UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seruan Merangkul Perempuan Sebagai Pemimpin Gereja 

Januari 7, 2019

Seruan  Merangkul Perempuan Sebagai Pemimpin Gereja 

Paus Fransiskus bersama sekelompok biarawati pada audiensi umum mingguan pada 24 Oktober 2018 di Lapangan St. Petrus, Vatikan. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Gereja Katolik  perlu memperlakukan kaum perempuan secara setara, menghargai kontribusi dan bakat mereka di semua tingkat kehidupan  menggereja, tulis editor surat kabar Vatikan bagian wanita dalam Gereja.

Dalam suplemen  “Women-Church-World” untuk L’Osservatore Romano, yang diterbitkan pada 2 Januari, editor Lucetta Scaraffia menulis, “Sebuah revolusi tidak perlu untuk memberikan kaum perempuan tempat yang  layak dalam Gereja; tidak perlu mengakui mereka sebagai imam.”

“Faktanya,” tulisnya, “semuanya perlu sedikit keberanian dan kemampuan profetis untuk melihat ke masa depan dengan mata positif.”

Woman-Church-World edisi Januari itu dikhususkan  untuk sejumlah artikel yang melihat bagaimana  lebih banyak yang dapat dilakukan dalam Gereja Katolik agar kaum perempuan  setara dan  memasukkan mereka ke dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di semua tingkat kehidupan menggereja, tanpa mengubah hukum atau disiplin Gereja.

Perhatian utama dari artikel-artikel tersebut adalah kurangnya investasi dalam mendidik perempuan, termasuk biarawati, untuk kepemimpinan dalam Gereja dan tidak berpikir untuk memasukkan mereka dalam diskusi dan perencanaan pertemuan dari tingkat paroki hingga  ke Vatikan.

Hukum Kanonik 1983 membuka bagi semua umat awam, termasuk perempuan, “banyak kemungkinan untuk partisipasi secara institusional,” tetapi Scaraffia menulis, “Hambatan hanya terletak pada penolakan banyak orang untuk membuat kesetaraan nyata yang sudah diakui dan diterima dalam teori.”

Tidak ada kendala hukum bagi wanita yang dikonsultasikan oleh paus sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mereformasi Kuria Roma, katanya, dan tidak ada alasan seorang wanita tidak bisa berada di antara orang-orang yang berbicara dalam pertemuan pra-konklaf para kardinal tentang kebutuhan Gereja sebelum mereka memproses ke dalam Kapel Sistine untuk memilih seorang paus baru.

Scaraffia berpendapat bahwa Vatikan harus bergantung pada organisasi-organisasi seperti International Union of Superiors General perempuan untuk saran dan masukan daripada  “praktik hierarki saat ini dalam memilih perempuan secara individu. Dengan cara itu, seseorang dapat menghindari hubungan paternalistik dengan  religius wanita dan seleksi yang berisiko memberi hadiah bukan yang paling kompeten, tetapi yang paling taat.”

“Jika seseorang benar-benar ingin berurusan dengan klerikalisme,” katanya, “seseorang harus memulai dari sana, dengan para  religius wanita.

Dia menggambarkan sebagai sebuah pendekatan “daun ara” menunjuk satu atau dua  wanita ke posisi kepemimpinan tingkat menengah di beberapa kantor Vatikan dan digunakan sebagai contoh fakta bahwa sementara wanita membuat dua pertiga dari religius wanita di dunia, ada hanya seorang wakil menteri wanita  di Kongregasi Tareka Hidup Bakti dan Hidup Kerasulan.

Banyak  religius wanita lainnya melakukan pekerjaan yang hampir tersembunyi di Vatikan, termasuk  menjaga rumah  para kardinal, melakukan pekerjaan kesekretariatan.

Women-Church-World edisi Januari juga memuat artikel pendek tentang biara Benediktin Fahr, Swiss, yang menarik perhatian selama Sinode Uskup sedunia pada Oktober.

Para suster membagikan foto dari 15 anggota mereka yang mengenakan pakaian religius mereka berwarna panjang dan memegang poster: “Votes for Catholic Women,” yang merupakan bagian dari kampanye yang menyerukan agar perempuan berada di antara anggota voting dalam sinode.

“Kami perempuan adalah bagian dari Gereja  dan oleh karena itu kami ingin suara kami didengar dan memberikan kontribusi kami,” kata Pemimpin Tareka Irene Gassmann kepada L’Osservatore.

Sebanyak 20 suster Fahr, katanya, telah merenungkan selama bertahun-tahun tentang peran perempuan dalam Gereja di kalangan para pemimpin yang mengadakan ziarah ke Roma untuk menarik perhatian perlunya lebih banyak promosi keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan Gereja dan membuat keputusan.

 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi