang Kristen di India.

Mereka yang terlibat dalam serangan anti-Kristen memiliki tingkat impunitas tertentu karena dukungan secara diam-diam dari para pejabat pemerintah dan polisi, kata Michael.

Sebuah laporan dari  ADF-India, sebuah organisasi yang membela hak-hak orang Kristen di negara itu, menyatakan bahwa ada 219 insiden  kekerasan Hindu yang dilaporkan menentang orang-orang Kristen, kebanyakan perempuan dan anak-anak, dari Januari hingga Oktober 2018.

“Meskipun ada ratusan insiden anti-Kristen, polisi mendaftarkan kejahatan hanya 12 kasus,” kata Michael. “Yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa para pemimpin politik di negara itu bersikap  diam atas insiden itu dan belum mengecam  satu pun.”

Ishmail Ahmad, seorang analis politik di New Delhi, mengatakan ucanews.com bahwa berbagai survei menyatakan bahwa kaum minoritas — khususnya Muslim dan Kristen — tidak setuju dengan cara pemerintahan BJP.

Sebagian besar penduduk, katanya, tidak ingin BJP mempertahankan kekuasaan di India.

India memiliki sekitar 170 juta Muslim dari  1,2 miliar populasi di negara itu, menurut sensus resmi. Sekitar  28 juta orang Kristen  di  negara itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi