UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Makam Imam Ordo Dominikan di Flores Jadi Tempat Wisata Rohani

Januari 7, 2019

Makam Imam Ordo Dominikan di Flores Jadi Tempat Wisata Rohani

Uskup Agung Ende Mgr Vinsentius Sensi Potokota memberkati makam misionaris asal Portugal, Pastor Hieronimo Mascarenhas, OP pada 26 Desember 2018 di Kampung Tonggo, Flores, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Markus Makur/ucanews.com)

Orang-orang Kristen dan Muslim di desa Tonggo di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur menganggap 26 Desember 2018 sebagai hari yang memiliki makna sejarah yang luar biasa.

Karena pada saat itu Uskup Agung Ende Mgr Vinsentius Sensi Potokota meresmikan makam Pastor Hieronimo Mascarenhas, OP.

Pastor Mascarenhas adalah seorang misionaris Portugis yang menjadi martir sekitar tahun 1601-2 di wilayah Kampung Tonggo di mana saat mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Lokasi makam berjarak sekitar 300 meter dari sebuah masjid. Karena itu upacara peresmian pada 26 Desember menjadi kesempatan bagi umat Katolik dan Muslim untuk saling belajar dan berjuang untuk perdamaian dan toleransi.

Keuskupan agung mempromosikan makam yang dibangun kembali itu sebagai tujuan ziarah dan pariwisata.

Uskup Agung Potokota mengatakan martir menjadi inspirasi bagi umat Katolik dan makam ini akan menjadi pengingat kemartiran Pastor Mascarenhas yang menjadi sumber inspirasi bagi umat.

“Dia meninggalkan rumahnya di Portugal dan datang ke tempat kita dan akhirnya terbunuh ketika dia menyebarkan kabar baik,” kata Mgr Sensi.

Pastor Philippus Tule, seorang antropolog dan rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, yang mendampingi Uskup Agung Potokota, mengatakan ia telah mempelajari kemartiran Pastor Mascarenhas.

Imam misionaris itu diduga terbunuh ketika terjadi perang antara orang-orang dari Sulawesi Selatan yang sedang dalam sebuah ekspedisi ke Indonesia timur, termasuk Solor dan Flores.

Ekspedisi itu menyerang tentara Portugis di daerah itu, di mana ada misionaris Ordo Dominikan hingga tahun 1750.

Mascarenhas dimakamkan di desa Tonggo, yang sekarang menjadi rumah bagi banyak nelayan Muslim. “Tetapi bukan Muslim yang membunuh imam itu karena tidak ada Muslim di daerah itu pada waktu itu,” kata Pastor Tule.

Dia bahkan mengatakan peresmian makam itu dilakukan berkat kerja sama antara umat Katolik dan Muslim yang ingin membina hubungan dan membangun masa depan yang lebih baik.

“Menjadikannya sebagai situs wisata religius tentu akan bermanfaat bagi umat Kristen dan Muslim,” kata Pastor Tule.

Sejumlah fasilitas juga akan dibangun seperti penginapan dan restoran. “Ini akan menyatukan orang-orang dari agama yang berbeda,” kata Pastor Tule.

Umat Katolik Paroki Kristus Raja di Kab. Nagekeo menghadiri upacara peresmian makam Pastor Hieronimo Mascarenhas, OP di Kampung Tonggo pada 26 Des. 2018 . (Foto: Markus Makur/ucanews.com)

 

Anwar Pua Geno, seorang pemimpin Muslim dan ketua DPRD Propinsi Nusa Tenggara Timur, meminta umat Katolik untuk menjaga situs itu sebagai tempat suci.

“Jadikan tempat ini nyaman bagi peziarah yang datang berkunjung,” katanya. Dia juga meminta sesama Muslim untuk membantu menjaga makam itu.

Setelah memberkati makam itu, Geno mengundang Uskup Agung Potokota, imam, biarawati, dan ratusan peserta Katolik untuk menikmati makanan yang ditawarkan oleh umat Muslim di Masjid Baiturrahman, Tonggo.

Dia juga akan mendorong pemerintah daerah setempat untuk mempromosikan situs tersebut sehingga dapat menarik lebih banyak wisatawan.

“Tempat ini akan menguntungkan masyarakat setempat,” katanya.

Tokoh masyarakat Muslim lainnya, Ibrahim Yusuf, mengatakan bahwa situs itu akan memainkan peran penting tidak hanya sebagai tujuan wisata tetapi juga ikon persaudaraan di antara para penganut agama baik lokal maupun nasional.

“Karena masyarakat Indonesia menghadapi fenomena meningkatnya radikalisme, kita harus terus menunjukkan toleransi dan bekerja sama untuk mencapai kebaikan bersama,” katanya.

Gregorius “Gories” Mere, salah satu staf khusus presiden dan mantan pemimpin Densus 88, mengingatkan orang-orang dari agama yang berbeda di pulau itu untuk menjaga sikap persaudaraan dan toleransi yang diturunkan dari generasi ke generasi.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi