UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Ulama Mengecam Radikalisme di Pakistan

Januari 9, 2019

Para Ulama Mengecam Radikalisme di Pakistan

Para aktivis Islam memukuli patung yang mewakili Asia Bibi - seorang wanita Katolik Pakistan yang dihukum mati namun dibebaskan setelah 8 tahun dipenjara karena penistaan agama - salam sebuah aksi protes di Karachi pada 21 November 2018. (Foto oleh Asif Hassan / AFP)

Lebih dari 500 ulama Muslim berkumpul di kota Islamabad, Pakistan, awal pekan ini untuk mengecam terorisme dan radikalisme.

Para ulama yang menghadiri Konferensi Seerat-i-Rehmatul Aalameen pada 6 Januari mengeluarkan Deklarasi Islamabad yang berisi 7 poin yang sebagian mengutuk pembunuhan yang dilakukan “dengan dalih keyakinan agama.” Tindakan seperti itu mereka katakan bertentangan dengan ajaran Islam.

Juga termasuk dalam deklarasi itu adalah pernyataan bahwa kelompok sektarian Islam mana pun tidak dapat dinyatakan sebagai kafir.

“Setiap Muslim atau non-Muslim tidak bisa dinyatakan ditakdirkan mati di luar hukum,” kata pernyataan itu.

“Tidak seorang pun – Muslim atau non-Muslim – dapat dinyatakan dihukum mati. Hanya pengadilan yang bisa menjatuhkan hukuman mati,” katanya.

Deklarasi tersebut juga mengakui bahwa Pakistan adalah negara multi-etnis dan multi-agama. Juga dinyatakan bahwa kewajiban pemerintah adalah untuk secara tegas menangani mereka yang mengancam tempat-tempat suci non-Muslim.

Dokumen itu secara khusus menyebutkan seorang ibu Katolik, Asia Bibi, yang dibebaskan dari tuduhan penistaan pada 30 Oktober 2018.

Pembebasan Bibi mengakibatkan kelompok garis keras Islam turun ke jalan sebagai protes akhir tahun lalu. Pemrotes dari Tehreek-i-Labbaik Pakistan (TLP) mengatakan kepala pengadilan negara itu sekarang “layak untuk dibunuh” dan menyerukan pemberontakan terhadap kepala militer negara itu setelah pembebasan Bibi.

Dua bulan lalu, polisi Lahore menangkap pemimpin TLP Khadim Hussain Rizvi dan memasukkannya ke “tahanan perlindungan.”

Moulana Tahir Ashrafi, ketua Dewan Ulama Pakistan (PUC) mengatakan kepada ucanews.com bahwa tidak ada sekte atau ulama kebal hukum.

“Merekalah yang menyebabkan orang-orang menghubungkan terorisme dengan Islam,” kata Ashrafi.

“Sekarang tentara dan pemerintah berada di halaman yang sama, dan kondisinya optimal untuk menyebarkan toleransi di masyarakat.”

Ashrafi, yang telah memimpin PUC selama lebih dari lima tahun, menggambarkan deklarasi tersebut sebagai keberhasilan besar.

“Kami mencoba mengeluarkan deklarasi serupa pada tahun 2002 tetapi pemerintah pada waktu itu mengabaikan upaya semacam itu. Orang-orang takut berbicara tentang harmoni antara sekte dan agama lain,” katanya.

Pastor James Channan dari Ordo Dominikan, koordinator regional United Religions Initiative Pakistan, menyambut baik deklarasi itu.

“Prakarsa semacam itu meningkatkan rasa aman dan perlindungan di antara komunitas Kristen,” kata Pastor Channan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi