UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja di Vietnam Melawan Praktek Perampasan Lahan 

Januari 8, 2019

Gereja di Vietnam Melawan Praktek Perampasan Lahan 

Uskup Emeritus Michael Hoang Duc Oanch (berbaju hitam), Pastor Vincent Pham Trung Thanh CSsR (berbaju putih) dan warga lokal lokal berkumpul di tengah reruntuhan rumah mereka untuk berdoa di hadapan Patung Bunda Maria pada 6 Januari. (Foto: Pastor Le Ngoc Thanh)

Seorang uskup emeritus dan para imam di Vietnam meminta agar warga yang digusur dari lahan mereka terus terlibat dalam perjuangan yang lebih masif demi terwujudnya keadilan di tengah masyarakat.

Pada 4 Januari, ratusan polisi dan pejabat pemerintah merusak rumah-rumah para petani di atas lahan lima hektar di Distrik Tan Binh, Vietnam bagian selatan.

Sekitar belasan orang ditahan setelah jalan yang mengarah ke lokasi lahan itu diblokir

Salah seorang pria dilaporkan berusaha menghadang aparat yang sedang menghancurkan rumahnya dengan membaringkan diri di hadapan alat berat.

Banyak warga lokal berkumpul di depan Patung Bunda Maria yang dekat dengan lokasi dan para imam mengunjungi para korban penggusuran ini.

Aparat berwewenang menuding masyakarat setempat – yang bercocok tanam di lahan itu selama 65 tahun – membangun rumah secara ilehal di lahah yang hendak dipakai duntuk pembangunan gedung sekolah dan fasilitas publik lainnya.

Pemerintah mengumumkan pada awal Januari bahwa mereka akan menghancurkan 84 rumah.

Pada 6 Januari, Uskup Emeritus Michael Hong Duc Oanh dari Kontum dan Pastor Vincent Pham Trung Thanh CSsR mengunjungi para korban yang merupakan umat Pariki Loc Hung.

Para koban mengatakan kepada keduanya bahwa penggusuran berlangsung brutal.

“Semoga Tuhan memberkati kalian,” kata Uskup Oanh kepada mereka.

“Kalian sedang berjuang tidak hanya untuk lahan kalian tetapi juga demi keadilan dan keberanatan yang mesti dijunjung tinggi di negara kita,” katanya.

Ia juga mendesak mereka untuk “bertindak layaknya anak-anak Allah.”

Uskup Emeritus Oanh, yang terkenal dengan keberaniannya melawan pelanggaran kebebasan beragama dan hak asasi manusia oleh pemerintah memimpin warga menyanyikan pujian dan berdoa di depan Gua Maria. Ia juga memberikan kepada mereka permen.

Pastor Thanh mengatakan warga setempat sedang mencari kebenaran dan keadilan seperti “tiga orang majus dari timur” yang datang untuk menghormati bayi Yesus.

Pastor Thanh mengatakan ia dihentikan oleh arapat keamanan dan diantar kembali ke biaranya ketika ia berupaya mengunjungi para korban setelah penggusuran pada 4 Januari.

Warga lokal mengatakan, mereka memprotes keras langkah pemerintah yang mengusir mereka dari lahan tempat di mana mereka menanam sayur-sayuran untuk nafkah mereka sejak 1954 ketika gereja setempat menawarkan kepada mereka lahan itu setelah mereka pindah dari Vietnam bagian utara.

Mereka mengatakan, mereka telah memanfaatkan lahan itu tanpa konflik dengan siapapun dan sebelumnya pemerintah tidak pernah menyatakan bahwa itu adalah tanahnegara.

Pada 2001, aparat pemerintah secara lisan menginformasikan kepada mereka bahwa pementah akan mengambil alih lahan itu.

Mereka mengatakan bahwa mereka menuntut pemerintah untuk memberi mereka hak kepemilikan, namun hal itu tidak pernah dikabulkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, mereka tidak bisa lagi menanam di lahan itu karena curah hujan yang tinggi.

Mereka kemudian mendiriakan rumah sementara untuk bisa mendapatkan uang dengan cara menyewakannya.

“Kami terus berkumpul untuk berdoa kepada Bunda Maria agar melindungi kami dan harta benda kami,” kata seorang perempuan.

“Kami siap untuk mati di tanah kami sendiri larena kami telah menumpahkan air mata dan darah di lahan ini dari generasi ke generasi.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi